
Sepulang dari kantor aku memilih untuk langsung pulang dan mengistirahatkan diri. Aku baru pertama bekerja dan belum memiliki teman, hingga tak memiliki kegiatan lain selain kekantor dan berbelanja kebutuhan- lagi pula dengan berbagai macam gosip tentangku, aku tak yakin jika mereka mau berteman denganku- dengan tulus.
Aku menatap ke apartement yang kini ku tempati. Apartement yang di sediakan oleh kantor ini cukup mewah dan besar. Untuk pertama kalinya, aku memiliki atap yang lebih dari cukup untuk bermalam, kasur yang empuk untuk mengakhiri hari, mungkin jika aku tak lagi memikirkan untuk mencari keluarga kandungku, semuanya akan menghampiri aku.
Aku mengganti posisi tidurku dan menatap ke sekeliling kamar apartement ku. Memikirkan apa yang tadi di bicarakan Henzie, maksudku Zena dan direktur Chan beserta suami Zena.
Zena tetap mendukungku dan meminta Direktur Chan untuk memperlakukanku dengan baik. Entah baaimana aku jadi merasa bersalah telah merasa cemburu juga iri, ini bukan salah Henz.., maksudku Zena- menemukan keluarga kandung nya dan aku belum. Mungkin Tuhan memiliki alasan sendiri kenapa tidak menyatukan aku dengan keluarga kandungku. Bertemu jodohku mungkin.
Berbicara soal jodoh mengingatkanku akan perkataan direktur Chan yang akan menjodohkanku dengan adik Zena. Siapa tadi? Zen? Namanya dengan kakak nya cuma beda satu kanji. Ups.., memikirkannya membuatku tertawa sendiri.
Siapa yang memikirkan ide memberi nama mereka? Ia pasti memiliki naming sense yang buruk.
Aku jadi penasaran seperti apa rupa Zen. Meski aku tahu pasti rupanya dengan Direktur Chan berbeda, aku berharap pria yang aku dengar lebih muda dari 5 tahun denganku itu sama tampannya dengan direktur Chan.
Aku kembali menggeser posisi ku menatap langit- langit, membayangkan wajah direktur Chan. Kuakui jika saja aku tak mengetahui umurnya hampir berkepala 5, aku akan jatuh hati pada pria itu.
Bagaimana tidak, meski telah berkepala 5, ia sangat tampan, bahkan wajahnya tak termakan usia. Dagu yang runcing namun kekar- dengan hidung yang mancung, kulit kuning langsat dengan mata hazel. Aku jadi penasaran bagaimana rupa mantan istri nya, hingga mantan istrinya tak jatuh pada pesona seorang direktur Chan. Atau apakah pria yang di cintai mantan istri dari direktur Chan lebih tampan dari direktur Chan? Itu berarti Zen yang akan di kenalkan nanti lebih tampan?
__ADS_1
Aku memikirkannya semalaman hingga tak bisa tidur. Tapi mengapa yang tampak bermata panda malah direktur Chan? Apa ia mengadakan rapat soal menyeleksi para pegawai itu- semalaman. Oh.., aku harap aku tak termasuk ke dalam daftar yang di seleksi, meski kenyataannya, aku memang baru bekerja di perusahaan ini.
“ Yuan..” panggil Chan.
‘ astaga, ia memanggilku, apakah aku memang termasuk yang di seleksi?’ batinku gugup.
“ ya, tuan.” aku berusaha menjawab senormal mungkin meski dalam hatiku begitu gugup.
“ apa kau sudah menikah?” tanya Chan.
‘ ha? Mengapa jadi bertanya soal itu? Oh! Pasti soal menjodohkan dengan anak angkatnya itu ya? Siapa kemarin namanya..? Zen?’ Batin Yuan.
“ kau besar dengan Zena, ya?” tanya Chan.
‘ tentu saja! Jika tidak, bagaimana aku bisa mengenalnya?’ batinku yang merasa pertanyaan dari pria yang umurnya terpaut 15tahun dari ku itu sedikit tak masuk di akal.
“ aku berdoa semoga kau juga menemukan pria yang mencintaimu juga keluarga yang menyangimu.” ucap direktur Chan. Meski aku dapat melihat perasaan sendu dari matanya, ya, aku juga dengar jika direktur Chan sama denganku, sama- sama yatim piatu dan berasal dari kalangan orang yang tidak berada hingga bertemu dengan mantan istrinya dan bisa seperti sekarang.
__ADS_1
Bukankah kehidupan ini memang selalu seperti itu? Di saat kita tak memiliki apapun terkadang kita bisa bahagia- sama seperti aku ketika belum mengetahui fakta jika aku masih memiliki keluarga, seandainya aku tak terlalu ingin tahu seperti apa keluarga ku sesungguhnya aku pasti masih bahagia di gereja di Belanda dengan pastur Lionel dan saudara sepenampungan yang lain- atau mungkin malah sudah di adopsi oleh keluarga yang mencintai ku.
Begitu juga dengan direktur Chan, seandainya, ia tak memilih jalan di mana ia setuju mengambil posisi direktur, ia tak harus merasakan sakitnya mencintai orang yang bahkan sedetikpun tak bisa melupakan pria lain yang di cintainya.
0o0
hai hai hai
author cuma mau ngingetin buat para reader buat jangan lupa dukung reader ya
like love juga vote Author
atau sekedar ninggalin jejak juga gapapa sie ^_^
see you next time
__ADS_1