
Anak datang dari kota yang jauh, mau masak segala yang dia sukai.
Siapa yang tidak senang jika masakan dipuji, dan dia datang hanya rindu sengaja ingin mencicipi, serta kangen makanan khas yang kubuat. Opor ayam, rendang, ikan yang dimasak balado, yang paling dia sukai.
Sering ikut masak didapur serta ngintipin cara-caranya, tapi dia dengan tidak malu selalu terus belajar. Katanya untuk jaga-jaga kalau istri sakit dan sibuk, maka dia bisa diandalkan untuk menyiapkan segalanya.
Berjalan santai menghampiri mamang yang sudah teriak-teriak 'sayur'. Beliau langganan tiap hari, sebab selain harga murah, yang dibawa masih baru dan seger.
"Ini berapa harga ayamnya sekilo, Pak?" tanyaku pada tukang sayur yang biasa lewat depan rumah.
"Ooh, cuma dua puluh tujuh ribu rupiah saja, Bu."
"Sedang turun harga berarti ya, Pak."
"Iya, Ibu-ibu."
Entah mengapa tiga orang tetangga yang barusan datang melihat secara aneh, seperti aku ini adalah hantu peganggu. Mereka saling berbisik-bisik didepanku. Apa yang kuperbuat tidak tahu, tapi yang jelas ketara sekali mereka sedang ingin bergosip.
"Kalian ada apa, sih? Kalau mau menyingung atau bergosip jangan didepan orangnya, dong. Kelihatan banget tahu! Saya merasa sangat tersingung dan kesal sama kalian," cerocosku penuh kesewotan.
"Eeh, Bu. Maaf banget atas kelakuan kami. Bukan mau bergosip tentamg Ibu, kok. Tapi, anu ... anu, itu 'loh?" Salah satu mereka gagap menjawab.
"Anu apa'an? Jangan tambah bikin penasaran saja."
"Itu, 'loh, Bu. Tentang menantu kamu."
"Hah, kenapa sama dia? Emang ada berita atau gosip apa'an, gitu? Kok kalian kayak takut mau mengungkapkannya?" tanyaku sekali lagi.
Gerak-gerik mereka ketara sekali mau membahas, tapi malu dan segan sebab aku kelihatan emosi duluan. Gimana ngak marah, kalau menantu jadi bahan utama obrolan.
"Memang Ibuk, belum tahu berita heboh yang terjadi sama menantu kamu?"
"Belum, memang ada apa sih? Kok kalian kelihatan takut banget?"
"Itu-ttu, anu-anuuh?"
__ADS_1
"Duh, kalian tidak usah berbelit-belit. Cepat katakan ada apa'an? Jangan malah bikin saya emosi dan penasaran saja," Ingin rasanya menarik mulut mereka lebar-lebar agar mempercepat bicara.
"It-ttu-uu, 'loh, Bu. Masalah perselingkuhan."
"Hah, apa? Selingkuh gimana?"
"Iya, menantu Ibu telah digosipkan telah berselingkuh sama pria lain."
"Wah, kalian jangan sembarangan bicara dan menuduh. Menantu saya wanita terhormat, mana mungkin dia berani melakukan itu," Tidak percaya apa yang mereka katakan.
"Duh, gimana yah. Kok malah tidak percaya sih, Bu."
"Emang kalian bisa buktikan gosip itu?"
"Sebentar, Bu. Aku akan ambilkam bukti majalah itu. Tunggu disini, ya."
"Hemm, cepetan ambil kalau begitu."
Salah satu dari mereka menjauh, yang sepertinya sungguh-sungguh ingin mengambil gambar gosip itu.
"Kami tidak bohong, Bu. Mana berani kami bicara begitu kalau tidak ada buktinya."
"Ya, baiklah kalau begitu," Balik jawab mereka sewot.
Mamang sayur hanya diam menanggapi kami, dia malah sibuk menata sayur yang berantakan, akibat ulah ibu-ibu yang membeli sebelum kami. Beliau banyak membawa sayur ditaruh digerobak dorong. Semua warga sini jadi langanannya.
Yang ditunggu sudah mulai nampak, dia berlari tergopoh-gopoh dengan kuciran dipucuk rambut memanjang telah terombang-ambing.
"Huff ... hhh, in-nnih, Bu. Yang saya maksudkan!" Dia langsung memberikan.
