Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Dia Kembali Tapi Tak Bisa Kusentuh


__ADS_3

Badai dahsyat berhasil mengoncang keutuhan cinta kami. Kesabaran mana lagi yang harus dipelajari? Semua usaha telah terjalani, namun tidak ada secercah harapan bisa mengembalikan semua.


Masalah besar ini meluluh lantakkan janji suci yang pernah terucap. Tak ada belaian maupun pelukan darinya. Kini hanya ada kebencian dan ketidakpercayaan yang mencabik-cabik hati.


Telapak tangan menopang wajah kesedihan. Membekap muka sembab, setelah sekian menit bergulat tetesan airmata. Tidak akan ada habisnya raut wajah ini menampakkan kemurungan. Kini hanya ada penyesalan serta rasa bersalah, karena sudah mengabaikan nasehatnya dulu. Semua sudah menjadi bubur, ketika kejadian benar-benar nyata terjadi.


Duduk tegang dikursi kebesaran setelah sampai dikantor. Rambut menutupi sebagian wajah kepiluan. Siapapun yang mendengar isakan ini pasti sangat menyayat hati. Tidak ada semangat lagi untuk hidup, ketika yang tersayang jauh dari pelupuk mata.


Sandaran yang selama ini memberikan dukungan, telah terpatahkan penghianatan. Hanya ada satu lindungan, tapi kini ikutan memusuhi. Kekecewaan orangtua begitu kuat, sampai anak sendiri dibentak dan dimaki sekenanya.


"Oh Tuhan, apa yang harus kuperbuat, agar bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah sama sekali? Kenapa ini semua terjadi padaku, yang selama ini telah berbakti pada suami dan orangtua? Dimana letak kekurangan sikapku yang telah menyakiti semua orang? Hhhh, berikanlah petunjukMu agar semua ini bisa cepat selesai dan membuktikan bahwa semua ini bukan salahku!" Hati berucap pilu.


Tok ... tok, suara ketukan diluar mengema keras. Tangan langsung mengusap tetesan embun yang masih menempel dipipi.


Mulai berdiri tegap serta cepat merapikan baju yang sempat berantakan efek duduk sekenanya. Kini kembali duduk lagi. Jangan sampai para pegawai, tahu kalau diri ini sedang dilanda kerinduan akut. Malu jika ketahuan sedang down. Banyak yang tahu aku wanita adalah tangguh, kuat, serta tidak pernah menyerah. Jadi mau ditaruh mana muka ini, jika sekarang ketahuan sedang cengeng.


"Masuk!" perintahku cepat.


"Maaf, Bu. Saya telah menganggu sebentar waktunya," Pegawai mulai berjalan mendekatiku.


Menyembunyikan wajah dengan pura-pura membaca beberapa file yang tak penting. Kepala tertunduk, sambil terus serius memperhatikan beberapa bait tulisan.


"Hmm, ada apa?" Menjawab sebentar. Menatap beberapa saat pegawai yang nampak ada kegugupan.


"Ii-iitu, Bu. Diluar, ad-add-a!" Terbatanya dia.


"Bicara yang jelas. Jangan putus-putus gitu. Kayak lihat bosmu ini mirip hantu saja. Kenapa? Apa kau takut mau membicarakan sesuatu padaku?" Kedongkolan tak menerima jawaban yang benar.


"Eeh, bukan gitu, Bu. Itu, anu ... anu. Diluar itu, ada ... ada?" Masih saja tak berbicara jelas.


"Hadeh, bicara yang serius, kenapa?" bentakku tak sabar.


"Iii-tu, ada Tuan Dio diluar?"


"Apa?" Wajah seketika melongo. Mulut membulat sempurna sebab kaget.


Kursi sampai berdecit, dikarenakan berdiri mendadak. File yang sempat terbaca, langsung kututup kasar.


"Apa tuan Dio, masih ada?" tanya buru-buru.


Bahagia sekali jika orang yang diharapkan datang dengan sendirinya.


"I-iiya, Bu. Masih ada kok."


"Baiklah, kalau begitu sekarang aku akan menemuinya. Terima kasih sudah memberitahu."


"Iya, Bu. Sama-sama."

__ADS_1


Berjalan kecil dengan tergesa-gesa ke arah pintu. Bunyi sepatu sampai bergema nyaring. Tak kuhiraukan tatapan keanehan karyawan, yang penting secepatnya ingin melihat suami yang sudah sekian purnama kami tidak bertemu.


Kaki jadi ikutan tidak sabar, ingin membawa langkah ini untuk segera sampai ke tujuan. Rambut sampai terombang-ambing terbawa angin, ketika langkah seribu kuambil. Terlalu cepat berjalan, sampai tidak memperdulikan para karyawan lain sedang sibuk berkerumunan dimeja kerjanya maupun berdiri antri, seperti melihat suatu kelangkaan. Mereka saling berbisik, dan suasana nampak heboh. Harus bisa melewati semua orang yang berusaha menghalangi. Tangan sedikit memberikan dorongan, agar mereka semua tahu diri dan memberikan jalan.


Benar saja. Orang yang beberapa hari ini terindukan, kini didepan mata. Satu persatu semua orang mulai menepi, seakan tahu jika ini adalah hal pribadi, jadi mereka tahu diri ketika tak perlu tahu dan usil apa yang menjadi masalah bos besar mereka.


