Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Mau Pergi HoneyMoon


__ADS_3

Pakaian secukupnya yang kami bawa. Hanya yang penting dan berguna. Wajah terus cemberut. Dio melirik tapi tidak mau melihat seksama.


"Kamu kalau ngak suka, mending kita ngak usah berangkat!" ucap Dio saat membantuku mengepak barang.


Perkataan yang terlontar dari mulutnya, mampu membuat diri ini terdiam sejenak. Lalu tersenyum manis ke arahnya, dan hal tersebut membuat Dio merasa heran.


"Heeeh, entahlah Dio. Aku sebenarnya ngak mau, cuma aku tak mau mama sama papa mulutnya ngomel melulu akibat tolakkanku, kamu tahu sendiri 'kan mereka itu bagaimana? Sekarang kita hanya bisa pasrah menjalaninya, toh ini semua bakalan tak merugikan kamu," jawabku santai.



Menyindir. Mengujinya apa peka atau tidak dari arah pembicaraan.


"Maksudnya?" Kepolosan pertanyaan Dio.


"Iiich, jangan pura-pura sok lugu dan ngak tahu begitu," ketus bin dongkol.


Nih orang, apa masih bocil beneran? Tak 'kan, dipancing omongan tidak paham. Mau mengajari, tapi juga belum pernah mempraktekkan juga.


"Heem, ok 'lah ini menguntungkan buatku. Masih belum puaskah jawabannya?"


"Entah, kamu saja yang pikirin."


"Hhhh, ya sudah. Pokoknya terima kasih ya, sayang!" jawab Dio mengelus-elus pipiku.


"Iya."


"Kira-kira Dio akan tambah senang apa membuatku susah ya, disana? Bener kata papa, semoga saja hubungan kami akan semakin akrab dan baik-baik saja. Ini orang sangatlah baik, dan aku tak mungkin berbuat jahat yang tak mau memberikan haknya," bathin hati bercakap saat menatap lekat-lekat wajah Dio, yang terus membantu merapikan pakaian kami.

__ADS_1


Perasaan masih merasa ada yang kurang, meski si Dio masih membantu melakukan semua keperluan seperti biasanya. Namun tetap saja ada yang kurang. Entahlah, seperti menyesali akan keputusanku. Tapi semua itu harus terlakukan, karena merupakan salah satu kewajiban sebagai istri.


Jarum jam terus saja berjalan, yang perlahan-lahan memakan waktu siang, hingga kini tanpa terasa sudah menjelang sore, dan pastinya kami telah disibukkan dengan aktifitas menyiapkan diri, untuk segera berangkat ke bandara.


"Kalian baik-baik disana! Jangan macam-macam sama suami kamu, Dilla. Walau kami tidak mengawasi, kami akan tetap tahu jika kamu berulah. Awas!" ancam Mama.


"Iya ... iya, Ma. Pokoknya beres semua, asalkan Dio ngak ngecewain atau berulah juga," jawabku santai.



Pletak, kepalaku tiba-tiba dijitak Mama, yang seketika tangan mengelus bagian sakit. Melotot ke arah beliau, dengan tatapan tidak suka.


"Mama apaan sih? Sakit tahu. Nih kepala masih berharga. Kalau tidak bisa berpikir lagi, kamu juga yang susah dengan perusahaan tidak ada pemimpinnya," keluhku kian dongkol.


"Sini ... sini, kutuupin. Biar sakitnya cepetan hilang."



"Habisnya mama kesel sama mulut kamu itu. Sudah dibilangin untuk memanggil Dio itu dengan sebutan Mas, masih saja suka kurang ajar memanggil. Jangan diulangi 'lah, paham!" terang Mama.


"Iya ... ya. Aku akan manggil suamiku Mas Dio, puas!" ketusku menjawab.


"Nah, 'kan itu lebih baik. Lihat, suami kamu tidak ingin kamu sedikitpun terluka, jadi jangan mengecewakan apalagi berulah yang bikin emosi."


"Dih, siapa juga yang kayak gitu. Ngadi-ngadi Mama ini kalau ngomong."


"Hadeh, apa ngajk ingat kelakuan kamu sama dua cowok yang brengs*k itu."

__ADS_1


"Eghem ... hmm." Deheman memungkiri.


Suami hanya bisa tersenyum manis melihat tingkahku, yang telah disuruh untuk memangilnya secara hormat. Pasti Dio akan melambung tinggi bahagia, sebab ada pawang yang terus membela.


"Sudah ... sudah, cepetan berangkat. Takutnya nanti malah terlambat sampai disana. Kalau bisa satu atau dua jam sebelum lepas landas pesawat kalian harus disana. Banyak yang harus dilakukan seperti check-in dan menimbang koper."



"Iya dech, kami mau pamitan."


Koper sudah ditarik Dio dalam bagasi mobil. Pria itu selalu melakukan apapun sendirian, tanpa ada minta bantuan sama orang lain. Bagus juga sih sikapnya itu yang tidak mau merepotkan orang lain, tapi takutnya kalau angkat terlalu berat saraf otot bisa terjepit mendadak.


"Bye ... bye, Ma, Pa. Asslamualaikum!" pamitku mencium tangan punggung kedua orang tua, yang diiringi oleh Dio dari belakang yang kini ikutan berpamitan.


"Walaikumsalam, Bye ... bye juga. Hati-hati kalian," ucap Papa melepas kami untuk berangkat.


"Heeem," jawabku.


"Jaga dia baik-baik, Dio. Kalau nakal langsung lapor saja, biar kami akan menyusul ke sana!" Mama ikutan berbicara lagi.


"Dih, segitunya? Apa ngak salah, mau ikutan honeymoon."


"Ya enggaklah, habisnya kamu selalu bikin repot orang lain saja."


"Hadeh, Mama ini selalu bukak kartu orang saja."


Selalu saja beliau tidak ingin kalah berdebat. Pantas saja Papa lebih banyak diam, mungkin saja takut kalau keterusan membantah, pasti ujungnya akan terjadi pertengkaran dalam rumah tangga.

__ADS_1


Lambaian tangan terus terjadi. Tidak ada yang akan membela lagi, jika dihabisi Dio dalam bingkaian ranjang. Harus bisa mempersiapkan diri awal-awal. Mungkin harus banyak mengintip dan belajar di ilmu online, gimana agar tidak gugup menghadapi petempuran yang bakalan terjadi untuk pertama kalinya. Mungkin hal pertama adalah mengerahkan tenaga agar bisa mengimbangi, jangan sampai keok dan dikalahkan oleh bocil.


__ADS_2