
Hari ini Riu ada urusan dengan kantornya, Rick tiba- tiba mendapatkan pasien darurat dan Gin, pria itu jika tidak ada saudaranya- sangat cuek dan dingin. Ingat dingin membuat Henzie tiba- tiba ingin mencicipi ice cream. Mumpung pria itu masih di kantornya membuat Henzie ingin sekali- kali keluar dari Mansion Gin dan berjalan ke taman dekat dari mansion mereka untuk membeli sebungkus ice cream.
“Nona kau cantik sekali.” ungkap pria yang di yakini Henzie mabuk di siang bolong.
“ tuan, lepaskan tangan saya.” ungkap Henzie berusaha melepaskan tangannya yang digenggam pria mabuk itu.
“ ayolah nona, jangan jual mahal seperti itu.” ungkap pria itu tampak teman- teman pria itu tertawa melihat pria itu menggoda Henzie.
“ saya sudah bersuami.” ungkap Henzie agar mereka tidak semakin kurang ajar.
“ ayolah, aku yakin kau takkan kecewa dengan ‘permainan ‘ kami.” ungkap pria itu mulai meneteskan air liurnya.
“ jika saya bilang tidak mau..” ungkap Henzie mulai kehabisan kesabaran.
“ Argh!!” teriak pria itu ketika Henzie menginjak kaki orang itu.
“ itu berarti saya tidak mau.” ungkap Henzie menendang dagu pria yang memegang tangannya tepat dengan highell lancipnya.
Tampak teman- teman pria itu tak terima dan hendak memukul Henzie namun Henzi dapat menghindar dan melengkungkan tubuhnya kebelakang dan dengan tumpu kedua tanggannya menendang teman pria itu dengan kedua kakinya dan menjegal pria lainnya yang hendak menghajarnya. Ternyata pelajaran beladiri yang diajari keluarga Nanao benar- benar berguna di dunia yang jauh dari kata damai ini.
Argh!! teriakan keluar dari mulut Henzie kala pria yang di tendang mukanya menjambak rambut Henzie yang telah di ikat ekor kuda.
“ berani sekali kau gadis muda.” ungkap pria itu marah. Baru mau berusaha melepaskan genggaman pria itu di rambutnya, sebuah benda yang Henzie yakini Helm mendarat di muka pria itu.
“ lepaskan wanita itu.” Teriak seorang pria yang ternyata adalah Gin.
“ siapa kau?”
“ aku?” ungkap Gin dengan seringai mematikannya.
“ jika kau menginginkan wanita itu maaf cari saja wanita lain.”
“ huh!” ucap Gin, memukul tangan pria itu dengan bambu yang panjangnya ada sekitar 2 meter. Membuat pria itu berteriak kesakitan.
“ I’m sorry, mister. But, you can know. She. Is. My. wife.” ungkap Gin merangkul bahu Henzie. Kedua teman yang lainnya mulai menodongkan pisau saku dan dengan gerakan cepat Gin melumpuhkan mereka menggunakan bambu sambil sebelah tangannya masih merangkul Henzie.
“ aini many mini mo.” celoteh Gin sambil menarikan bambu nya menyerang tangan kaki dan membuat kedua pria itu lengah dan berhasil melempar kedua pisau yang di ganggam ke dua pria tersebut hingga menjauh dari mereka.
“ tuan- tuan, sebaiknya jika kalian berniat menyerang menggunakan senjata kalian harus memastikan menggenggam erat senjata kalian.” ungkap Gin dengan smirk smile nya.
“ kau!” geram pria itu. Gin serta merta mengayunkan bambu itu
BRAK!! suara bambu terdengar kuat bersamaan dengan suara teriakan pria itu lalu ia menggenggam lengannya.
“ ups! Yah, patah.” ungkap Gin meras bersalah.
__ADS_1
“ kau merasa bersalah telah mematahkan tangannya atau karena bambumu yang patah?” ungkap Henzie melihat bambu yang di gunakan Gin juga remuk tak berbentuk menghantam tulang manusia.
