The Mafia Is My Hubby

The Mafia Is My Hubby
i'm your hubby


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 saat Gin juga Zena beserta Zen menginspeksi lapangan tempat akan di jalankan kerja sama mereka. Mereka berencana menukar produk mereka, Zen dengan produk obat- obatan China nya dan Gin dengan mesin produksi makanan kalengnya dan tentu saja produk- produk mereka nanti akan menggunakan hasil design Zena sehingga Zena akan ikut andil dalam menginspeksi lapangan ini nanti.


Tampak jelas jika Gin selalu mencuri pandang menatapi Zena yang fokus melihat- lihat pabrik industri perusahaan Gin beserta kecanggihan mesinnya dan mencatat beberapa hal yang di perlukan. Zen hanya tersenyum melihat kedua interaksi suami istri ini.


“ aw!” ucap Zen tiba- tiba.


“ Zen?” “ tuan Zen?” ucap Zena dan Gin bersamaan.


“ ada apa?” heran Zena mendekati Zen yang memegangi perutnya.


“ tiba- tiba perutku sakit, aku kebelakang dulu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan- kan?” ucap Zen menyerahkan beberapa berkas agar di tangani Zena dan meninggalkan Zena dan Gin sendirian.


Hening dan canggung itulah yang terjadi antara mereka berdua. Selama ini Zen lah yang menghidupkan suasana, sehingga saat mereka di tinggal berdua hanya ada kecanggungan di antara mereka berdua sementara Gin sendiri binggung harus mulai dari mana.


“ eng.., ayo kita lanjutkan inspeksi nya.” ucap Gin kepada Zena.


“ tentu.” ucap Zena mengikuti Gin.


“ sial! Sudah di tinggal sendiri malah canggung ajh tu dua orang.” ucap Zen melihat kedua orang itu dari kejahuan dan melihat kecanggungan yang terjadi.


Ditatapnya Zena yang tengah berbicara dengan yang memimpin pengawas kinerja lapangan. Hari ini Zena mengikat rambutnya tinggi di padu dengan blazer dan rok yang menampilkan bokong sekalnya di padu dengan stiletto bewarna senada dengan blazer yang di gunakan. Mengingatkannya saat pertama Gin membawa Henzie kekantornya. Meski lupa ingatan, detail pada design nya tak berubah, bahkan semakin bagus dari terakhir kali Gin melihat hasil karya istrinya. Mengingatnya membuat Gin kembali merindu.


“ tuan? Anda tidak apa- apa?” heran Zena karena tiba- tiba melihat ada air mata yang keluar dari pelupuk mata Gin.

__ADS_1


“ ah…, saya tidak apa- apa.” ungkap Gin menghapus air mata dengan telapak tangannya.


“ kalau ada masalah lebih baik di bicarakan saja mungkin saya bisa membantu.” ungkap Zena tersenyum simpul untuk menenangkan pria di depannya ini. Mengarahkan pria yang ada di depannya ini untuk duduk di bangku kosong di taman dekat lokasi proyek kerjasama mereka.


“ aku hanya merindukan istriku.” ungkap Gin menengadahkan kepalanya kelangit.


“ istri?” ucap Zena meyakinkan pendengarannya.


“ ya. Istri.” ucap Gin kembali mengulang perkatannya.


“ kemana istri anda?” heran Zena.


“ setahun yang lalu ia menghilang.”


“ ya, hilang! Ini salahku, dia salah paham akan aku dan pergi meninggalkanku.” ucap Gin mengingat kembali masa- masa kala dia di kabarkan kehilangan istrinya karena kecelakaan.


“ bagaimana istri anda bisa meninggalkan anda? Anda menyakitinya?”


“ bisa di bilang begitu. Awal pernikahan kami bisa terjadi adalah karena perjodohan, aku terus menjaga jarak dengannya karena pekerjaanku sehingga aku terus saja melukainya. Namun tanpa kusadari jika selama ini ia telah ada di hatiku dan saat aku menyadarinya aku malah menyakitinya.” ungkap Gin dengan sendu menatap Zena. Mencoba meminta maaf melalui Zena yang sudah melupakan dirinya.


