Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Diculik Bandit


__ADS_3

Dalam jeritan malam hanya ada keheningan suara mesin. Dari tadi tangan terus menyetir kendaraan roda empat. Berkali-kali hanya memutari jalanan, tanpa tahu arah tujuan. Keremangan lampu jalanan menambah syahdu suasana hati yang perih. Mana ada wanita yang tak sakit hati jika yang terkasih sudah mengabaikan. Bukti cinta sedang diuji, sampai sebatas mana kekekuhan hati serta kasabaran menghadapi itu semua.


Lamunan terus menodai netra. Pikiran berkecamuk, terus saja memikirkannya. Rasa salah itu seakan-akan sudah ingin mencabut raga secara perlahan. Tidak ada lagi degupan jantung lagi ketika berada didekatnya, kini hanya terasa aliran darah terhenti mendadak, agar bisa menyiksa pelan akibat kesalahan fatal.


Mata terus berkaca-kaca, tanpa bisa dicegah lagi tiba-tiba anak sungai terus saja terjun yang berasal dari mata. Kehampaan ini seakan-akan memberi ganjaran atas ulah yang melakukan perselingkuhan.


Dimanakah harus meminta keadilan? Sekarang berasa hanya sendiri menghadapi ini semua. Bahkan para pegawai ingin ikutan menuduh sembarangan, hanya cuma berdasarkan gosip yang tak benar. Semakin hari tersudutkan. Tak banyak nyali lagi jika muncul sendirian dipublik. Harkat dan martabat hancur lebur. Bahkan orang asingpun sampai menghujat habis-habisan. Seakan-akan aku perempuan nakal yang doyan pria kece. Padahal Reyhan dulu adalah mantan terlama sebagai kekasih.


Shet ... shet, tiba-tiba ada yang memotong laju kendaraan ini.


Lamunan menjadi buyar. Netra dibuat bingung, melihat arah samping mobil yang tengah dikepung. Dua kendaraan berwarna hitam membuat hati bertanya-tanya siapakah mereka? Kemudian tak berselang lama keluar beberapa pria yang berpakaian dan berkacamata serba hitam juga. Perasaan berkecamuk antara panik dan takut. Menoleh kanan kiri ke arah jalanan. Mau meminta tolongpun kelihatan percuma saja, karena semua kendaraan sibuk memacukan mesin masing-masing untuk membelah jalanan.


"Astagfirullah, siapa mereka?"


"Apa mereka akan berbuat jahat kepadaku? Duh, gimana ini? Sepertinya tidak akan bisa meminta tolong pada orang lain, nih?" Kepanikan hati yang kian membuat tubuh gemetaran.


Cepat-cepat ingin kuraih gawai yang masih tersimpan rapi didalam tas. Teringat akan nama Joan, maka harus menghubunginya.


Naas, semakin dibuat panik saja ketika melihat para orang tak dikenal itu kian mendekati mobilku, sampai tangan menjadi salah tingkah untuk mengambil saja, alih-alih bisa membantu masalah yang dihadapi sekarang, namun malahan terpelanting menjauh, tak tahu keberadaannya.


"Duh, dimana kau jatuh handphone!" Meraba-raba bagian bawah.


Brok ... brok, dengan kasar mereka mengebrak kaca.


"Hei, buka ... buka!" Samar-samar ucapan mereka kedengaran.


Klek ... klek. Pintu dipaksa untuk terbuka. Dari arah kanan kiri diserang, agar mereka bisa cepat masuki.


Mimik mulut mereka terus menyuruh cepat-cepat membuka. Bahkan ada yang mengancam akan menghancurkan kaca dengan balok kayu. Pemaksaan ini membuatku tak bisa berkutik. Takut jika dicelakai, akhirnya mengalah juga untuk membuka. Dalam hati terus menanamkam ketenangan, yang siapa tahu jika dituruti mereka akan bisa diajak berdamai.


Otak terpikirkan, kalau mereka hanya perampok ingin uangku saja, sehingga sekarang berani keluar. Walau nampak tenang sikapku ini, namun tak bisa dipungkiri lagi kalau keringat sudah bercucuran membasahi kening.

__ADS_1


"Kalian siapa? D-ddaan mau apa?"


"Diam kamu. Jangan banyak omong!" bentak salah satu dari mereka.


"Tolong lepaskan aku. Jika kalian ingin uang, bisa aku berikan sekarang, tapi tolong jangan apa-apakan diriku," Permohonan.


Tangan dari arah samping kanan kiri sudah dipegangi rapat oleh mereka. Wajah sangar mereka tidak bisa kuperhatikan secara seksama. Kegelapan malam ini, membuat pandangan hanya lamat-lamat bagaimana tampang mereka.


"Uangmu sekarang tidak berarti untuk kami. Sekarang ikut kami sekarang," Ketegasan dari mereka.


"Maksud kalian apa? Tolong ... tolong lepaskan aku sekarang!"


"Aahhh, diam."


"Aku tidak kenal kalian sama sekali, jadi ada urusan apa kalian pada diriku, kalau tidak tentang uang?" Masih mengiba.