“ bambu nya, sayang sekali.” ungkap Gin membuang bambu yang telah hancur itu.
“ huh, kau kelihatannya kehilangan senjata ya?” ungkap salah satu pria itu hendak meninju Gin. Namun Gin dapat menangkap tangan pria itu dan memelintirnya.
“ ARGH!” teriak pria itu kesakitan karena tangannya terpeluntir.
“ apa kau pikir tanpa senjata aku tak bisa melawanmu?” ungkap Gin menendang siku tangan pria itu hingga terdengar bunyi; KREKK!! yang cukup keras dapat di bayangkan jika tangan orang itu telah patah menjadi dua. Lalu Gin menjegal kaki orang itu dan membenturkan tubuhnya ketanah dengan keras.
“ jadi tangan ini? tangan kotor ini hendak menyentuh istriku, Huh?” ucap Gin dengan smirk smile nya. Tampak kakinya menginjak pangkal tangan pria itu seolah mau memisahkan tangannya dari tubuhnya.
“ hentikan!” ungkap salah satu teman pria itu. Membuat Gin menoleh ke arah mereka.
“ Hentikan atau kami panggil police.” ungkap pria itu, dengan santainya, Gin melepas pria itu dan kedua teman pria itu langsung membawa pria itu.
“ kenapa kau melepasnya? Jika kau melepasnya, pasti mereka tetap memanggil police.” heran Henzie.
“ kau lupa aku siapa? Aku ini tak tersentuh hukum.” ungkap Gin dengan smirk smile- nya. Ia lalu mencari tempat dimana ia bisa berganti baju, dan sesuai perkiraan police datang tak lama setelah ketiga pria tadi pergi.
“ nona!” sapa salah satu pria yang berusaha melecehkan Henzie. Tampak tubunya telah rapi di perban di semua lukanya. Di belakangnya tampak beberapa ajudan polisi menyertai mereka.
“ kami dari kepolisian nona. Kemana pria yang telah menghajar klien kami?” ungkap polisi yang kelihatannya merupakan pimpinan dari para bawahannya. Sungguh melihat tawa mengejek mereka membuat Henzie kesal.
‘ huh! Klien? Mereka membayar aparat hukum?’ batin Henzie, kelihatannya kebiasaan keluarga nanao telah mempengaruhi kepribadian Henzie.
“ sir, dia orang yang telah menghajar kami.” ungkap pria yang tangannya di patahkan Gin, tampak senyum mengejek itu sirna saat melihat wajah pias para polisi.
“ ke…, kenapa?” heran pria itu.
“ tu…, tuan Ken hogward.” ucap pimpinan police itu. Ken Hogward adalah nama panggilan Gin di dunia bawah, sebagai ketua Mafia Gin memang memiliki sejuta nama palsu.
“ oh, halo sir.” ungkap Gin dengan smirk smile dengan tangan yang di silangkan di depan dadanya.
“ apa kalian mau menangkapku untuk sebuah luka kecil seperti itu?” ungkap Gin masih dengan seringai liciknya.
“ te…, tentu saja tidak, kami hanya ingin meladeni para pria ini.” ungkap pimpinan police itu dengan gemetar.
“ begitu?” ungkap Gin tenang.
“ be…, begitulah. Kalau begitu semua ayo kita pulang.” ungkap pimpinannya membubarkan semua bawahannya, meninggalkan tiga orang yang telah berubah menjadi berwajah pias.
“ hem? Jadi kalian benar- benar memanggil para police itu?” ungkap Gin dengan smirk smile membuat para pria itu berwajah pias.
“ kau.” tunjuk Gin pada pria yang luka- lukanya paling sedikit.
__ADS_1
“ merangkak.”
“ ya?” ucap pria itu memastikan pendengarannya.
“ kau tak dengar, merangkak kesini dan jadi tempat duduk ku.” ungkap Gin, sementara Henzie masih setia melihat apa yang di lakukan Gin.
