
“Ngomong- ngomong.” Ucap Cherry sambil menyusui putrinya.
” ngomong- ngomong apa?” ucap Zen memilh berbaring.
“Zen.” panggil Cherry.
“Ya?”
“Err.” ucap Cherry ragu.
“Bicaralah!”
“Itu..”
“Sayang.. apa yang mau kau katakan! Jangan buat aku penasaran.” cap Zen tak sabar.
“Apa..., apa sewaktu kau di china waktu itu, kau pernah tidur dengan saudariku?” ucap Cherry setelah menimbang mau berkata atau tidak.
“APA! Apa Lexia mengatakan seperti itu?” ucap Zen tak percaya.
“Ya.”
“Wanita itu!” Geram Zen.
“Jadi dia hanya berbohong?”
“Tentu saja aku tak pernah menyentuhnya sama sekali! Dia memang pernah menggodaku bahkan meyakinkan aku, namun entah bagaimana, aku malah selalu mengingat wajahmu. itu sebabnya setiap kali ia menggodaku bahkan selalu memakai baju sexy aku selalu pulang untuk melampiaskan padamu!” ucap Zen jujur.
“Dia menggodamu?” ucap Cherry tak percaya.
“Ya! Namun seperti yang aku katakan! Aku tak bisa menyentuhnya. Karena aku selalu mengingatmu dan aku tak ingin kau bersedih karenanya.” ucap Zen yang menyadari sesuatu.
“ Mungkin yang di katakan papa Giant benar jika sesungguhnya aku sudah mencintai mu sedari lama namun aku selalu menyangkalnya.”
“Karena kau mengira akulah penyebab orang tuaku dan Lexia tiada?” ucap Cherry mulai terbiasa akan alasan Zen enggan padanya.
“Mungkin juga begitu? Atau karena dulu kau selalu bersumpah serapah? Meski sejujurnya walau keengganan selalu ada dalam hatiku aku tetap tak suka kau dekat dengan pria manapun termasuk papa ku.” ucap Zen.
“Papa Giant? kenapa?” heran Cherry. Tampak jika putri mereka yang sudah tertidur saat mulai kenyang.
“Dia pernah membelamu dan aku pikir itu karena dia menyukai mu.”
__ADS_1
“Kau cemburu?” goda Cherry yang mulai menaruh putri mereka yang tertidur di box bayi nya.
“Iya! Itu sebabnya jangan pernah mendekati pria lain!” Ucap Zen jujur. Mendenganya, Cherry hanya tertawa kecil karena melihat suami nya yang mulai posesif padanya.
“Kau saja dekat dengan saudari ku!” ucap Chery mulai berbaring kembali.
“Itu kan dulu! Lagi pula aku dekat karena merasa tanggung jawab karena orang tua kalian sudah tiada dan saat itu aku berpikir ia hanya sendirian di China. Siapa yang menyangka jika orang tua kalian di bunuh oleh saudarimu itu!”
“Tapi mengapa ia pernah menunjukkan kissmark di lehernya jika kau tak pernah menyentuhnya.”
“Kissmark apa?” heran Zen.
“Dia pernah memperlihatkan lehernya yag memiliki tanda merah sesaat setelah kau membawa tas nya ke kamar tamu.”
“Jadi karena itu kau marah?” tanya Zen mengingat jika Cherry hendak menampar Lexia.
“Tentu saja.”
“Aku tak begitu tahu menahu soal tanda merah itu, mungkin ia menciptakannya dari lipstik atau dari pria lain?”
“Begitu.” Ucap Cherry terdiam.
“Kenapa?” heran Zen akan istrinya yang tiba- tiba termenung.
“Mungkin sedari dulu saudarimu memang memiliki jiwa Psychopath, hanya belum terlihat! Sudahlah. Huan Ran sudah tertidur. Kau juga istirahatlah, bukankah besok kau mau melihat keadaan Lexia.”
“Apakah ia masih hidup?”
Zen hanya mengangkat kedua bahunya.
“lalu bagaimana kau bisa tahu jika tanda kissmark bisa di buat dari lipstik?” heran Cherry.
“ dulu, waktu pertama mengakui jika Zena adalah istriku- untuk mengelabui para tetua di China kita menggunakan lipstik agar terlihat telah memadu cinta. Ide itu sendiri berasal dari Zena.” ungkap Zen.
“ waktu kalian pertama mengaku jika kalian suami istri itu?” ucap Cherry yang mengingat kejadian yang sudah lama terjadi itu.
“ ya, siapa yang menyangka jika ia adalah kakak kandungku. Mungkin itu sebabnya meski selalu bersama aku tak pernah bisa memiliki perasaan padanya.” ucap Zen.
“ antara insting atau karena ikatan darah.” ucap Cherry mulai memejamkan matanya.
“kau tak cemburu jika aku dekat dengan sis Zena?” goda Zen.
__ADS_1
“ tidak.” ucap Cherry cepat.
“Tidak?”
“ ya, ia wanita yang baik. Entah bagaimana aku tak bisa membencinya.” ucap Cherry.
“ kau benar! Kalau aku tidak salah ingat hanya pada sis Zena saja kau tak pernah bersumpah serapah. Bahkan pada Yuan saja kau bersumpah serapah.” ucap Zen setelah mengingat kembali.
“ ya, meski sejujurnya aku sempat kesal karena cemburu. Namun kebaikan hati sis Zena membuat ku luluh.” ucap Cherry tersenyum.
“ kau tidak akan jatuh cinta pada saudari ku kan?” ucap Zen mulai posesive.
“ tentu saja; tidak! Aku hanya merasa menemukan sosok seorang kakak di diri sis Zena.” ucap Cherry tak percaya.
“ baguslah.” ucap Zen memilih memejamkan mata.
Cherry hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya yang mulai posesife pada dirinya.
“Zen.”
“ hem?” jawab Zen masih memejamkan mata.
“ boleh aku berbaring di dadamu?”
“ hm.” ucap Zen membuka selimutnya. Cherry lantas berbaring di dada suaminya dan menikmati mendengar suara detak jantung pria itu.
“ sa.., sayang hentikan.” ucap Zen melenguh karena Cherry mengelus ni*ple Zen.
“ tak sengaja, maaf.” goda Cherry.
“ hentikan! Atau kau takkan kubiarkan tidur malam ini!” lenguh Zen.
“ kau baru mengatakannya dan milikmu sudah tegak sempurna.” goda Cherry mengelus milik Zen.
“ Cherry.., hentikan.” lenguh Zen kala istrinya meng*lum miliknya.
“ kenapa sekarang kau nakal sekali sie?” heran Zen.
“ apa salahnya nakal sama suami sendiri?” ucap Cherry duduk di perut Suaminya. Zen hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya.
Seandainya saja ia lebih cepat mengakui jika ia mencintai istrinya mungkin ia juga akan leih cepat juga menikmati permainan Cherry yang menari di atas tubuhnya.
__ADS_1
Dan sesuai janji Zen, Cherry dan dirinya tak juga tertiur meski pagi hendak menjelang.