
“Kenapa kau tidak menolongnya? Ia berteriak minta tolong padamu.” Isak Zena- sungguh, kehamilan membuat wanita itu menjadi lebih sensitive.
“Kak, aku pikir jika ia dan si tua genit Lin itu hanya sandiwara.” ucap Zen berkilah.
“Apa kau pikir berada di ujung hidup dan mati adalah sandiwara?” Tanya Gin.
Zen menyugar rambutnya dengan gusar, ia tak menyangka jika kejadian yang dialami siang ini akan membuatnya di benci kakak perempuannya.
Benar, setelah mendapatkan informasi dari Riu dimana letak Cherry, Gin lalu menghubungi mantan HRD Lin dan secara bersamaan menyuruh Zen untuk ke tempat yang di beritahukan Riu kepadanya.
Satu- satunya yang tak di perhitungkan Gin adalah si tua Lin itu ternyata adalah orang yang nekat,tepat pada saat Lin itu menemukan Cherry- pria tua itu menyeret Cherry dengan alasan tak terima di campakkan begitu saja oleh Cherry- hanya karena ia yang tak lagi bekerja perusahaan Z yang kini berganti nama menjadi Shengly Group. Gin juga lebih tak mengira lagi jika Zen tak menolong Cherry ketika wanita itu dalam bahaya- tepat di depan mata pria itu.
“ Tuan Lin! Aku mohon lepaskan saya! Saya minta maaf jika menyinggung anda, tapi saya dan anda emang tak ada hubungan apa- apa.” ucap Cherry berusaha berontak ketika si Tua Lin menyeretnya ke mobilnya. Dan tepat pada saat itu Zen datang ke lokasi tempat di mana Cherry di seret Lin.
“ tuan! Tuan Zen! To.., tolong saya!” panggil Cherry, namun tampak jika Zen hanya menghela nafas kasar dan berbalik arah- mengira jika apa yang di lakukan Cherry dan mantan Hrd Lin itu hanya bersandiwara. Dan tepat pada saat itu Gin dan Zena datang menyusul ke arah Cherry dan HRD Lin.
“ kenapa kau tak menolongnya! Kau ini bodoh ya?” tanya Gin yang panik dan segera berlari kearah Cherry. Ia tak menyangka karena jika HRD Lin akan benar- benar melakukan hal nekat
“ untuk apa menolongnya? Mereka itu hanya bersandiwara agar menarik simpati kita!” ucap Zen jengah.
“ dasar bodoh! Ia benar- benar dalam bahaya bodoh!” ucap Gin yang segera mencoba menghalangi Lin ketika pria tua itu mencoba menodongkan senjata tajam ke arah Cherry. tampak wanita itu yang sudah berusaha berlari ke arah Gin karena ketakutan.
Awalnya Zen masih mengira jika Cheri dan HRD Lin hanya sekedar bersandiwara, hingga mata Zen menangkap dengan jelas jika pisau yang di gunakan mengancam itu tepat mengenai perut Cherry karena wanita itu tak sempat berlindung di belakang tubuh Gin dan membuat wanita itu langsung meringkuk kesakitan.
Zen masih terdiam kaku, pria itu begitu bingung. ia meyakini jika Lin dan Cherry bersandiwara,namun dengan mata kepalanya sendiri ia melihat jika Cherry sudah meringkuk kesakitan dengan darah yang mengotori seragam yang ia gunakan untuk wawancara kerja hari ini- sementara Zena sudah berteriak Histeris, ia lalu berlari menuju tubuh wanita itu dan memegangi Cherry yang sudah berlumuran darah.
*
Entah bagaimana Gin telah meringkuk HRD Lin dan kini pria tua itu akan di pastikan membeku di penjara, sementara kini Cherry sedang di rawat oleh Rick di meja operasi, Zen yang hanya bisa berdiri di luar ruang operasi, pikirannya seolah membeku, ia berpikir jika wanita itu dan si tua Lin sedang bersandiwara, namun hati nuraninya mengatakan tak mungkin- hanya untuk sebuah sandiwara sampai melukai dirinya sendiri. secara nyata ia melihat sendiri jika darah Cherry telah memenuhi seragam yang di kenakan wanita itu.
“ kau ini bodoh! Mengapa kau mengundang si Tua Lin itu kepada Cherry! Gara- gara kamu, nona Cherry kini berada di ujung hidup dan mati.” isak Zena memukul bahu suaminya.
__ADS_1
“ aku tak pernah berpikir jika pria itu akan senekat itu!” ucap Gin mencoba menghindar dari pukulan istrinya yang histeris.
“ kau juga! Sudah tahu jika si tua itu nekad kenapa kau tak menolongnya? Ia bahkan berteriak minta tolong padamu.” ucap Zena terisak kepada Zen.
“ kakak! Aku tak tahu jika mereka sungguh- sungguh! Ku pikir ia hanya sandiwara.” ucap Zen tak menyangka jika Cherry kini benar- benar dalam keadaan hidup dan mati.
