The Mafia Is My Hubby

The Mafia Is My Hubby
pov Zen


__ADS_3

Meski di sebut perbincangan bisnis, hal itu hanya samaran berupa makan malam saja.


Setelah di beri tahu alamatnya oleh Gin, kini Zen berada di salah satu restaurant khas jepang yang menyediakan masakan khas jepang berupa sushi. Meski masakan jepang hampir sebagian mirip dengan masakan china, mulut Zen belum sepenuhnya terbiasa dengan nasi di campur ikan mentah tersebut- sehingga Zen lebih memilih menyantap sushi gulung yang sudah di pesan Gin untuknya.


Di meja persegi itu bukan hanya ada sosok Gin dan Zen saja, namun juga ada sosok yang selalu lekat dengan yukata khas jepang yang menempel di badannya juga perban yang menutupi satu sisi wajahnya- sedang menyesap arak jepang.


“ aku tak menyangka jika Papa juga akan berada di sini.” ungkap Zen.


“ kenapa? Ini juga adalah perusahaanku- aku berhak ikut andil dalam kemajuan di perusahaan, dan lagi pula kau juga adalah anakku- apa salahnya aku mengunjungi kau.” ungkap Giant dengan wajah dinginnya. Meski tahu Giant adalah ayah kandungnya dan perasaan yang kuat dari Zen akan ikatannya dengan Giant, namun Zen merasa takkan terbiasa akan wajah dingin ayah kandungnya tersebut.


“ bagaimana hubunganmu dengan istrimu?” tanya Gin menuangkan arak jepang tersebut ke gelas sake Zen.


“ haa?” ucap Zen heran- karena ia pikir Gin mengundangnya kemari untuk membahas pekerjaan.


“ kami tahu kau menikahi Cherry semata karena ingin bertanggung jawab padanya juga karena desakan Zena.” ungkap Gin. Zen hanya terdiam tak menanggapi saudara iparnya sekaligus rekan kerjanya tersebut dan memilih menyesap sake Jepang yang rasanya tak jauh beda dengan arak china tersebut.


“ apa kau tahu, Zen- cinta dan Benci itu hanya terhalang sebuah benang tipis bernama ego. Ketika orang menyingkirkan ego mereka masing- masing, apa yang orang pikir sebuah kebencian ternyata adalah cinta.” ungkap Giant menyesap sake jepang nya.


“ ya, jangan seperti kami yang karena terhalang keadaan berusaha memungkiri perasaan kami. Dan ketika kami di hadapkan kehilangan- kami jadi menderita karenanya.” ungkap Gin yang setuju kata- kata mertuanya tersebut.


“ kau lebih beruntung dari kami karena kau tak terhalang apapun. Tidak seperti kami yang terhalang negara atau karena pekerjaan kami.” ungkap Giant.


“ tapi bagaimana aku bisa mencintainya? Ia seorang player.” ucap Zen.


“ apa kau yakin ia seorang player?” tanya Giant.


“ dia dekat dengan HRD Lin.” ucap Zen.


“ hanya karena dekat bukan berarti ia seorang Player, ada juga orang yang dekat para tetua lain namun tak memperlihatkannya.” ungkap Gin kembali menuangkan sake ke gelas sake Zen.

__ADS_1


“ tapi sumpah serapahnya..” ucap Zen menggantung.


“ apa kau tahu Zen? Orang yang melakukan sumpah serapah bukan berarti orang itu buruk. Ada juga orang yang terlihat alim namun dalamnya busuk. ” ucapan Gin membuat Zen terdiam.


“ aku sudah menyelidiki kejadian siang ini.” ucap Gin memperlihatkan tablet nya kepada Zen.


“ apa?” heran Zen.


“ bukankah kau dapat laporan dari karyawanmu jika istrimu menyiram mereka dengan coffee panas kan? Aku mendengarnya dan meminta Riu untuk menghack sistem CCTV di Cafe tempat Zena mengundang Cherry.” ucap Gin.


“ Zena disana?” ucap Zen tak menyangka.


“ ya, dia yang mengundang Cherry untuk makan siang bersama, namun sesaat sebelum pulang- istriku melihat beberapa pegawai mu yang di mutasi ke jepang. Istriku itu merasa curiga lalu menaruh Mike perekam kecil yang selalu di bawa- bawanya untuk merekam kejadian mencurigakan.” ungkap Gin menyalakan rekaman CCTV yang dikirim Riu di gabung dengan rekaman Mike yang sengaja di letakkan Zena.


Zen terpana melihat kejadian sesungguhnya- ternyata apa yang di ceritakan karyawannya adalah kebohongan. Zen lalu melihat tangannya. Tangan yang di gunakan Zen untuk menampar istrinya itu. Giant mengetahui perubahan mimik putranya itu yang tampak merasa bersalah ketika mengetahui fakta sesungguhnya.


