The Mafia Is My Hubby

The Mafia Is My Hubby
Episode 18 Henzie sakit 1


__ADS_3

“ 60/80.” ungkap Rick setelah memeriksa tekanan darah Henzie. Beberapa hari ini Henzie tak nafsu makan bahkan lebih seperti tidak ada makanan yang bisa masuk ke mulutnya. Mulutnya terasa pahit dan ia selalu merasa lemah, bahkan saat Gin memanggilnya, wanita itu hanya membuka matanya sejenak melontarkan senyum dan kembali tertidur.


Suhu badan wanita itu juga lumayan tinggi, namun seolah obat flu tidak mempan pada wanita itu terhitung hari ketiga namun tak ada perubahan pada wanita yang kini merupakan istrinya itu.


Awalnya Henzie tidak mau di periksa, namun tepat di hari ke empat di saat Gin mau berangkat kekantor, pria itu mendengar suara terjatuh yang lumayan keras dan saat ia melihat Henzie, wanita itu tengah pingsan dalam perjalanan menuju kekamar mandi.


“ ap? Itu rendah sekali.” ungkap Gin pada adik sepupu nya itu.


“ hem, ya. Sebuah keajaiban wanita ini masih bisa bertahan bahkan kau mengatakan ia masih bisa memasak untuk kalian, meski masih lemas juga dengan duduk.” ungkap Rick menyuntik antibiotik agar suhu badan Henzie sedikit turun.


“ apa tekanan darahmu memang selalu rendah seperti ini?” heran Gin pada Henzie.


“ iya, dari dulu tensi normal ku tidak pernah lebih dari seratus dan setiap aku datang bulan atau kelelahan tensiku akan rendah.” ungkap Henzie dengan mata terpejam, bahkan hanya untuk membuka mata wanita itu tidak kuat.


“ benarkah?” tanya Gin pada Rick yang lebih dulu mengenal Henzie.


“ hem,ya. tapi belakangan ini sudah jarang terjadi, mungkin karena tidak kuat pada suhu udara AC juga banyak pikiran membuat tensinya serendah ini.” ungkap Rick.


“ ini bukan penyakit jadi aku tak bisa memberi banyak obat, aku akan memberi vitamin juga penambah darah untuk wanita yang sedang mengalami period. jika ada reaksi tidak cocok pada obatnya kurangi saja obat yang menurutmu tidak cocok untuknya.” ucap Rick, memberi beberapa obat pada Gin.

__ADS_1


“ maaf aku jadi merepotkan.” ungkap Henzie setelah dirasa Rick meninggalkan mensionnya.


“ tidurlah, aku akan membuatkan bubur.” ungkap Gin meninggalkan Henzie setelah mengganti kompres Henzie.


*


Satu jam setelah berperang dengan dapur satu mangkok bubur akhirnya jadi.


“ Bangunlah, makan dulu lalu minum obat.” ungkap Gin membawa semangkok bubur.


“ aku tidak nafsu makan.” ungkap Henzie berusaha bangun.


“ kemarilah aku suapi.” ucap Gin yang melihat Henzie memicingkan mata. Bahkan untuk membuka mata kepalanya terasa sakit.


Satu suapan.


Dua suapan.


“ sudah.” ucap Henzie mengangkat tangannya agar Gin berhenti menyuapi bubur yang terasa hambar di mulutnya.

__ADS_1


“ sudah? Ini baru 2 suapan, Henzie. Kau belum makan apapun 2 hari ini.” ungkap Gin geram.


“ maaf.”ucap Henzie, mungkin karena merepotkan Gin.


“ kau mau makan apa?” ucap Gin setelah menghembuskan nafas kasar.


“ hem?” heran Henzie.


“ kau mau makan apa? Biar aku masakkan.” ucap Gin lagi, berharap dengan masak yang ingin di makan Henzie menambah sedikit nafsu makannya.


“ telur.” ucap Henzie.


“ telur?” ulang Gin.


“ iya, telur rebus, di kasih kuah miso, miso nya tak perlu isi cukup kuah saja.” ungkap Henzie.


‘ dia benar- benar maniak telur.’ batin gin yang tahu jika apa yang di makan Henzie tak jauh dari benda bulat dengan kuning di tengahnya- itu.


“ oke tunggu sebentar.” ucap Gin.

__ADS_1


__ADS_2