
Dada rasanya terasa sesak sekali, saat kata-kata Reyhan begitu mengema serta terngiang-ngiang ditelinga. Mungkin benar adanya, jika yang dikatakan Reyhan itu adalah kenyataan, bahwa aku tak patut mendapatkan putri dari khayangan, yang cantik jelita bermandikan harta seperti Dilla istriku.
Tak semua rasa bahagia harus terukur oleh harta, namun apalah daya disaat diri ini adalah orang miskin, yang selalu saja dipandang rendah dengan sebelah mata.
"Aaah, apakah aku memang sebodoh ini menerima pernikahan dengan orang kalangan atas? Apakah aku terlalu buta akan cinta, sehingga salah memilih pasangan yang punya segala-galanya? Apakah aku memang tidak pantas menjadi suami Dilla? Apakah aku terlalu dikuasai oleh nafsu cinta, yang telah mempermalukan keluarga Dilla tadi?" rancau hati yang terus bertanya-tanya dalam kebimbangan.
Aku memang sedikit tak waras akan kegilaan cinta ini, akibat telah mencintai majikan sendiri. Inilah namanya cerita kisah orang miskin yang dapat rezeki nomplok disiang bolong, hingga tak sengaja mendapatkan permata yang indah, yang telah jatuh dalam pelukannya yaitu Dilla istriku.
"Dio?" panggil Dilla secara halus dari belakang.
"Iya, sayang!" jawabku lebih halus daripadanya.
Ikutan duduk diemperan gedung. Sikapnya yang dulu manja dan selalu jijik, sekarang berubah tak malu mengikuti gaya orang biasa termasuk duduknya kini.
"Kamu jangan berpikir aneh-aneh lagi atas perkataan Reyhan tadi. Dia itu dari dulu selalu pembuat masalah. Aku paham sekali apa yang kamu rasakan sekarang, tapi yang jelas kalau bisa kamu ngak usah terlalu dalam memikirkan kata-kata Reyhan yang menyakitkan itu. Aku sangat mencintaimu melebihi apapun, jadi jangan pikirkan lagi ucapan itu. Di dalam tadi aku sudah bilang bahwa cinta bukanlah diukur oleh harta, tapi ketulusan hatilah yang bisa mempersatukan hati kita yang awal-awalnya tidak ada rasa cinta. Selamanya hatimu akan jadi milikku, begitu pula dengan punyaku. Jadi jangan tak enak hati atas apa yang barusan terjadi, cuuuup!" ucap Dilla menenangkanku dengan cara memberikan sebuah kecupan dipipi kanan, yang disertai oleh genggaman erat tangannya yang telah memegang tanganku.
"Heeeeh, iya sayang. Maafkan aku juga, yang mungkin terlalu terbawa oleh emosi, akibat boleh dibilang aku sedikit agak marah dan tersayat kekecewaan saja, atas kata-kata Reyhan tadi," ungkapan hati kukeluarkan.
"Makasih Dio. Aku selamanya tak akan pernah membuat kamu kecewa, sebab aku sangat mencintaimu. Tak payah dipikirkan lagi masalah harta atau apa 'kek. Kamu tahu sendiri kalau Reyhan itu iri dan tak terima saja kalau kita sudah menikah. Hhhh, kalau begitu kita pulang saja, daripada lama-lama disini bikin gerah, mood hilang dan emosi saja!" pinta Dilla dengan cara sudah mengulurkan tangan.
Berdiri dan mengajak. Memandang sejenak wajah teduh itu. Anugerah yang tak terkira. Bagaikan langit dan bumi status kami, karena takdir bisa bersatu, akur, membutuhkan, tidak bisa lepas, saling menerima kekurangan satu sama yang lainnya, dan saling terkait.
"Tapi acara pestanya belum selesai," ucapku berusaha menolak sebab tak enak hati.
"Aaah, biarkan saja. 'Kan ada Papa dan Mama yang mewakili. Kita senang-senang mojok berdua aja yuk, gimana?" ajak Dilla.
"Maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
Mata memicing. Mengajak yang jarang dilakukan pasangan wanita setelah menikah. Kebanyakan akan ada orang ketiga baik anak ataupun keluarga.
__ADS_1
"Ayo ikut saja! Jangan banyak tanya lagi," jawabnya yang sudah menarik tanganku.