“ kau tahu, Zen? Terkadang orang melakukan sumpah serapah hanya untuk menyembunyikan apa yang di rasakannya. Bisa jadi ia bersumpah serapah karena menutupi perasaannya- agar ia terlihat kuat. Padahal orang yang seperti itu sebenarnya sangat rapuh. ” ucap Giant memegang gelas sake di tangannya sementara menatap Zen lekat.


“ kau ini teman masa kecilnya- kan? Harusnya kau yang lebih paham apa yang di rasakannya.” ucap Giant.


“Bagaimana papa tahu aku adalah teman sepermainannya dari kecil?” Tanya Zen.


“Meski aku berjauhan denganmu bagaimanapun kau tetap anakku- anak kandungku, tak mungkin aku tak mengawasi darah dagingku sendiri sekalipun aku berjauhan dengan kalian.” Ucapan Giant membuat Zen terharu. Itu sebabnya tak heran jika ikatan Zen dan Giant begitu kuat karena kecintaan pria itu pada anak- anaknya, meski anak- anaknya sekalipun tak mengenal siapa ayah kandungnya- Giant secara nyata mengawasi perkembangan anak kandungnya dari jauh.


“Kau harus mengubah pandanganmu pada istrimu sendiri sebelum terlambat. Kau akan menyesal begitu kau kehilangan dia.” Ucap Gin.


“Tapi itu tak merubah fakta jika ia benar- benar player.” ucap Zen bersikeras.


“Apa kau benar benar yakin ia player?” Tanya Giant mengulang pertanyaan yang sama.

__ADS_1


“Tapi kata orang- orang..” ucap Zen menggantung.


“Jangan dengar kata orang- orang, buktikan sendiri apakah istrimu seorang player atau hanya orang yang memakai topeng seorang yang buruk padahal dalamnya adalah orang yang baik.” Ucap Gin.


“Bagaimana cara membuktikannya?” Pertanyaan Zen membuat Gin dan Giant saling bertatap- tatapan.


“Cumbu dia.” Jawab Gin dan Giant bersamaan.


“Hanya itu caranya agar kau tahu ia seorang player atau tidak.” Ucap Giant menyesap arak jepang.


Zen hanya terdiam, apakah ia akan memilih mencoba saran ayah dan saudara iparnya atau lebih mempercayai perkataan orang- orang. Di satu sisi ia tak ingin menyesal karena bercumbu dengan seorang player namun di sisi lain ia tak ingin lagi mempercayai orang yang salah dan terus melukai orang yang tak bersalah.


Dan ketika sudah membuktikannya, penyesalan datang dari Zen- bukan karena bercumbu dengan seorang player- Cherry masihlah Virgin, namun Zen menyesal karena selama ini percaya begitu saja dengan perkataan orang.


Entah mengapa perkataan Giant yang mengatakan jika sebenarnya Cherry selalu bersumpah serapah hanya agar terlihat kuat- memenuhi pikiran Zen. Apakah memang selama ini wanita ini begitu rapuh- namun tak ingin di remehkan orang? Benar! Bahkan saat tadi Zen menamparnya dan terus memarahinya bahkan menghukumnya di kamar mandi- wanita ini tak melakukan pembelaan- menangispun tidak.


Zen jadi mengingat masa lalu. Kapan terakhir kali Chery menangis? Kapan pertama kali wanita ini jadi suka bersumpah serapah?


Sejak..., sejak Cherry kehilangan kedua orangtua dan saudarinya! Sejak orang menyalahkannya karena tak menghentikan keluarganya ke taman hiburan.


Zen menatap wajah Cherry yang menahan sakit. Bahkan ketika wanita itu kesakitan saat ini- ia tak sekalipun mengeluh, hanya tampak butiran air mata bening yang tanpa bisa di cegah menetes dari mata Cherry yang terpejam karena menahan sakit atas ulah Zen. Zen memilih mengusap air mata Cherry mencium wanita yang kini telah menjadi istrinya, melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan ketika malam pertama mereka- namun malah Zen beri malam pertama yang dingin kepada wanita itu. Bahkan kini Zen mengakui jika ia telah memberi malam pertama yang kasar kepada wanita itu.


Seharusnya Zen merasa menyesal dan bersalah, namun rasa nikmat karena sempitnya milik wanita itu memuat Zen melupakan rasa penyesalan dan bersalahnya, lagi pula Cherry adalah istrinya- tidak salah jika Zen saat ini mencumbunya.


Entah sejak kapan rintihan Cherry kini berganti menjadi desahan dan itu membuat Zen semakin menggila, rasa hangat dan milik Cherry yang masih sempit seolah mencengkram milik Zen benar- benar membuat pria itu lupa segalanya dan tanpa sadar menumpahkan segalanya dalam tubuh istrinya dalam satu hentakan kuat dan lenguhan panjang mereka berdua mengakhiri segalanya.


🌸🌸🌸🌸


suka ga?

__ADS_1


kalau suka jangan lupa like dan lovenya yang banyak ya


juga coment deh biar author bisa memperbaiki cerita author


__ADS_2