Mata mendelik bagaikan bola mata ingin meloncat keluar saja, ketika melihat halaman sampulnya saja kelihatan menantu tengah berciuman mesra dengan pria lain. Gigi sudah bergemerutukkan ketika melihat ulah dia yang bikin malu saja. Majalah kugulung, hingga menimbulkan api emosi.
Tangan langsung mengambil kain rok. Kucincing rok sampai sebatas atas lutut. Rasanya tidak sabar lagi melangkah ingin pulang. Geram dan emosi sekali, melihat kelakuan tak senonoh menantu yang sempat kupuji-puji.
"Eeh, ayamnya gimana nih, Bu? Jadi beli tidak?" teriak Mamang sayur.
__ADS_1
"Buang saja bila perlu," Emosi yang berapi-api asal jeplak menjawab.
Langkah sampai terhentak kuat ditanah. Kalau raksasapun seluruh bumi kampung akan bergetar. Bagaikan orang kesetanan, siap melabrak anak semata wayang, ketika dia berani merahasiakan semua kebenarannya.
Phak, sebuah majalah kulempar didepan Dio dan suamiku, ketika mereka berdua santai menikmati teh disuasana pagi, yang ditemani kesejukan angin semilir dari pohon ketika tertiup.
"Astagfirullah, Bu. Ada apa ini? Kenapa tidak sopan sekali main lempar barang?
Suami kelihatan kebingungan.
"Tanya sama anakmu itu? Kenapa dia datang ke sini tiba-tiba? Dan apa yang sudah dilakukam sama kebejatan istrinya itu?"
"Hah, dasar mantu tak tahu diri dan senonoh," Aku tidak sadar berbicara sambil bernada teriak.
Suamiku menoleh ke arah Dio, yang sudah tertunduk malu, tak mau menatap ke arah kami.
"Astaga, Bu. Sabar ... Sabar. Bisa tahan emosi dan bicara baik-baik tidak? Malu, dilihat sama tetangga, kalau kamu bicara pakai teriak-teriak begini. Sekarang duduk dan kita sama-sama bicara dengan keadaan tenang, ayo!" Suami mencoba memadamkan amarahku.
"Gimana tidak emosi, Pak. Menantu kita bikin malu saja, dan betapa malangnya nasib anak kita sekarang." Memukul-mukul dada yang sesak.
Ketika sadar, justru aku menangis bak oragg tidak waras lagi.
"Istighfar, Bu."
"Hhh, kita bicarakan ini semua didalam. Kelihatannya kamu lagi tidak terkontrol lagi emosi." Suami mencoba mengendeng masuk rumah.
"Ayo, Nak. Kita masuk semua. Kita bicarakan baik-baik semuanya. Kita tuntaskan permasalahan ini, sebab Ibu kamu kelihatan sangat syok dan kacau. Malu dilihat orang, kalau kita bicara diluar."
"Baik, Pak."
Aku masih saja tersedu-sedu, tidak bisa membayangkan lagi perasaan anak ketika dikhianati. Pasti dia lebih malu dan sakit hati daripada orangtuanya ini.
Kesal sama seseorang adalah luapan isi hati berupa rasa kecewa, hingga emosi yang tidak bisa ditahan lagi. Hampir setiap orang tentu pernah merasakan dikecewakan, sakit hati, marah maupun kesal. Apabila tidak dikeluarkan atau lampiaskan justru dapat membuat stres. Seperti halnya yang terjadi padaku sekarang.
Salah satu cara agar bisa lebih lega dan tidak stres adalah dengan melampiaskannya dengan kata-kata atau mengungkapkan segala uneg-uneg dalam hati.
__ADS_1
Menjadi orang tua adalah petualangan seumur hidup. Segala kebutuhan anak mulai dari akidah, kasih sayang, spiritual, makanan, pendidikan, dan lain segalanya adalah kewajiban orang tua terhadap anaknya, namun jika tersakiti atau direndahkan dengan memberi tamparan malu pada orang banyak, pasti orangtua 'lah yang akan maju pertama kali untuk membela.
Selingkuh tidak hanya dilakukan oleh kaum pria, terkadang selingkuh juga bisa dilakukan kaum wanita. Baik selingkuh saat berpacaran atau selingkuh saat telah menikah. Suami bisa waspada jika terdapat gelagat tak biasa dari sang istri.