Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Berhasil Membobol Pertahanan


__ADS_3

Bibir kami tak lepas jua untuk terus saling bertaut. Kurasakan tangan Dio telah mulai begitu kasarnya mengelus-elus belakang penggungku. Entah mengapa diri ini terasa begitu gugup tak karuan, dengan pipi yang mulai meremang kian memanas, mungkin di akibat oleh sorotan netranya terus saja menatapku, hingga dalam diri ini mendesirkan perasaan cinta dalam kegairahan.


"Aah, apakah malam ini akan jadi akhir yang selama ini kujaga?" Bathin hati yang semakin kacau.


Hembusan deru nafasnya kian bertambah mengebu, seakan-akan Dio kian tak sabarnya ingin menguasai diriku. Perlahan-lahan langkah kami terus saja mundur-mundur mendekati kasur, yang mana Dio dengan cekatan secepatnya mendorong tubuhku keatas ranjang, hingga tubuhpun terasa sekali terpental, akibat pantulan kasur yang empuk. Tek elak jua Dio terus saja melanjutkan ciuman kami yang lembut nan terasa melun*kkan.


"Duh, dia makin menganas saja. Aku jadi dingin namun kepanasan. Ac tiupkan angin kencangmu, aku mulai terbakar nih!"


Aku sudah terbuai, saat hembusan nafasnya kian lama kian terasa hangat menyapu wajahku. Muka kami begitu dekatnya, hingga tak ada kikisan jarak lagi diantara kami. Mataku kini mulai kupejamkan, saat detik-detik yang telah Dio lakukan. Tak bisa dicegah lagi saat beberapa aksi kami yang begitu brutalnya merasakan bibir yang sudah menyatu, yaitu sebuah rasa akan kelembutan namun basah terasa begitu aneh sedang merajai jiwa, hingga tanpa terasa menimbulkan rasa gejolak yang baru pertama kali ini kurasakan.


Dio hanya bisa tersenyum sinis saat terus menatapku, dengan tangannya yang mulai sibuk menyusuri perlahan, agar bisa membuka satu-persatu kancing bajuku. Mata kini kuusahakan terpejam, akibat rasa malu mulai menerpa diri ini. Aksinya tak terhenti begitu saja, saat ciumannya kini telah beralih pindah ke leherku. Ekpresiku yang tersentak terkejut, tak membuat Dio sedikitpun berpaling untuk berpindah tempat, yang kemungkinan seakan-akan Dio sudah tahu sekali bahwa rasa yang mengusai jiwanya sudah tak terkontrol lagi. Perlakuannya membuat jantungku berdebar sangat hebat bagai tembus langsung ke ubun-ubun. Kini aku begitu pasrah tak bisa berbuat apa-apa lagi, saat Dio sudah menc*mb*iku dengan liar.


"Maafkan aku, sayang. Rasanya aku tak kuasai lagi untuk membobolkan pertahan kamu! Sekarang dan nanti kamu akan jadi milikku selamanya," izin Dio berbisik didekat telingaku, dengan tangannya terus mencengkram serta mengenggam erat kedua telapak tanganku.


Kepala hanya bisa mengangguk pelan tanda bahwa aku setuju, pasrah dan rela atas apa yang dilakukan suami sekarang. Tiada kata-kata lagi yang bisa terucap, saat rasa hasrat itu sudah hilang tak terkendali.


Hari ini adalah hari bersejarah, yang mana diri ini telah rela menyerahkan mahkota yang selama ini telah terjaga, yaitu saat jiwa raga ini telah berhasil menjadi milik Dio seutuhnya.


Malam semakin merangkak kian larut, hingga tanpa terasa aku telah memberikan sesuatu yang berharga pada suami sendiri. Hembusan nafas panjang berkali-kali telah kulakukan, saat kilasan kejadian tak terduga tadi kembali berseliweran bermain dalam pikiran, sehingga sekarang ini terasa membuat diriku seakan-akan melayang seiring dengan deguban jantung yang masih sedikit terguncang hebat. Bayang-bayang saat ketakutan tidur berdua dengannya kemarin, kini telah terjadi tanpa halangan sama sekali, namun membuat sedikit rasa tak nyaman lagi, akibat pikiran tak bisa berpikir jernih lagi sebab kejadian yang diluar dugaan.


Sekarang ini kami sudah sama-sama memakai baju, dimana yang tadinya sempat berserakan dilantai, akibat kebrutalan kami yang tadi sempat begitu mengebu.

