
Zen senang, meski tampak bingung- Cherry tetap mau menyusi Huan Ran- putri mereka.
Meski tampak jika wajah Cherry terlihat datar saat menyusui Huan Ran- Zen tetap merasakan perasaan hangat mengalir pada dadanya melihat istri dan putrinya itu.
‘ mungkin benar kata Gin, sedikit demi sedikit akulah yang harus membangkitkan kenangan Cherry.’ batin Zen. Tampak Cherry yang terus menatap ke arah Zen.
“ kenapa kau terus menatapku?” tanya Zen yang menyadari jika Cherry terus menatapnya.
“ kau siapa?” ulang Cherry.
“ aku Zen- suami mu.” ucap Zen tak lelah mengingatkan istrinya.
“ kenapa kau tersenyum melihatku menyusui?” tanya Cherry. Mendengarnya Zen hanya tersenyum, biasanya Cherry hanya terdiam melihat apa yang di lakukan Zen, namun kini- istri kecilnya seolah menjadi pribadi yang lain. Dan Zen cukup menyukai kepribadian Cherry yang lain ini karena terlihat imut di matanya.
“ kau cantik.” ucap Zen.
“ terimakasih.” ucap Cherry setelah terdiam sesaat.
🌸🌸🌸
Setelah kesehatan Cherry di nyatakan pulih, akhirnya, Rick memperbolehkan Cherry pulang.
“ ini rumah siapa?” tanya Cherry.
” rumah kita.” ucap Zen merangkul bahu istrinya.
“ istirahatlah di kamar, aku sudah membeli box bayi untuk Huan Ran.” ucap Zen membawa tas perlengkapan milik Cherry.
“ kau perlu bantuan..., er..” ucap Cherry menggantung.
“ Zen,namaku; Zen.” ucap Zen tak lelah mengingatan Cherry.
“ atau kau bisa memanggilku; suamiku atau sayang mungkin?” goda Zen.
“ tidak, Zen cukup. Apa kau butuh bantuan Zen?” ulang Cherry.
“ tidak, kau pasti lelah. Kau cukup menggendong Huan Ran ke box bayinya.” ucap Zen.
” tapi Huan Ran masih sangat mungil, apa tak apa meletakkannya hanya di Box baby?” tanya Cherry.
” aku sudah bertanya pada dokter dan mereka mengatakan jika anak kita sangat kuat, organ dalam tubuhnya bahkan sudah berkembang sempurna.” ucap Zen yang tahu kekhawatiran Cherry.
“ dia sangat kecil. Aku dengar bayi berumur tiga bulan sudah bisa membuka matanya. Tapi mengapa ia masih belum membuka matanya?” heran Cherry yang sudah mengetahui jika ia tertidur sekitar 100 hari lebih.
“ ya, kau benar. Mungkin karena ia sudah terlahir saat masih berusia 7 bulan di kandunganmu. Tapi aku sudah bertanya pada dokter jika itu reaksi yang lumrah dan biasa pada bayi prematur.” ucap Zen memasukkan baju- baju milik istrinya ke lemari baju mereka.
__ADS_1
“ apa kau lapar?” ucap Zen mencium pipi Cherry.
“ apa kau akan memasak untukku?” tanya Cherry.
“ aku harap lidahmu takkan mati rasa karenanya.” ucap Zen tertawa.
“ kenapa?” heran Zen.
“ terakhir dan pertama kali aku memasak rasanya sangatlah asin.” ucap Zen mengingat saat pertama dirinya mau makan masakan Cherry sekaligus menghabiskannya.
“ benarkah?” heran Cherry.
“ ya, dan aku sangat heran kenapa kau waktu itu mau memakan masakan buatanku yang aku sendiri merasa jika itu tak lebih dari racun.” ucap Zen tertawa.
“ mungkin karena kau tak pernah melakukannya?” ucapan Cherry membuat Zen terdiam.
“ ya, mungkin aku yang memang tak pernah melakukan sesuatu untukmu.” ucap Zen entah mengapa rasa sesal kembali memenuhi dadanya.
“ kau menangis?” heran Cherry.
“ tidak.”ucap Zen menghapus setitik air mata yang keluar tanpa bisa di cegah Zen.
“ ku rasa aku hanya merindukanmu.” ucap Zen.
‘ sekaligus menyesali apa yang pernah kuperbuat padamu.’ batin Zen.