“ jika ia bersandiwara, ia tak perlu melukai dirinya hanya untuk berada di ujung hidup dan mati!” geram Gin, yang tak menyangka jika Zen akan membiarkan Cherry dalam bahaya hanya karena penilaian kata- kata yang pernah di ucapkan wanita itu.
“ jika nyawanya tak tertolong aku takkan memaafkan kalian berdua.” isak Zena. Gin memilih memeluk istrinya itu.
“ sst..., sayang. Aku mohon maafkan aku, ya? Pikirkan anak kita! Jangan terlalu histeris seperti itu! Yang terpenting kita hanya bisa berdoa, semoga Rick berhasil menyelamatkan Cherry.” ucap Gin menenangkan Zena.
Tepat pada saat itu lampu ruangan Operasi mati dan Rick keluar dari ruangannya- lengkap dengan baju hijau operasi masih dengan beberapa ceceran darah di bajunya.
“ bagaimana keadaan Cherry?” tanya Zena.
“ apa ada keluargannya?”tanya Rick, mengalihkan.
Rick hanya menarik nafas sebentar kemudian berucap.
“ dia selamat, tapi....” ungkap Rick menggantung, ia menatap Gin, setelah melihat jika kakak sepupunya itu menganggukkan kepala baru ia melanjutkan.
“ luka tusuknya terlalu dalam hingga melukai dinding rahimnya, kemungkinan untuk hamil sangat susah, ditambah lagi jika hamil kemungkinan antara keguguran atau tubuhnya yang melemah.” ucapan Rick membuat Zena semakin bersedih.
Sebagai wanita ia sungguh mengerti keadaan Cherry. Hal yang paling di idamkan semua wanita adalah menjadi sempurna; menikah merasakan bahagianya jatuh cinta, mengandung dan memiliki anak, namun semua itu harus kandas, takkan ada seorang pria yang bisa menerima Cherry jika tahu wanita itu takkan bisa memiliki anak.
“ kak.” ucap Zen menyadarkan kakak perempuannya.
“ ini gara- gara kau!” pekik Zena.
“ kak! Aku tidak tahu apa- apa!” ucap Zen.
__ADS_1
“ kau harus menikahinya!” ucapan Zena sungguh mengagetkan Zen.
“ kak! Aku bahkan tidak mencintainya!” ucap Zen bersikukuh.
“ tapi jika kau tak menilai wanita hanya dengan ucapannya dan menolong Cherry yang meminta tolong padamu, ia takkan menerima nasib seperti itu.” pekik Zena memukul bahu Zen.
“ kakak!” ucap Zen tak terima.
“ jika kau tak mau aku akan mengadukanmu pada mama dan papa Giant! Kalau perlu papa Chan!” pekik Zena masih memukuli adik laki- lakinya, hingga Gin harus turun tangan menenangkan istrinya.
“ sudahlah, Zen. Turuti kakak perempuanmu, kau tidak kasihan nasib Cherry?” tanya Gin memeluk Zena yang terisak di dada Gin.
“ kenapa harus aku?” gerutu Zen.
“ harus ada yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada wanita itu, kau ini sudah dewasa Zen, tidak mungkin juga kita meminta papa Chan yang menikahinya, umur mereka terpaut sangat jauh, sementara kau hanya terpaut beberapa tahun dengannya. lagi pula kau ini tidak memiliki kekasih!” ucap Gin membungkam mulut Zen, ia memilih menemui Cherry yang telah di bawa kekamarnya dan di kabarkan telah sadar. Zen berniat meminta wanita itu untuk mengatakan pada kakaknya jika ia tak bisa menikahi wanita itu.
Di sisi lain, setelah 3 jam tertidur akibat obat bius- Cherry akhirnya telah siuman dan karena ia tak memiliki siapapun- wanita itu di beri tahu jika ia tidak memiliki kemungkinan tidak bisa mempunyai anak. Tampak jika wanita hanya terdiam, pikirannya kosong, ia tak dapat mencerna apapun yang tadi di katakan suster yang membawanya menuju ruangannya.
‘ aku? Mandul?’ batin Cherry.
Cherry lalu mengelus perutnya yang masih tertempel perban yang menutupi lukanya belum mengering.
‘ apa ini karma?’
‘ karma, karena aku telah melukai hati orang- orang melalui ucapanku?’
‘ karma karena aku terus mengiyakan ajakan kencan tuan Lin meski hatiku tetap enggan padanya?’
Ia hanya menatap ke selimut yang masih melekat pada tubuhnya. Ia ingin menangis, namun hatinya terasa hampa, setelah kehilangan kedua orang tuanya dan saudarinya- ia di hadapkan jika takkan ada yang mungkin menerima dirinya yang cacat- belum kemungkinan hidup sebatang kara, bahkan seorang anakpun takkan bisa ia miliki untuk menemani hidupnya.
Cherry terlalu kalut akan pikirannya hingga tak menyadari Zen yang telah berdiri di depan ruangan Cherry dan mendapati tatapan kosong Cherry. Ia terus mengingkari jika Cherry tak bersungguh- sungguh menderita, namun melihat tatapan kosong wanita itu membuat Zen hampir goyah jika Cherry benar- benar bersedih karena keadaan yang menimpanya.
__ADS_1
0o