__ADS_1


Jantung masih terasa kian berdebar-debar lagi, saat Dio begitu meringkuk ingin mendekap tubuhku. Hanya ucapan selamat malamlah yang bisa keluar dari mulut kami, yaitu disaat sama-sama malu atas diri kami masing-masing. Sekarang rasa aman dan nyaman atas perlakuannya membuatku melupakan sejenak jantung yang tadi sempat bergetar, atas semua debaran yang sempat tak karuan detakkannya. Rasa kehangatan atas tubuh Dio begitu terasa meneduhkan hatiku, hingga manimbulkan rasa tak ingin kehilangannya semakin membuncah, yaitu untuk berpegang teguh atas pendirian cinta agar bisa memiliki hati Dio selamanya.


Kutatap pelan-pelan wajahnya yang tampan, saat netranya kelihatan lelah terpejam. Mukanya yang polos tapi perfeck terasa sekali begitu mententramkan jiwaku. Pipinya yang halus serta bersih, seakan-akan terus saja memancarkan sinar keindahan yang amat elok dipandang, hingga membuat diri ini tak jemu-jemu untuk terus memandangnya.


"Beruntung sekali nih, dapat suami tampan. Tapi dia dibawah umurku. Semoga saja kami tidak saling salah paham. Mengingat kadang terkendala akibat ego sudah terlalu dewasa dan masih bocil."


Matapun kian lama kian sayu-sayu tak tahan untuk terpejam jua.


Mentari pagipun telah menyapa dengan bunyi nyayian suara burung yang saling bersahutan memerdukan kicauannya. Mata yang masih berat telah kupaksakan untuk bangun, sebab telah terbayang atas kejadian semalam yang mengharu biru atas rasa malu bercampur oleh kebahagiaan.


Cuuup, tanpa terduga kening telah terdaratkan oleh sebuah ciuman sapaan pagi.


"Pagi juga," sapaku balik dengan malu-malu.


"Apakah semalam aku telah membuat kamu tidak tidur nyenyak? Lihatlah? Lingkaran hitam di bawah mata kamu itu, mulai ada!" ucap Dio sambil mengelus-elus pelan pipiku.


"Hehehhe, enggak kok! Siapa bilang, aku baik-baik saja, walau ada yang-?" Suaraku tertahan tak bisa melanjutkan kata-kata lagi.


"Apaan?" Kepolosan Dio bertanya.


"Haiiist, macam tak tahu aja kamu. Udahlah ngak penting, 'toh kamu sendiri nanti akan tahu. Lagian kamu sekarang masih bocil jadi ngak perlu tahu," Kekesalanku menjawab.

__ADS_1


"What? Bocil? Heeeh, nona! Gini-gini aku sudah dewasa, buktinya aja tadi malam aku melumpuhkan pertahanan kamu, ha ... hahahahha!" Kegembiraan Dio tertawa berhasil mematahkan ucapanku.


"Tau 'aah. Dah pergi mandi sana! Aku mules mendengarkan ucapan kamu, sekarang mau lanjut bobok cantik aja, ngantuk banget nih," jawabku kesal, dengan merubah posisi tidur membelakanginya


"Ya elah, masak gitu aja marah. Maaf deh, yaa sayang. Seandainya saja kata-kataku tadi membuat kamu jadi malu," rayu Dio yang kini tangannya melingkar dipinggang untuk memeluk dari belakang, diiringi oleh dagu menempel di lengan tanganku.


"Heeh, iya ... iya. Udah ah, aku beneran ngantuk," jawabku yang sudah memejamkan mata.


"Ok, deh! Kalau begitu aku mandi aja," ujar Dio pamit.


"Heeeem," jawabku lemah, sebab sudah beneran mau tidur.


Tak kupedulikan lagi apa yang dilakukan Dio sekarang, yang jelas mataku tak tahan lagi untuk meneruskan suasana alam mimpi.


*****


Nungguin yah ceritanya. Beberapa hari author ngak up, sebab ngak ada ide dan ragu mau posting bab ini sebab ada 21+πŸ™ˆ. jempol author benar-benar sengklek bisa nulis iniπŸ˜πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Part ini diwajibkan harus ada, sebab nanti akan ada konflik yang pelik atas hubungan mereka, jadi tunggu next partnya yang akan semakin uwu, panas, bikin emosi, menguras airmata.


Terima kasih bagi orang-orang yang telah mampir dikarya rempahan rempeyekku ini, terutama bagi pembaca setiaπŸ™πŸ™tanpa dukungan kalian author ini bukanlah siapa-siapa. Terima kasih ... terima kasih😊😊

__ADS_1


__ADS_2