“ sudahlah, aku akan memasak untukmu. Aku harap tak seasin pertama kali aku memasak.” ucap Zen segera beranjak menuju dapur mereka.
“ kau mau aku bantu?” ucap Cherry.
“ tak usah, kau istirahatlah, aku yang akan melakukannya. Maksudku memasak.” ucap Zen bergegas menuju dapur. Melihatnya Cherry hanya tersenyum.
Dari balik pintu kamarnya, secara nyata Cherry melihat bagaimana Zen memasak. Namun secara reflek- Cherry menuju Zen kala melihat suaminya itu memotong jari tangannya.
“ kau tak apa?” ucap Cherry panik.
“ tak apa, ini hanya luka kecil.” ucap Zen menyembunyikan jarinya yang berdarah karena tergores pisau.
“kemarikan tanganmu.” ucap Cherry menjulurkan tangannya.
“ ini hanya luka kecil, sayang.” ucap Zen mencoba mengalihkan. Cherry hanya menatap Zen dengan tatapan jengah.
“ baiklah.” ucap Zen memberikan tangan kanannya dimana ada jari yang terluka.
“ ini hanya luka kecil, kau tak usah khawatir.” ucap Zen saat Cherry melihat luka Zen.
__ADS_1
“ meski hanya luka kecil tetap harus di bersihkan, Zen.” ucap Cherry membersihkan tangan Zen setelah menarik tangan suaminya ke arah kran tempat mencuci piring.
“ aku rasa saat pulang dari rumah sakit aku di hadiahi beberapa alat- alat P3K.” ucap Cherry beralih menuju kamarnya untuk mengambil tasnya.
” tidak usah, sayang. Ini hanya luka kecil.” ucap Zen menyusul istrinya.
“ aku tidak mendengarmu.” ucap Cherry tetap mencari barang yang di maksud.
“ aha! Ini dia!” ucap Cherry setelah menemukan barang yang di carinya.
“ duduklah, aku akan membersihkan lagi lukamu dengan alcohol dan menutupnya dengan plester.” ucap Cherry.
”sayang, ini hanya..” ucap Zen menggantung.
“ diamlah!” ucap Cherry tak mau di bantah. Zen hanya terdiam melihat istrinya dengan telaten merawat luka Zen. Sungguh, seandainya Zen tak pernah menjaga jarak dulu, pasti momen sederhana ini juga akan terjadi. Zen sadar, mungkin sifat Cherry yang berubah bukan karena dirinya yang hilang ingatan namun karena ini memang pribadi seorang Cherry.
Keengganan lah yang membuat Cherry memilih menutupi dirinya. Mungkin, jika bukan karena Zen yang menjaga jarak, Zen akan melihat pribadi Cherry yang sama seperti yang di lihat Zen saat ini.
“ sudah bersih, kurasa akulah yang harus memasak, Zen. Kau baru akan memasak dan kau sudah terluka karenanya.” ucap Cherry beranjak dari duduknya setelah selesai mengobati Cherry.
“ tak usah, bukankah kau ini hilang ingatan? Kau masih harus istirahat.” ucap Zen.
“ apa kau tahu, Zen? Seseorang bisa kehilangan ingatan namun tidak dengan bakatnya- kecuali seseorang itu menjadi cacat dan tak lagi bisa beraktivitas.” ucap Cerry menangkupkan tangannya di kedua pinggangnya.
“ dan kau bisa lihat sendiri aku masih bisa berdiri tegak. Jadi kau saja yang jaga Huan Ran sementara aku akan memasak untuk kita.” ucap Cherry mulai memakai Apron nya.
Zen hanya terdiam dengan kagum melihat istrinya yang memasak. Selama ini ia hanya tahu masakan Cherry tanpa pernah melihat bagaimana istrinya memasak.
“ dua porsi egg rice.” ucap Cherry meletakkan dua porsi nasi goreng buatannya. Dari baunya saja masakan istrinya selalu bisa menggunggah selera seorang Zen.
“ karena aku sedang menyusui aku tak berani membuat terlalu pedas, apakah itu cocok di lidahmu?” tanya Cherry. Zen hanya terus mengunyah sambil memberikan kedua ibu jarinya. Ia begitu merindukan masakan istrinya, di tambah memang masakan istrinya ini memang enak.
🌸🌸🌸
suka ga?
maaf author telat up nya
trouble dari kuota author😂
mau hbs mungkin
siapa tahu ada yang berkenan isi kan?
author akan sgt berterima kasih
__ADS_1
😂😂😂