Tangan mulai kelu ingin terbentang, ketika berimpian memeluk. Belum sempat melangkah, namun tatapan Dio begitu sinis, hingga niat itu seketika kuurungkan. Walau sedetik saja dia sempat menatap ke arahku yang baru saja datang, diri ini tahu kalau dia tak suka atas kehadiranku. Wajah yang sempat berbias kegirangan, kini kembali bersedih efek kekecewaan. Tubuh menjadi lemah seketika, saat tahu dia sangat acuh sekali.


Dio terus saja sibuk memunguti barangnya, dan aku hanya memperhatikan dari jarak dekat. Sama-sama terdiam. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami. Hanya ada keheningan dalam deru angin yang berhembus keluar dari ac. Paku bagai tetancap ditelapak kaki, ketika keberanian ingin mendekati seketika runtuh. Hanya menatap kosong kearahnya dalam suasana kebisuan kami.


Sekian menit telah berlalu. Kecangunggan ini membuat susana sedikit mencekam. Yang kulakukan hanya mematung, sampai tak sadar jika Dio sudah selesai membereskan semua barangnya. Irama langkahnya kini mulai mendekatiku. Debaran hebat ini, membuat jatung berdetak kuat. Tadi sangat semangat, tapi kini malah terbanding terbalik menjadi ketakutan. Niat hati ingin berbaikkan, apa itu salah? Tapi, tidak tahu dalam diri Dio, apakah ingin semua baik-baik saja, atau ingin meributkan lagi hubungan yang mulai diambang kehancuran ini?.


"Apa kau tidak ingin menyapaku!" Akhirnya berhasil buka suara.


Kini dia berhasil melangkah tepat disampingku. Bau parfum yang dulu sering kuhirup, sekarang hanya bisa berlalu jauh dibawa angin.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," tegas Dio.


"Tapi, aku perlu semua kejelasan hubungan kita," Suara memelas dan menoleh kearahnya.


Sedikitpun dia tidak ingin melihatku, dan wajahnya sangat datar menatap lurus kedepan. Sepertinya dia kini sangat muak bertemu dengan istrinya ini.


"Tidak perlu ada penjelasan, karena semua sangat jelas. Nanti akan ada kabar selanjutnya tentang hubungan kita, jadi untuk saat ini lebih baik kita begini saja."


Bagai dicambuk, hati kembali sangat terluka. Banyak harapan yang ingin dibenahi, namun semua sirna begitu saja. Ternyata Dio tak ingin berdamai dengan kasalahpahaman ini. Sangat tahu jika dia terluka dan tidak percaya lagi, namun apa salahnya jika mendengarkan dulu penjelasan dari mulutku sendiri.


Buliran mulai tak terbendung, ketika jejaknya mulai sayu-sayu hilang dari pandangan. Tanpa suara lagi, pria yang menanamkan panah cinta, kini berlalu pergi tanpa berpamitan. Semakin membuat sesak dada saja.


Tanpa dirimu lagi disiku lagi.


Tutur katamu yang membuatku tentram.


Kini mulai hilang terbawa api kemarahanmu.


Kesalahan ini sangat fatal.


Tak bisakah kau memberikan ruang penjelasan?.


Kata cinta yang terus kau sanjungkan dulu.


Ingin kudengar, kupeluk, kugenggam dalam balutan hati ini.


Kata romantis itu terus kuelu-elukan.


Tapi, kenapa semua kini hanya impian palsu belaka?.


Tangan ini ingin mengusap wajahmu.

__ADS_1


Namun, hanya awan hitam yang bisa kuraba.


Apakah kau tahu jika semakin rapuh hati ini.


Aku menjadi gila dan tersiksa?.


Lebih baik tulang dan kulit bercerai badan.


Daripada tak bisa lagi menyentuh tubuhmu.


Aromamu membuatku terus mengigil.


Sampai diriku untuk sekedar mengapaimu tak bisa.


Kenapa kau tidak memberiku pintu maaf.


Apakah kesalahan ini tiada ampun lagi?.


Aku tahu semua berawal dari kebodohanku.


Tapi tak bisakah sedetik saja mencari kebenaran dari semua itu?


Tak ada tawa lagi diantara kita berdua.


Tak ada lagi kemesraan diantara kita.


Tak ada lagi jatuh bangun usaha kita.


Tak ada lagi keharmonisan hubungan kita.


Yang ada kini hanya perpisahan.


Serta kesedihan dalam balutan kerinduan.


Semua terkesan semakin berjauhan.


Ketika hubungan kita berdua dilanda kehancuran.


Untaian doa tetap terus kutengadahkan.


Agar kau bisa secepatnya kembali dalam pelukan.


Mungkin hanya embun mata ini yang bisa mewakili isi hati ini, ketika kau tak berada disisiku.


Khayalan terus berseliweran ingin dirimu.


Tapi apa daya jika hanya mimpi semu saja.

__ADS_1


Semoga kau segera sadar, bahwa aku sangat membutuhkanmu dimanapun itu.


Semoga kau segera kembali, untuk terus mencium keningku dalam balutan asmara.


__ADS_2