"Heeh, oklah."
Akhirnya dengan tepaksa aku menuruti saja atas ajakan Dilla. Pikiran yang kacau hilang seketika, saat istri telah berhasil menenangkan semua kegundahan hati yang sempat melanda.
Kabur sebentar. Walau pakaian masih acara pesta, tapi tak menyurutkan niat kami untuk tetap pergi. Walau belum tahu mau diajak kemana, tetap ngikut saja sebab tahu kalau Dilla mengajak ke tempat yang teka mengecewakan.
"Memang mau ke mana sih kita?"
Panasaran saat mobil dia lajukan di gang sempit. Perlahan-lahan dia menyetir. Takut saja jika ngebut dikit, mobil bakalan lecet akibat jalanan sempit.
"Nanti kamu juga akan tahu."
"Ok, tapi kamu bukan mau menculikku 'kan?"
"Kan aku orang ganteng, wajar jika kamu mau menculik akibat tergila-gila. Kalau menurutku sangat beruntung sih sebab bisa melakukan semua hal, kecuali-?
"Hadeh, percaya diri amat jadi orang. Kecuali apaan? Kalau ngomong jangan selalu dipotong dan bikin penasaran orang,"
"Hahaha, maksudnya kecuali diranjang. Biasalah baru nikah, belum pandai dan ahlinya."
"Hihihi, aku memakluminya kok. Sebab apa ... apa?"
"Hah, apa yang apa? Jangan bikin penasaran?"
"Sebab kamu masih bocil. Hahahahahah."
"Dih, ejek teruuuussss. Bocil begini, yang penting ganteng dan kuat. Kamu sudah merasakan."
__ADS_1
"Hhihihi. Iya ... ya, bocil Dilla memang tampan. Merasakan? Kalau tidak dimulai duluan, kebanyakan groginya kamu itu."
"Hhh, kalah lagi dah. Rahasia buka terus."
"Hihihi, maaflah. Habisnya suka ketawa sendiri, kalau ingat kamu terlalu polos."
"Mulai sekarang ngak akan lagi. Google adalah guruku, maka harus gercep belajar, apalagi tentang ilmu ngajak bergelut dikasur biar kamunya kalah itu gimana."
"Dih, dasar bocil. Sok pandai saja."
"Hahaha, harus pandai melebihi kamu agar tidak diejek terus."
Akhirnya laju mobil mulai berhenti. Ada sebuah gedung yang sepertinya sudah terbengkalai, namun telah disulap sedimikian rupa menjadi wahana kunjungan para muda-mudi mojok.
"Gimana? Kamu suka ngak?" tanya Dilla saat kami sudah sampai tujuan.
"Waaaaah, aku suka ... aku suka. Ini mah pemandangan yang cantik saat dimalam hari. Oh ya, kamu kok tahu tempat kayak beginian?" jawabku terkagum-kagum saat kami sedang diatas gedung hotel milik keluarga Dilla.
"Ya tahulah, Dilla gitu loh. Baguslah kalau kamu suka, huuuuuufff!" Helaan nafas panjang milik Dilla, akibat merasakan suasana nyaman dari atas gedung, dengan angin sepoi-sepoi yang terasa dingin.
Tanpa ragu lagi saat Dilla merentangkan tangan dan memejamkan mata menikmati keindahan suasana malam, langsung saja kupeluk tubuhnya dari belakang dengan menyandarkan kepala dibahunya. Rasanya tidak ingin lepas saja dari suasana ini.
"Makasih ya, sayang! Sebab telah membawaku kesini," ujarku mesra.
"Iya."
"Aku sungguh manusia tak berguna, tidak bisa memberikan apa-apa padamu," ungkapku merasa tak enak hati.
"Kamu ngomongya kok gitu! Aku tak ingin sesuatu yang lebih dari dirimu, kecuali cinta dalam hatimu. Kamu memberikan hatimu saja, itu sangatlah cukup untukku," jelasnya yang kini sudah berbalik badan, dengan kedua tangan telah terlingkar dileherku.
Hidung digesek-gesek dikepunyaanku. Sikapnya yang manja lagi. Senyuman kami terus merekah. Makin kupeluk erat dia.
__ADS_1
Banyak orang yang datang, namun kami memilih dilantai atas sekali, biar puas menikmati pemandangan