"Iiich, bawel amat. Atau kamu mau, kami robek tuh mulut kamu," jawab kasar bikin nyali ini jadi semakin ciut.


Memandangi satu persatu wajah garang mereka penuh ketakutan. Langkah digiring terus agar mau ikut masuk mobil mereka. Terus meronta-ronta ingin menolak.


Agak lega bisa lepas. Nafas terus tersengal-sengal. Kaki terus bergerak menjauhi. Teriakkan mereka membuatku menambah kecepatan.


Kelihatannya aku sangat spesial, tak ayal para preman itu terus mengejar. Menoleh sebentar, yang ternyata semakin lama mereka hampir mendekati posisiku. Ukuran lebar kaki, kalah cepat. Aku yang tak kuat lagi, akhirnya tertangkap juga. Nafas terputus-putus akibat kehabisan tenaga.


"Mau kemana lagi kau?"


"Jangan ... jangan. Tolong lepaskan aku!" regek penuh permohonan.


Plak, satu daratan tamparan tepat mengenai pipi. Membuatku sudah meringis kesakitan.


"Jangan harap. Kau adalah aset berharga kami, jadi jangan pernah macam-macam untuk berpikiran ingin kabur, sebab semakin kau lepas dari kami, maka kamu akan kami buat menderita lebih dari ini, paham!" ancam salah satu dari mereka.

__ADS_1


Bulu kuduk meremang. Merinding rasanya mendengar ancaman itu. Apa maksudnya? Aset berharga yang bagaimana ini? Apa ada kaitannya dengan peperangan bisnis? Tapi, selama ini tidak pernah punya musuh, jadi apa arti dari ucapan mereka?.


"Sekarang ikut kami. Jangan banyak berontak, atau ingin tubuhmu tercabik-cabik oleh senjata timah panas ini!" Seluruh badan bergetar semua, ketika todongan pistol tepat menempel dibagian belakang perut.


"Iyy-yyya, tapi jangan apa-apakan diriku," Suara bergetaran efek takut.


"Tenang saja. Kami tidak akan mencelakaimu, asalkan kau mau nurut sama kami. Paham?" bentak melengking.


"Biii-bikklah, paham."


Digiring mengikuti langkah mereka dengan kebingungan. Mau tak mau, untuk saat ini harus nurut.


Heran dengan para kendaraan yang berlalu lalang. Tidak ada satupun yang berusaha berhenti untuk membantuku. Sungguh nasib yang malang. Padahal sangat nyata jika musuh berwajah sangat sangar dan kejam. Mungkin dikira sahabat atau efek dalam keadaan gelap gulita, jadi mereka acuh saja dengan terus melajukan mobil masing-masing.


"Cepat masuk!" perintah kasar mereka.


Memberi dorongan tubuh, hingga mau tak mau terbentur keras dikursi mobil. Berusaha duduk tegak, saat kanan kiri sudah dikawal oleh para bandit. Didepan dijaga ketat juga, ada yang siap mengawasi dan menyetir. Kendaraan lain mengikuti dibelakang. Hanya kepasrahan dan doa dalam hati. Semua barang tertinggal di mobil. Pasti akan sulit bagiku ditemukan.


Tes, lelehan embun tiba-tiba luruh. Membayangkan jika ada Dio disisiku, pasti kejadian ini tak akan pernah terjadi. Hidup dan mati kini ada ditangan mereka. Mencoba mengikuti alur lakon para bandit dulu, karena ingin tahu apa maksud dari semua penculikan ini. Apakah musuh lama atau memang benar-benar dari para pesaing usaha yang memendam sakit hati.


Banyak sekali doa kecil yang terucap dihati. Semoga ketuanya nanti bisa diajak negosiasi, sehingga bisa bebas dan menghirup udara kehidupan lagi, tapi jika seandainya tidak bisa, mungkin hanya satu yang tersisa yaitu kekejaman mereka menginginkan nyawa ini.


Hanya ada keheningan suara mesin. Tidak ada satu patah katapun dari mulut semua orang. Entah berapa lama diri ini dibawa mereka, yang jelas bagian anggota tubuh yang dibuat duduk sudah terasa panas. Bosan mulai menghampiri.


Penglihatan memicing, ketika tahu mereka membawa diri ini kedaerah agak terpencil. Keadaan sepi, jauh dari pemukiman penduduk, banyak semar belukar, pohon besar serta menjulang tinggi. Sepertinya ini pabrik yang sudah lama terbengkalai, yang terlihat bangunan memanjang, berlumut, cat memudar dan terjejer rapi beberapa ruangan.


Ketika memperhatikan, mobil tiba-tiba terhenti didepan salah satu bangunan agak besar sendiri diantara yang lain.


"Ayo, ikuti kami."


"Mau dibawa kemana aku ini?"

__ADS_1


"Aah, tidak usah banyak tanya. Ikut saja," Mereka mendorong-dorong kasar tubuhku.


Mengikuti langkah salah satu bandit. Dibelakang terus dikawal. Sepertinya mereka takut kalau aku kabur lagi. Pandangan terus menyapu ke seluruh area tempat penculikan ini. Bikin bulu kuduk berdiri semua, sebab kelihatan angker tak berpenghuni.


__ADS_2