Pria itu masih terdiam.
“ oh\, kau tidak mau? Pilih merangkak\, atau aku masukkan ini ke lubang ***” ungkap Gin memperlihatkan *** toys yang bergetar dan menggeliat.
“ aku tak yakin setelah kau merasakan ini kau tetap lurus setelah merasakan nikmatnya.” ungkap Gin memberi sedikit cairan ke mainan itu. Pria itu tetap tak begerak meski tampak tubuhnya bergetar hebat.
“ Robert, Han pegang kedua tangan pria itu.” ungkap Gin, lalu tiba- tiba muncul entah dari mana dua orang berseragam serba hitam dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancung mereka- memegang bahu pria itu.
“ hen…, hentikan…, baiklah aku akan merangkak.” ungkap pria itu bergetar. lalu gin duduk di atas punggung orang itu.
“ kau.” tunjuk Gin pada pria yang hampir melecehkan Henzie. Pria itu tak menjawab namun bahunya terperanjat terkejut ketika ia di tunjuk Gin, ia tak menyangka telah berurusan dengan salah satu ketua mafia.
“ jadi kau masih berani memanggil gerombolan sampah itu?” ucap Gin.
“ kau membayar mereka berapa?” ungkap Gin yang tahu jika para aparat hukum itu di bayar terutama karena ketiga berandal ini selalu lolos dari hukum.
Pria itu makin berwajah pias.
“ JAWAB!!” Dor! Satu tembakan mengenai bahu kiri pria itu.
“ ARGH!!” teriak pria itu sambil tersungkur di tanah.
“ siapa yang menyuruhmu tidur? Bangunkan dia.” ungkap Gin. langsung kedua orang berbaju hitam tadi memegang bahu pria itu agar tetap tegak berdiri.
“ Henzie.” ungkap Gin memberi pistol kepada Henzie.
“ kau tahu apa yang harus di lakukan kan?” ungkap Gin, Henzie menerima pistol itu.
DOR!! DORR!! dua tembakan pada kedua paha pria itu. Tepat mengenai kedua paha tanpa meleset, keahlian henzie dalam menembak sasaran tak perlu di tanyakan. Bahkan saat baru pertama belajar menembak para keluarga Nanao di buat terkejut akan keahlian wanita itu. Padahal Henzie mengaku baru pertama mencoba menembak sasaran.
Gin tersenyum lantas mengambil pistol dari tangan Henzie.
“ kenapa hanya paha? Harusnya kau menembak kepalanya.” ungkap Gin menempelkan pistol yang masih mengeluarkan kepulan serbuk mesiu pada kepala pria yang tengah meringis kesakitan itu.
“ DOR!!” teriak Gin, seketika membuat pria itu pingsan sambil berdiri, membuat Gin terpingkal- pingkal. Sementara pria di samping nya tengah kencing di celana.
Gin berdiri, menuju pria itu, mengambil pin yang berdarah itu. Yap, pistol itu memang asli, namun peluru itu adalah modifikasi, itu adalah peluru mainan yang jika mengenai sasaran akan meliat seperti bentuk luka dengan tetesan seolah tetesan darah. Namun meski peluru itu mainan, pistol yang di gunakan adalah asli sehingga daya lontarnya tentu akan terasa sakit jika terkena tubuh apa lagi setegah dari peluru yang tidak tajam terbuat dari bahan yang sama seperti peluru asli.
“ aku memang mafia namun aku tidak hobi membunuh.” ungkap Gin dengan smirk smilenya meninggalkan kedua pria yang masih sadar namun terduduk lemas.
__ADS_1
“ pergilah dan jangan cari gara- gara.” ungkap Henzie yang tahu dunia gelap Nanao. Seketika itu kedua temannya itu langsung menggotong pria yang pingsan itu dan berusaha lari dari ketua mafia yang menakutkan itu sementara kedua pria berjas itu sudah hilang lagi entah kemana.
---0o0---