
Langkahnya semakin diperhatikan sangat gontai. Mau bertanya takut malah tersinggung. Lagian tangan sedang kewalahan membawa koper yang berat, sehinggga harus cepat sampai tempat favorit kami.
Heeeeh, suara hembusan Dilla terasa berat saat kami sudah masuk kamar.
"Kenapa, sayang? Kok kamu terasa berat sekali, apa ada yang sedang dipikirkan?" tanyaku yang kini sudah duduk dikasur saling berhadapan dengan istri.
"Aku sedikit kesal saja sama papa yang menaruh kamu di perusahaannya. Kenapa sih ngak berunding dulu sama aku, main taruh sembarangan saja," jawab istri.
Dia kelihatan tidak terima. Mungkin ada alasan tersendiri, kenapa kami harus terpisah dalam kerja. Mertua lebih tahu dan berpegalaman dari kami.
"Ngak usah kesal begitu. Mungkin papa ada maksud lain, diriku sampai ditempatkan diperusahaan beliau."
"Maksud apaan, coba? Awas, harus jaga pandangan?"
Mulai merasa khawatir. Wajah tampan, ternyata bikin orang tidak rela sembarangan juga. Takut benar kalau melirik wanita lain.
"Hehehe. Kamu ngak usah khawatir, sayang. Hatiku selamanya hanya untukmu, tiada orang lain yang bisa menerobos masuk rasaku saat ini, sebab telah terkunci khusus hanya namamulah yang tertera dalam hati ini," jelasku.
"Benarkah? Makasih, Dio. Kamu memang suami yang selalu pengertian akan diriku," ujar Dilla yang kini sudah memeluk tubuh dengan erat.
"Iya, sayang!" jawab sambil mengelus-elus pelan belakang punggungnya.
Semua tidak perlu ada rahasia. Kalau dibicarakan baik-baik, masalah seberat apapun dalam hati bisa mencair, asalkan kita sebagai pasangan harus lebih peka, jangan sampai sang istri malah ngambek tidak jelas, sampai ada pertengkaran hebat walau hanya sepele masalah itu.
__ADS_1
Akhirnya kami telah terlelap tidur siang, akibat kelelahan sebab perjalanan jauh dari negeri orang. Sampai-sampai tak terasa waktu telah berjalan cepat, dengan matahari sudah menyingsing memasuki waktu malam.
"Gimana, apa sudah cantik?"
"Tentu saja. Ini acara demi nama baik pekerjaan, maka harus siap awal-awal lagi. Harus kelihatan seperfeck mungkin, agar klien juga kagum kalau yang punya perusahaan, ternyata pesonanya boleh juga nih!" Senyumnya mengejek.
"Dih, mau tebar pesonakah?"
"Hahaha, enggaklah. Sudah punya suami juga, ngapain mau cari mangsa cowok lagi."
"Baguslah kalau tahu."
"Kenapa, jangan bilang cemburu kalau ada cowok yang dekatin."
"Dih, kejam amat. Main tonjok orang saja."
"Harus. Biar tidak jelalatan naksir istri dari tuan Dio gitu loh."
"Hadeh. Iya ... iya, istrimu ini hanya milikmu."
"Hehehe, harus itu."
Kamipun sudah siap dengan pakaian lengkap untuk ke pesta perusahaan istri. Lagi-lagi kami telah ditempatkan dalam satu mobil milik mertua, dengan penumpang lima orang yang termasuk adik Dilla yaitu Andi. Sebab ini adalah perusahaan keluarga, semuanya harus ikut untuk menyaksikan acara itu.
__ADS_1
*******
Sopir nyetirnya ngebut. Kalau orang tidak terbiasa pasti perut akan dibuat mual, sebab melajukannya ugal-ugalan terus menyalip dengan gesit. Kami harus datang awal lagi, biar bisa menyambut tamu.
"Oh ya Dilla, kamu ikut Papa sebentar saja, sebab ada berkas-berkas yang perlu kita urus dan tanda tangani dulu. Biar Dio pergi duluan sama Mama dan Andi," ucap keterangan papa.
"Baik, Pa."
"Kamu ngak pa-pa 'kan sayang, ikut Mama duluan ke dalamnya?" tanya istri.
"Iya, sayang. Ngak pa-pa, pergilah!" jawabku tidak mempermasalahkan.
"Bye ... bye, tunggu didalam, ok!."
"Sipp, bye ... bye."
Netra hanya bisa menatap nanar tidak rela, saat istri tercinta telah meninggalkan diriku. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan, padahal kami ini sangat lengket bagaikan orang tak ingin terpisahkan saja.
"Ayo Dio, kita masuk!" ajak Mama mertua.
"Iya, Ma!" jawabku menuruti.
Namanya juga perusahaan besar, tentunya acara sangat mewah. Ternyata sudah ramai tamu datang. Banyak pelayan berseliweran menjajakan minuman. Semua memakai pakaian serba mewah.
__ADS_1