
Sudah tiga hari keadaan Dio kian membaik, dan akupun harus rela meluangkan waktu untuk bolak-balik dari perusahaan dan rumah sakit. Dio sebenarnya sudah melarangku untuk membantu merawatnya, tapi semua kutepis sebab aku tak mau leher digorok oleh kemarahan orang tua, yang katanya diri ini harus benar-benar mengurus calon mantunya.
"Belum beneran jadi menantu saja Dio sudah diperhatiin dan dimanja, apalagi kalau sudah jadi pak suami, apa jangan-jangan diri ini bakalan dibunuh oleh orang tua jika membantah suami, heeeh ... nasib ... nasib," Keluh kesahku saat mengunjungi Dio yang tengah terpejam matanya.
Joan kini telah diburu oleh pihak kepolisian akibat kasus penculikanku. Sayang seribu sayang Joan kini tidak bisa ditangkap, sebab dengar-dengar katanya habis melakukan penusukan terhadap Dio, Joan telah pergi meninggalkan kota ini. Sebenarnya aku tidak ada dendam dan berniatan untuk menjebloskan Joan ke penjara, sebab bagiku Joan tak salah atas semuanya. Sakit hati dan dendam telah mengrogoti hatinya untuk menyakitiku, sehingga tanpa waras lagi Joan berani berbuat senekat itu.
Thuek, kepalaku tiba-tiba jatuh mendadak, akibat mata yang tak tahan lagi untuk terpejam.
Ceklek, pintu telah terbuka yang menandakan ada tamu yang sedang masuk.
Aku sedikit tersentak kaget siapa yang datang didepanku sekarang, yang terlihat dia begitu sedikit acak-acakkan dengan wajah ditutup masker dan topi.
"Siapa kamu? Kenapa bisa masuk kesini, tanpa permisi?" tanyaku yang kini mencoba mendekat ke arah Dio.
Dengan rasa cemas kini tangan Dio secepatnya kugoyang-goyangkan untuk bangun, sebab takut atas melihat siapakah yang datang karena terasa sekali perasaanku tak enak, yang kelihatannya diri ini mengenal orang didepanku sekarang ini. Dio akhirnya bangun juga, setelah mendadak kubangunkan.
"Heeeh!" sayu-sayu Dio belum sadar dari bangun tidur.
"Ada apa?" tanya Dio.
"Itu ... tuh?" tunjukku ke arah orang yang baru saja datang masuk.
__ADS_1
Kini wajah Dio mengekpresikan wajah heran, yang langsung saja bangkit dari pembaringan untuk berdiri.
"Siapa kamu?" tanya Dio.
"Ini aku Dilla," jawabnya sambil membuka masker.
Mata terbelalak seketika. Tidak menyangka jika dia nekat menemui kami. Sudah salah dan diburu, tapi nyalinya besar juga jika ingin membuat masalah lagi dengan kami.
"Haaaiiist kamu? Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Dio lagi, dengan amarah mulai hadir setelah melihat kedatangan Joan.
"Aku ingin berbicara pada kalian sebentar, aku mohon ya ... ya!" pinta Joan dengan tangan bertangkup didada.
Joan melihat kebawah dengan lesu. Wajah muram dan sedikit tidak terawat.
"Kedatanganku ke sini bukan cari gara-gara, tapi-?" Suara Joan tertahan dengan kepala tertunduk.
"Tapi apa?" Emosi jiwa Dio bertanya.
Dio tidak sabar. Kalau tidak terluka pasti Joan akan babak belur. Saat ingin turun, mencekal tangannya agar diam ditempat.
"Tapi aku sekarang ini ingin meminta maaf kepada kalian yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin. Sungguh, itu semua diluar kendaliku, yang seakan-akan telah buta atas kekhilafan cinta. Padahal aku sangat mencintai Dilla, tapi bodohnya telah melukai dan berhasil menakutinya," jelas Joan penuh penyesalan dengan kepalanya kini sudah terangkat menatap kami.
__ADS_1
"Lha terus?" ujar Dio.
"Aku ingin kalian mencabut atas laporan penculikan yang mengatas namakan diriku. Aku benar-venar ingin kalian mencabut itu, sebab sudah lelah dan tersiksa atas kejaran pihak kepolisian yang ingin menangkapku. Jadi sekarang begitu menyesal dan ingin minta maaf kepada kalian berdua. Boleh dibilang ngin berdamai secara baik-baik," pinta Joan.
"Tak semudah itu kamu bisa meminta pada kami. Kamu juga harus menuruti semua permintaan kami dulu dengan cara menandatangani semua perjanjian perdamaian, gimana!" tawar Dio.
Tangan lengan Dio sebelah kanan sudah kucengkram kuat-kuat bergoyang-goyang, saat kaget atas keputusan Dio barusan, dimana aku kini tengah bersembunyi dibelakangnya.
"Dio jangan," ucapku pelan berbisik-bisik dekat telinga Dio.
"Kamu tenang saja, Non. Aku tahu kalau Joan kali ini tulus meminta maaf dan benar-benar menyesal pada kita. Kelihatan sekali kalau Joan sekarang ketakutan sekali jika akan dijebloskan dipenjara," jawab Dio berbalik berbicara pelan.
"Baiklah, ini adalah keputusanmu. Jadi jangan salahkan aku suatu saat nanti jika Joan kembali berulah," Kepasrahanku menjawab.
"Siip."
"Gimana?" tanya Dio lagi.
"Baiklah, aku menyetujuinya. Asalkan aku bisa bebas dan kalian mau memaafkanku," jawab Joan menyetujui pulak.
"Oke, berarti kita sepakat!" jawab Dio sambil menjabat tangan Joan.
__ADS_1
Hati gembira sekali saat Dio mengambil keputusan bisa memaafkan Joan dengan legowonya.