
Kandungan cherry sudah berumur 7 bulan dan perutnya semakin terlihat membesar, bahkan baju kebesaran saja tak lagi bisa menutupi perut Cherry yang membesar.
Beruntung Cherry tak lagi mengurus baby Zi dan Baby Za, karena Cherry tahu- meski Zena terlihat kikuk, wanita itu adalah pribadi yang tanggap. Cherry takut jika Zena tahu dirinya hamil.
Sebenarnya, bukan maksud hati Cherry merahasiakan kehamilannya dari Zena, wanita itu sudah membantu Cherry banyak hal. Namun semenjak membulatkan tekadnya untuk merahasiakan kehamilannya dari suaminya membuat Cherry menutupi kepada semua orang soal kehamilannya. Agar suatu hari nanti saat suaminya ingin berpisah dari dirinya, ia masih memiliki seseorang yang bisa menemani hari- harinya, yaitu anaknya kelak.
❄❄❄❄
Hari ini sedang musim dingin dan Cherry tampak mulai kesusahan berjalan karena perut besarnya di tambah berlapis- lapis baju yang menutupi perutnya agar calon anaknya tetap hangat di tubuhnya. Kala itu, suaminya masih sering bolak- balik ke China untuk mengunjungi Lexia.
‘ kau lihat Cherry? selamanya hanya aku-wanita yang di cintai Zen. Tak butuh waktu lama bagiku meyakinkan Zen meninggalkanmu.’ ucapan saudarinya itu entah mengapa teringang di pikiran Cherry. Tanpa bersusah payah, saudarinya itu sudah menunjukkan secara nyata jika suaminya lebih peduli pada Lexia dari pada Cherry- istrinya sendiri.
‘ keputusan mama ini tepatkan? Saat ada masanya papamu ingin berpisah dengan mama nanti kau tetap di sisi mama kan? Hanya kau yang mama miliki saat ini, nak.’ batin Cherry mengelus perutnya.
“ kenapa perutmu?” tanya sebuah suara mengejutkan Cherry. Saat kuncinya hilang Zen segera membuat kembali duplikat kuncinya agar tak susah pulang dan pergi.
“ Zen? Kau sudah pulang?” ucap Cherry terkejut. Beruntung Cherry menutupi semua bagian tubuhnya.
“ ya, kenapa perutmu? Dan mengapa kau memakai baju setebal itu?” heran Zen.
__ADS_1
“ ha.., hanya kembung, mungkin karena udara yang mulai dingin.” ucap Cherry sebagai alasan.
“ begitu?” ucap Zen.
“ kenapa kau tiba- tiba pulang?” heran Cherry.
“ apa aku tidak boleh pulang secara tiba- tiba?” heran Zen.
“ tidak.” ucap Cherry tergugu.
“ lagi pula aku memiliki kejutan untukmu.” ucap Zen.
“ tada.” ucap Zen menunjukkan kejutannya. Cherry membulatkan matanya, ia memang terkejut, namun dari pada bahagia, Cherry justru ketakutan, seketika itu juga secara naluri Cherry melindungi perutnya.
“ kenapa, sister? kau tak senang akan kedatanganku?” tanya Lexia.
“ ti.., tidak, i.., ini sungguh kejutan untukku.” ucap Cherry terbata karena ketakutan.
“ Lexia bilang; ia ingin tinggal disini, bersama kita. Katanya, ia kasihan padaku harus pulang Jepang- China hanya untuk mengunjungi dirinya.” ucap Zen mengambil tas Lexia untuk di bawa ke ruang tamu. Karena Zen membawa masuk tas Lexia sehingga tak melihat Lexia yang tersenyum dan berkata.
__ADS_1
“ kau tampak berbeda, sister.” ucap Lexia.
“ be.., berbeda? Tak ada yang berbeda denganku!” ucap Cherry.
“ kau tampak sedikit berisi di beberapa bagian.” ucap Lexia meraba tubuh Cherry.
“ terutama perutmu. Apa kau hamil?” tanya Lexia mendekatkan wajahnya pada wajah Cherry.
“ aa.., aku lupa jika sekarang kau wanita cacat, sister. Tak mungkin bisa memiliki anak kan?” ucapan Lexia sesungguhnya cukup menyakitkan bagi Cherry, namun ia tetap lega karena Lexia tak mengetahui kehamilannya.
“ kasihan Zen, karena hal yang bukan kesalahannya mengharuskan dirinya menikahi wanita cacat sepertimu.” ucap Lexia menyibakkan sulur rambutnya yang menutupi lehernya. Cherry begitu terkejut melihat tanda di leher saudarinya. Apakah itu.., kissmark? Batin Cherry.
💜💜💜
suka ga?
klo suka jangan lupa like dan love love nya ya
author sie harapnya bisa dpt 100 coment
__ADS_1
apalah daya krn author msh penulis amatir😢