
Pernikahan merupakan lembaran baru dalam menjalani kehidupan. Mulanya hanya seorang diri, kini ada dua individu yang berlatar belakang berbeda menjadi satu.
Menyatukan perbedaan antara suami dan istri merupakan hal yang umum, namun tak jarang beberapa orang mengalami goncangan saat membina rumah tangga. Hal ini memang wajar sering terjadi.
Rasa kekecewaan bisa terjadi karena beberapa faktor seperti persoalan sikap, pekerjaan, hingga perilaku. Dengan begitu, mempertahankan keutuhan rumah tangga tetap dilakukan meski diliputi rasa kecewa di dalam hati yang mendalam.
Sepertinya ada hal yang menganjal dihati Dilla, ketika tidak terima Reyhan disuruh pergi secara kasar.
"Papa, kenapa sih bersikap begitu sama Reyhan. Dia kesini datang dengan baik-baik," keluhnya.
"Baik apanya. Kamu jangan lupa atas kelakuannya kemarin. Apa mata bathinmu kurang terbuka, sehingga pria itu mudah mendekati kamu lagi."
"Astaga, Pa. Berapa kali aku bilang, kalau dia hanya ingin bekerjasama saja."
"Kerja sama apaan? Bukankah ada perusahaan lain yang bisa dia andalkan. Kenapa harus kamu juga?"
"Mungkin perusahaan lain banyak yang menolaknya, akibat skandal yang dia buat kemarin. Kemungkinan besar hanya tempat ini saja yang bisa memulihkan kembali keartisannya."
"Papa, tidak peduli dan tidak mau tahu. Yang jelas kamu harus menjauhi dia, sebab tidak ingin kejadian yang kemarin terulang kembali. Ingatlah, kamu sudah punya suami yang harus kau jaga juga perasaannya."
"Aku paham batasan itu, Pa."
"Kalau tahu, batalkan kerjasama kalian. Kalau kamu masih ngotot mau bantu dia, dengan syarat kalau suatu saat nanti kalian kena masalah, jangan pernah Papamu ini dipanggil untuk bantu kamu. Aku tidak sudi melihat wajah dia. Berucap begini karena khawatir dan demi kebaikan kamu sendiri, paham!"
Perdebatan ini semakin menegang. Anak dan orantua sepertinya tidak ada yang mau mengalah. Mereka merasa benar pada diri masing-masing.
"Hhh, entahlah, Pa. Aku hanya kasihan saja sama dia. Saat dia hancur akibat ulahku juga. Mungkin dengan cara membantu memulihkan pekerjaannya bisa menebus semua kesalahan itu."
__ADS_1
Hanya diam tidak ingin ikut campur. Tidak terlalu mengenal, jadi jika masuk dalam percakapan, takut salah dan dikatain sok tahu.
Ingin rasanya membela mertua, tapi kelihatannya Dilla masih tidak ingin mau mengalah. Mereka sudah lama pacaran, mungkin sifat Reyhan lebih banyak diketahui Dilla. Walau sekelebat hanya bertemu, tapi bisa menerka orang seperti bagaimana pria itu.
"Ya, sudah kalau begitu. Yang penting Papa sudah peringatkan kamu."
"Papa, mau ke mana?"
Melenggang pergi membawa sejuta kekecewaan.
"Pulang saja. Dari pada disini bikin kepala pusing."
Dilla ingin mencegah, tapi kelihatan percuma.
Menjatuhkan bobotnya di sofa. Meraup muka dengan kasar. Pusing mungkin sudah melandanya. Menatap tajam ke arahku.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya heran.
"Kalau serius tidak ada, tapi kenapa kayak mau mengintrogasi saja?" tebak benar atau salah.
"Hhh, cuma kecewa sama kamu."
"Masalah Reyhan lagi?"
"Ya iyalah."
"Kenapa aku harus membelanya, sedangkan tidak ada hubungan sama sekali sama dia."
__ADS_1
Mengobati rasa kecewa bisa dilakukan dengan dengan mengungkapkannya. Hal ini secara tidak langsung dapat dapat menjadi penawar sakit hati.
"Aku paham, tapi maksudnya kenapa papa marah tadi tidak membela."
Merangkul lengan dengan manja. Kepala disandarkan dibahu. Wangi sampoo khas rambutnya sangat bersemerbakan.
"Tidak patut membela, jika kamu memang salah. Yang beliau katakan tadi benar, bahwa kamu harusnya lebih berhati-hati sama Reyhan. Kita tidak tahu didalam hati pria itu tulus ingin mengajak kerja sama, atau hanya memanfaakan kamu saja mengenang dia sudah berbuat jahat dengan kejam berani berselingkuh."
Seorang suami seharusnya bisa tampil di hadapan istrinya layaknya seorang bocah. Akan tetapi ketika sang istri membutuhkannya, maka dia harus tampil layaknya seorang lelaki perkasa
"Hhh, entahlah. Dia kelihatah tulus. Tidak tega saja melihat dia jatuh begitu."
Kepala terangkat. Wajah kami begitu dekat. Nafas terasa hangat menerpa wajah ini.
"Sifat tidak tegaan kamu itu, kadang bikin buta sehingga tidak jelas mana yang meminta bantuan dengan serius atau tidak."
"Masak sih?"
"Iya, sayang." Mengecup pelan pipinya.
"Dih, main nyosor saja."
"Halal, dan pastinya bikin hati istri senang. Iya 'kan?"
"Hehehe."
"Dasar."
Mau marah tidak jadi. Sikap manisnya bikin luluh. Selalu saja kalah sama kelakuan ingin menempel terus.
__ADS_1
Terkadang kita dikuasai oleh kekesalan, hingga sampai pada tingkatan di mana kita lupa bahwa ada banyak hal dalam hidup yang bisa membuat kita bahagia. Alasan yang membuat kita sulit untuk bahagia adalah karena kita masih sulit melepaskan sesuatu yang membuat kita sedih.
Namanya juga wanita, pasti ingin diberi perhatian lebih walau dia ketahuan salah sekalipun. Kadang semua sama, merasa benar apa yang mereka lakukan, padahal sebagai pemimpin rumah tangga hanya menegur demi kebaikkan berdua, tapi karena berpikiran yang tidak sejalan, maka justru sering terjadi percekcokkan. Mungkin hanya ingin dimengerti dan diperhatikan lebih, biar luluh serta mau menjadi penurut