“ dari cerita anda- anda terlihat mencintai istri anda.”


“ so much.” ucap Gin mencoba menggenggam Zena namun ia urungkan karena ia tahu jika Zena belum mengingatnya.

__ADS_1


“ bisa anda ceritakan ciri istri anda siapa tahu aku bisa meminta Zen, suami saya membantu mencarikan istri anda.” ada perasaan ngilu mendengar istri kecilnya memanggil pria lain sebagai suaminya.


“ rambutnya ikal dan panjang.” ungkap Gin menatap lekat wanita yang sedang berbicara dengannya.


“ matanya bulat besar dengan warna pupil hitam legam seperti warna rambutnya. Hidungnya kecil namun terasa pas dengan wajah semi bulat nya, bibirnya yang tipis membuat siapa saja rindu akan bibirnya.” ucap gin terus menatap Zena dan pandangan matanya terkunci pada bibir Zena yang telah teroles warna gelap.


“ leher nya yang jenjang, pundaknya yang tegak, dadanya yang padat berisi.” ucap Gin menelan saliva nya dengan susah payah. Entah mengapa ia merasa begitu gerah. Telah lama setelah kedatangan istri nya ia tak pernah bersentuhan dengan wanita jika bukan karena di jebak pada saat itu. Dan setelah kehilangan istrinya setahun yang lalu ia tak juga menuntaskan hasrat nya kepada wanita lain. Gairahnya hilang bersamaan dengan hilangnya istrinya setahun silam dan kini istri nya tepat berada di depannya entah mengapa membuat tubuh bagian bawahnya menegang seketika meski hanya menatap tubuh istrinya.


Entah apa yang yang menggerakkan Gin, ia merengkuh leher Zena dan mulai ******* bibir tipis yang telah lama di rindukan. Tampak awalnya Zena terkejut, namun entah mengapa bukannya memberontak, Zena malah mengikuti alur ciuman Gin seolah pernah merasakan ciuman ini di suatu tempat.


Zena hanya menutup matanya dan mengikuti alur ciuman Gin. Yang awalnya hanya ******* menjadi menuntut. Gin mulai menggigit bibir Zena agar membuka mulutnya, setelah mulut Terbuka, lidah Gin langsung menjulur ke dalam. Merasakan manisnya rongga mulut pasangannya. Saling bersilat lidah, memaksa pasangannya untuk membalas apa yang di lakukannya. Saling berbagi udara. Dan saat mereka telah kehabisan nafas, Gin mulai membuka matanya dan menatap manik mata milik Zena lekat. Manik mata hitam milik istrinya yang begitu di rindukan.


Dan sepersekian detik akhirnya Zena sadar apa yang di lakukannya.


“ maafkan saya, tuan.” ucap Zena berdiri sambil mengusap bibirnya.


“ Zen…a.” ucap Gin berusaha memanggil Zena.


“ lain kali jangan seperti ini, saya harap anda masih menghargai direktur Zen selaku kerabat bisnis dan suami saya, pikirkan bagaimana perasaannya saat tahu istrinya berciuman dengan pria lain.” entah mengapa mendengar Henzie atau Zena menyebut pria lain sebagai suami nya membuat hati Gin menjadi Linu. Ia mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia mengatakan:


‘ suami mu itu aku!’


Tapi apalah daya, Zena saat ini belum sepenuhnya mengingatnya. Gin membuang nafasnya dengan berat. Jika seandainya dulu ia tak menjaga jarak dengan Henzie sudah pasti bukan perkara sulit bagi Gin untuk mengembalikan ingatan Henzie. Sedangkan yang di lakukan Gin hanya lah menyakiti Henzie saat masa pernikahan mereka. Dan saat Gin mulai menyadari perasaannya, ia malah memberi luka untuk Henzie- Luka yang membuat Henzie menghilang dan memilih melupakan Gin suaminya sendiri.

__ADS_1


0o


__ADS_2