Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Urung Berangkat Kerja


__ADS_3

Ingin berkemas,menyiapkan beberapa pakaian yang akan dibawa pulang. Besok pagi sudah diperbolehkan pulang.


"Bagaimana Dio? Apakah selama ini ada hal-hal aneh, yang terjadi dirumah sakit ini?" tanya mertua laki-laki mengajak mengobrol diluar ruangan Dilla dirawat.


Beliau masih saja mengkhawatirkan kami. Dirumah sakit ada sekitar lima pengawal yang dikerahkan. Beliau tidak ingin pria itu kembali menyentuh kami lagi.


"Alhamdulillah, selama ini masih baik, dan tidak ada hal yang perlu dicurigakan serta diwaspadai," jawabku dengan rasa tenang.


Memang belum ada pergerakan dari orang kemarin. Selama dirumah sakit tidak ada tanda dia akan menyerang, mungkin tahu jika pengawalan mulai diperketat, bahkan bisa dilihat dirumah sakit banyak bodyguard yang menjaga.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi kamu harus tetap waspada dan jangan lengah, sebab musuh kita bukanlah orang sembarangan untuk dihadapi, yang mana bisa saja sewaktu-waktu menyerang," Nasehat mertua.


"Iya, Pa. Aku akan tetap selalu siap siaga dengan mengerahkan segala kekuatan, untuk melindungi istriku tercinta."



"Bagus Dio. Kamu memang menantu yang selalu bisa diandalkan dan baik hati. Maafkan diriku, jika tidak bisa melindungi kalian dengan kekuatan Papa, sebab kamu tahu sendiri Papa sudah mulai lemah dalam masalah kekuatan, dan Papa hanya bisa bantu-bantu kalian hanya dengan menyewa pengawal," jelas beliau tak enak hati.


"Tak apa, Pa. Aku bisa memahami. Walau hanya dengan mengarahkan pengawal, itu saja sudah berarti Papa benar-benar telah membantu kami," jawabku legowo.


"Makasih, Dio."


"Iya, Pa."


Perbincangan kami sangat diperlukan, agar bisa menukar pendapat jika diperlukan, perihal keutuhan keselamatan kami.


Mertua yang wajahnya sangar dan kelihatan galak, ternyata tak sama dengan rupa beliau, justru ternyata sangat baik melebihi dugaan-dugaan orang luaran selama ini.


Sungguh suatu keberuntunganku, selain mendapatkan putrinya yang cantik ternyata sifat mertua perempuan dan laki-laki sangat baik juga, dengan segudang kasih sayang melebihi sebagai anaknya sendiri.


*********


Mentari pagi telah hadir menyapa, dengan semilir angin dingin telah berhasil menusuk sampai terasa ditulang, akibat kuatnya angin berhembus kencang lewat celah-celah jendela kamar.

__ADS_1


Luka sudah sembuh, hingga Dilla kini telah disibukkan dengan aktifitas mau bersiap-siap kembali kerja ke kantornya, dan akupun sebagai suami harus ikut serta sibuk juga, melakukan persiapan untuk segala pengawalan dan membantu perkerjaan dikantornya.


"Apa perkerjaannya tidak bisa ditunda? Aku masih sedikit khawatir atas luka kamu, jika ada yang masih belum sembuh betulan. Takutnya juga kalau kambuh juga ngilunya," tanyaku sangat ada rasa was-was


"Enggak pa-pa, Dioku sayang. Aku sekarang benar-benar dalam kondisi baik. Kamu tidak usah lebay terlalu khawatir lagi," ucapnya yang kini memelukku dari belakang, saat baru selesai mandi yang berlilitkan handuk sebatas pinggang saja.



"Bukan gitu, Dilla. Wajar saja kalau suami kamu ini khawatir, sebab aku tidak mau istriku yang cantik ini terluka kembali, seperti kejadian-kejadian mengkhawatirkan kemarin. Kamu tahu betapa tidak tenangnya diri ini saat kau terbaring lemah?" jawabku yang sibuk sedang memilih baju yang pas ditubuh.


"Hmm, tahu. Sebab kamu 'kan tidak ingin kehilangan diriku."


"Nah, itupun tahu."


"Tapi kerjaan numpuk. Banyak karyawan yang mengeluh tidak bisa menyelesaikan sendiri."


"Ya sudahlah, kalau begitu."


