
“ tuan…, apa kau tahu kesukaan dan yang tidak di sukai nona muda?” ucap Lucas.
“ dia suka telur, keju, daging bacon.., kuat minum…, tidak bisa dengan suhu dingin AC.” ungkap Gin.
“ kenapa anda tidak memberi kejutan romantis diner? Dari yang saya simpulkan nona muda sangat suka makan, saya memiliki salah satu obsi di rumah makan di pinggir danau, jadi suasana alam dan tidak menggunakan pendingin ruangan.”
“ dinner? Boleh juga.” ucap Gin.
“ setelah itu anda bisa memberi nona malam- malam indah selayaknya suami istri.” ungkap Lucas.
“ lucas! Kau tahu sendiri tentang duniaku kan? Aku tidak bisa melakukannya dan memberinya harapan.” ungkap Gin mendengus kesal.
“ sayang sekali tuan, padahal nona muda sangat manis jika anda tidak mau menyentuhnya biar saya….” baru mau melanjutkan ucapan Lucas terhenti melihat tatapan membunuh Gin.
“ maaf.” ucap Lucas sedikit berdehem.
***
Jam menunjukkan pukul 7 dan Gin belum pulang dari kantornya.
‘ lembur?’ batin Henzie menunggu Gin. Namun suara dering ponsel membuyarkan lamun Henzie.
‘ kau sudah tidur?’ ternyata Pesan dari Gin.
‘ tumben?’ batin Henzie. Karena memang selama ini Gin belum pernah satupun mengirim pesan Chat kepadanya.
‘ belum.’ jawab Henzie.
‘ ayo makan di luar, pakailah gaun terbaikmu. Lucas akan menjemputmu.’balas Gin.
__ADS_1
‘ Lucas?’
‘ ya, asisten pribadiku, aku tidak bisa menjemputmu, biar dia yang nanti menjemputmu.’ balas Gin.
Akhirnya dengan perasaan Heran karena tidak biasanya suami nya mengajaknya untuk makan di luar- Henzie bersiap mencari Gaun untuk ia kenakan malam ini. Sebisa mungkin sesuatu yang takkan memalukan juga enak di pakai. Henzie tak pernah memakai Gaun sebelum- nya. Gaun- gaun yang ada di walk in closet nya ini semua di belikan ole Ara juga Zie saat berkunjung ke Mansion Gin. Henzie tak menyangka akan datang juga saat ia menggunakan Gaun yang pernah di belikan para Mommy.
Pilihannya jatuh pada mini dress yang mencetak lekuk tubuhnya bewarna navy. Dengan lengan berlumbai yang memperlihatkan pundaknya yang tegak. Dengan hiasan leher berupa kalung choker bewarna hitam, sesekali ia akan menggulung rambutnya namun masih menyisakan sedikit rambut untuk menutupi wajahnya yang semi bulat. Lipstik bewarna gelap yang sesuai untuk gaun bewarna navy nya sudah ia poleskan. Tepat pada saat suara bel di bunyikan Henzie telah selesai berdandan, setelah parfum vanilla di semprotkan- ia siap.
Lucas membulatkan matanya sempurna, bagaimana tidak? Wanita yang sebelumnya terlihat manis juga kikkuk sekarang berubah- wanita yang ada di depannya ini adalah wanita dengan dandanan sempurna dengan gaun yang mencetak dadanya yang besar, pundaknya yang tegap, pinggul nya yang bak gitar spanyol juga pantatnya yang bulat penuh di bantu dengan stiletto bewarna senada dengan gaunnya membuatnya terlihat sempurna.
“ Lucas?” panggil Henzie mengibaskan tangannya menyadarkan Lucas agar kembali ke sadarannya.
“ o.., oh iya. Nona. Mari.” ucap Lucas menuntun istri tuannya juga sahabatnya ini ke mobil sport bewarna hitamnya.
---
“ lucas? Benar disini tempatnya?” heran Henzie.
“ iya nona. Langsung saja masuk kedalam.” ucap Lucas menguatkan Henzie.
Suara ketukan stiletto berpadu dengan lantai kayu menuju taman yang saling beradu menunjukkan seolah restoran itu hanya ada dirinya karena sangat sunyi seolah tak ada lagi orang lain disini, lampu sorot taman bewarna temaram, dekorasi dari yang awalnya sepi semakin melangkah semakin ramai akan balon juga bunga bewarna pink. Henzie berjalan menuju sosok yang sedang menunggunya.
“happy birthday my wife.” ungkap Gin, mengulurkan tangannya mengajak berdansa.
“ astaga.” ucap Henzie tak percaya jika Gin akan memberinya kejutan ulang tahun yang Henzie sendiri tak ingat jika ini adalah hari ulang tahunnya.
“ kau tidak suka?” heran Gin melihat Henzie hanya terdiam.
“aku suka, sangat suka. Hanya saja..”
__ADS_1
“ hanya saja?”
“ hanya saja aku tidak ingat jika ini adalah hari ulang tahun ku. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku merayakan ulang tahun ku.” ucap Henzie dengan sedikit berlinang air mata.
“ kalau begitu mulai sekarang kau akan selalu mengingatnya.” ungkap Gin menarik tangan Henzie untuk berdansa.
Gin memang lelaki yang romantis, terlepas dari dunia one night stand nya tidak sedikit perempuan yang jatuh hati karena ketampanannya, perilakunya terhadap perempuan juga senyum ramahnya- jika bukan karena dunia gelapnya semua itu takkan hilang dalam hidup Gin. Semenjak ia berada di dunia bawahnya tidak sedikit orang yang bertanya- tanya kemana hilangnya senyum ramah Gin yang dulu. Bukan tanpa alasan Gin beruah, itu semata agas tak ada yang berharap padanya dan dekat padanya yang membuat mereka menjadi incaran empuk para musuh mafianya.
Dan sedari awal ada yang sedang mengawasi pasangan yang sedang berdansa ini dari balik restoran. Siapa lagi jika bukan Claudia yang sudah mengikuti kemana pun Gin pergi. Saat di kantor tadi memang Gin sempat lengah karena sibuk memikirkan kejutan ulang tahun istri kecilnya ini.
Tampak kedua tangannya mengepal, dan giginya bergeretak menahan marah.
‘ sial! Selama ini kau menghindariku hanya untuk perempuan yang tidak ada apa- apanya itu?’ batin Claudia.
‘ apa bagusnya perempuan itu?’
‘ padahal jelas- jelas cantik aku, mulus aku, lebih tinggi aku.’ batin Claudia membandingan.
‘oke aku akui dadanya besar bahkan lebih besar dari aku, tapi apa dia benar- benar yakin itu asli?’ batin Claudia menatap tubuh Henzie di balik mini dress yang mencetak lekuk tubuhnya.
‘ sial! pinggulnya bagus juga.’ batin Claudia mulai tersaingi.
‘ dan pantatnya… astaga!’ batin Claudia tak percaya.
‘ pantat sekal yang sempurna! Apa aku juga harus suntik silicon di pantatku agar terlihat besar?’ batin Claudia mengelus pantatnya.
‘ ukh..! lihat saja aku akan membuat perhitungan!’ ucap Claudia meninggalkan pasangan yang sedang menikmati dinner mereka karena lelah berdansa.
0o
__ADS_1