The Mafia Is My Hubby

The Mafia Is My Hubby
Zen practice


__ADS_3

Bruk! Suara badan terhempas ke tanah.


“ sudah cukup! Aku menyerah, papa.” ucap Zen terengah- engah.


“ kenapa baru segini sudah menyerah, Zen?” ucap Giant.


“ papa! Aku baru saja latihan dan kau sudah memberiku latihan selama sejam full!” geram Zen.


“Jangan kalah sama sister mu, Zen.” Ungkap Gin.


“Gin? Riu?” heran Zen. Semenjak kejadian Cherry coma- memang Zen jadi mengenal Riu- karena dialah yan membawa alat kejut otak untuk Cherry saat istrinya coma dulu.


“Hai! Gin.” Sapa Giant.


“Hai papa.” jawab Gin.


“ ngomong- ngomong, Apa maksudmu tadi, Gin?” heran Zen.


“Jangan kalah dari sister mu- Zena. Meski ia perempuan semangatnya untuk belajar beladiri itu sangat besar. Awalnya ia bahkan sangat kikuk dan tak ada dasar beladiri.” ungkap Gin.


“Benarkah?” heran Zen.


“Ya.” ucap Gin yakin.


“Kau tahu? Saat pertama mengenal kami- ia lah yang meminta kami untuk mengajarinya beladiri.


Di hari pertama, meski ia hampir babak belur- ia tak pernah menyerah untuk belajar mengenali cara beladiri kami.

__ADS_1


Dan tepat di hari ketiga ia sudah hapal cara bertarung kami dan mengenal langkah kami selanjutnya- namun saat itu kecepatan tubuhnya belum bisa menghindari serangan kami.


Di hari ke empat- ia mulai bisa menangkis salah satu serangan dari aku atau Rick.


Di hari ke lima, Zena mulai bisa mengembalikan serangan kami dan tepat di hari ketujuh ia dapat mengalahkan kami.


Semenjak itu, gerak refleknya mulai terbentuk, dan semenjak itu pula ia selalu dapat melawan orang yang hendak mencari gara- gara dengannya.” ucap Riu yang mengingat awal kebersamaannya dengan kakak iparnya tersebut.


“ benarkah itu?” ucap Zen tak percaya.


Okey, Zen mengakui jika kakak perempuannya itu sedikit kikkuk- namun wanita itu memiliki gerak reflek yang cukup hebat. Bahkan Zen pernah mendengar jika saat Zen A sedang mengandung- ia masih dapat mengalahkan orang yang hendak macam- macam dengannya saat inspeksi peusahaan di China.


“Sudahlah, kalian. Ayo, Zen kita istirahat dulu.” Ucap Zena membawa sepiring camilan untuk adik dan ayah kandungnya bersama dengan Cherry.


“Terima kasih, Zen A, Cherry.” ucap Giant.


“ sedang bersama para mommy.” ucap Cherry.


Giant tak menjawabnya memilih memakan semangka yang di bawakan putri kandungnya tersebut dan mengingat perkataan Gin soal Zena. pria yang tak lagi muda itu lantas menatap ke arah menantunya tersebut.


“ kenapa papa melihat Cherry seperti itu?” ucap Zen tak suka.


“ aku jadi ingat soal perkataan Gin tentang Zen A. bagaimana jika kau saja yang aku latih beladiri.” ucap Giant terus menatap Cherry.


“ eh?” ucap Cherry cukup terkejut.


“ apa maksudmu, papa?” geram Zen.

__ADS_1


“ Zen A saja bisa kuat menahan beladiri keluarga Nanao, aku yakin sebenarnya perempuan itu lebih kuat dan tahan banting dari pada anak laki- laki. Jadi ada baiknya aku melatih menantu ku ini agar bisa menjaga dirinya sendiri.” ucap Giant jujur. Apa lagi mengingat jika Cherry dapat menahan serangan psychopath seperti Lexia- bahkan tetap dapat mempertahankan ingatannya meski telah koma dan terkena kejut otak.


“Aku ini masih kuat untuk latihan!” geram Zen.


“ really?” ucap Giant meremehkan.


“ Ayo, papa! Istirahatnya cukup sekian saja.” ucap Zen mengibaskan tangannya seolah sedang meregangkan bahu.


“Cara papa mertua mu untuk merangsang keinginan berlatih Zen, hebat juga.” ungkap Riu takjub.


“Yeah. I see that.” ucap Gin.


🌸🌸🌸🌸


Hai hai hai


Maaf lama up nya


Soalnya


Soalnya


Soalnya


Author tiba- tiba dapat ide buat karya autnor yang lain.


Dan kalau tidak segera di tulis takutnya keburu lupa😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2