
Setelahnya Cherry di pulangkan Zen ke Jepang. Cherry yakin, meski pria itu sudah meminta maaf pada Cherry namun belum sepenuhnya percaya pada istrinya tersebut. Cherry tak mempermasalahkannya, malah ia bersyukur bisa menjauh dari saudarinya tersebut. Dengan perutnya yang mulai membesar dan tak lagi bisa di tutupi, membuat Cherry merasa lebih aman berjauhan dari saudarinya terebut.
Yang di lakukan Cherry hanya duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV. Semenjak hamil, Cherry menemukan hobby baru yaitu merajut. Ia sangat suka pada merajut dan berniat merajut baju- baju untuk calon anaknya kelak. Hingga Cherry di kejutkan dengan suara bell dirumahnya yang berbunyi.
“ siapa?” heran Cherry.
“ ini aku?” ucap sebuah suara.
“ Zen?” heran Cherry saat melihat sosok suaminya berdiri di depan pintu.
“ kenapa kau membunyikan bell pintu rumah?” heran Cherry.
“ kunciku hilang.” ucap Zen, memeluk istrinya.
“ apa kau mabuk?” heran Cherry.
“ tidak.” ucap Zen mengelus pipi istrinya dan menyingkirkan anak sulur rambut istrinya kebelakang telinga istrinya.
“ aku hanya merindukanmu.” ucap Zen mulai mencium Cherry.
__ADS_1
Cherry hanya membulatkan matanya, ia begitu terkejut akan serangan tiba- tiba yang di berikan suaminya hingga hanya bisa pasrah saat suaminya menggendongnya dan membawanya kekasur mereka. Dan entah bagaimana atau sejak kapan semua pakaian Cherru sudah tergeletak di lantai begitu pun Zen yan sudah tak menggenakan apapun di tubuhnya.
“ perasaanku saja, atau kau memang terlihat lebih berisi?” heran Zen menatap bentuk tubuh Cherry yang memang berisi di beberapa bagian.
“ a.., aku.., aku memang menggendut karena nafsu makanku yang meningkat karena musim gugur.” ucap Cherry menutupi perutnya.
“ tak apa kau semakin terlihat sexy di mataku.” ucap Zen bersiap memasuki Cherry.
“ apa?” baru mau Cherry bertanya, pikirannya langsung berkabut akan kenikmatan saat milik suaminya memasuki dirinya.
“ astaga, milikmu hangat sekali.” rancu Zen.
“ erm.., ya.” bukan jawaban yang di ucapkan Cherry seperti rancuan karena tak lagi bisa berpikir normal.
“ ya.” rancu Cherry.
“ apa? benarkah kau sakit?” ucap Zen menhentikan pacunya.
“ ouh, Zen aku mohon jangan berhenti.” rengek Cherry. Sungguh, hormon kehamilan membuatnya lebih bergairah, namun ia selalu menahannya karena tak ingin memaksa suaminya.
__ADS_1
Zen hanya terdiam, selama ini, istrinya tak pernah memohon kepada Zen seperti ini karena memang Zen lah yang selalu aktif memimpin permainan mereka. Bahkan selama ini Cherry tak pernah meminta ketika sedang ingin dan selalu menunggu Zen yang merangsang Cherry sebagai tanda meminta kepada istrinya.
“ aku suka saat kau jujur.” ucap Zen lalu menciumi istrinya dan mulai memacu pinggulnya.
*
Zen menatap istrinya yang tertidur di sebelahnya, sejujurnya, Zen merasakan adanya keanehan pada diri istrinya.
Tubuh istrinya yang berisi juga menghangat serta istrinya yang mulai aktif merangsang Zen membuat pria itu sadar jika ada yang berbeda dari istrinya tersebut. Zen juga menyadari; jika biasanya istrinya akan tetap terjaga untuk membersihkan tubuhnya juga Zen namun kali ini tampak jika Cherry yang langsung tertidur karena kelelahan. Zen mengelus perut Cherry yang di rasa memang membesar.
‘ mungkinkah Cherry hamil?’ batin Zen membuat nya tersenyum tanpa sadar.
‘ tidak! Dokter mendiagnosa jika istriku tak bisa hamil, tak mungkin anak kami tumbuh di tubuhnya saat ini kan?’ batin Zen dan seketika itu juga senyum memudar dari wajah Zen.
‘ lagi pula jika Cherry hamil, seharusnya ia memberi tahuku. Ia bahkan tak mengatakan apapun kepadaku.’ batin Zen mulai memeluk istrinya dan ikut larut ke dalam dunia mimpi mereka.
Dan saat itu entah mengapa Zen bermimpi sedang bermain dengan seorang anak perempuan dan Cherry- bersama di sebuah taman bunga. Sebuah mimpi sederhana namun dapat membuat Zen tersenyum karena mimpi sederhana itu.
o0o
__ADS_1
beberapa hari ini author rajin update lho jg lupa likenya donk
biar author semangat up lagi😆😆😆😆😆