"Apa tangan kamu tidak bisa menepi sebentar saja? Aku tidak bisa memakai baju, nih!" keluhku.


Hari ini entah mengapa dia begitu manja. Kepala terus disandarkan dibelakang punggung.


"Ngak bisa. Aku marasa nyaman seperti ini," Kemanjaannya menjawab.


"Benarkah senyaman itu? Aku masih bertelanjang dada dan hanya berlilitkan handuk saja. Takut masuk angin loh ini. Apa jangan-jangan kamu mau yang nganu-nganu gitu?" godaku mencoba menjahilinya.


"What? Hadeeh, otak kalau sudah ngeres dipenuhi yang begituan ya begini, nih! Ujung-ujungnya pasti akan mengarah kesitu," Kekesalan Dilla tak suka.


"Hahahaha, tahu saja kamu, yank. Habisnya orang belum sempat memakai baju sama sekali main peluk-peluk saja, bukannya itu akan mengundang sesuatu yang aduhai," jawabku mengodanya lagi.


Memutar badan, melihat sebentar wajah teduhnya. Bergantian diri ini yang memeluk Dilla dari belakang.


"Otak kamu terlalu aneh dan mengila itu. Masak memeluk saja mengarah kayak gituan. Aku masih punya malu dan harga diri sebagai perempuan," ujarnya yang tak mau mengalah.

__ADS_1


"Tidak masalah juga sih, kalau seandainya perempuan yang minta duluan. Dengar-dengar ada sebuah hadist yang mengatakan, (jika seorang perempuan meminta hak lebih duluan kepada sang suami, maka syurga akan menantinya). Dan apa salahnya atas permintaan itu jika kamu memang menginginkannya, sebab aku akan siap sedia melayani si bidadariku ini," jelasku kembali mengodanya.


"Memang tidak salah, sih. Tapi-? Tahu ah. Aku tadi cuma kangen saja mau dipeluk kamu, tapi pikiran kau saja yang sengklek mengarah kesitu," tuturnya yang kini melepaskan pelukan ingin berlalu pergi.


"Eiiiit, kamu mau kemana?" Cegahku yang kini meraih pinggangnya ingin memeluk lagi.


Tangan lagi-lagi mengeratkan pelukan. Mata yang ada seutas cinta sudah saling beradu, sama-sama memandang seksama netra yang menunjukkan ada segurat keindahan rasa sayang. Bibirnya yang sexy dengan balutan lipstik yang merona merah, nampak begitu mengairahkan. Pipinya yang putih serta halus, sedikit demi sedikit menampakkan bias rona-rona merah, hingga rasa ingin melahapnya begitu tak tertahan lagi.


"Benarkah kau tak ingin merasakan apa yang menjadi perdebatan kita barusan?" tanyaku penuh gairah.


Mimik mukanya mengisyaratkan sesuatu, tapi anehnya tak ada jawaban yang pasti darinya, hingga kesabaran yang membuncah sudah merasai jiwa.


Cuup, tanpa bisa menahan lagi, bibirnya yang mengoda langsung kuterkam penuh keinginan, saat rasa yang memuncak sudah mengusai jiwa.


"Jangan aneh-aneh dipagi-pagi begini," keluhnya membalas ciumanku.


"Aku merasa aneh, sebab kau pancing. Aku terlalu tak terkontrol ingin mengusaimu, paham!" jawabku yang semakin bringas menciumnya.


Tangan yang sempat memegang baju yang ingin kupakai, kini kulempar kesembarang arah, agar bisa menaklukkan wanita yang kini telah terkunci oleh ciuman, yang mana kami mulai saling membalas. Baju Dilla yang awal mulanya rapi ingin berangkat kerja, kini telah kuporak porandakan untuk memberikan sejuta rasa keharmonisan.


Nyaman adalah suatu yang indah saat bersamanya.


Indah adalah anugerah yang tercipta yang melekat pada dirinya.


Tentram, suatu rasa yang begitu adil, ketika dia berhasil merobohkan pertahananku.


Cinta, nikmat dari segala rasa yang menuju perjalanan keabadian.


Sayang, sebuah rasa yang tumbuh begitu saja, saat dia memberikan semua raga jiwa untuk dimiliki.


Ketika raga hati mulai merajai, seutas rasa telah meluapkan segalanya.


Tumbuhnya benih-benih kedamaian, begitu menguatkan jalinan kerukunan rumah tangga.

__ADS_1


__ADS_2