The Mafia Is My Hubby

The Mafia Is My Hubby
Henzie sakit2


__ADS_3

setengah jam Gin kembali berkutat dengan dapur tidak sia- sia, semangkuk bubur di tambah kuah miso dan telur langsung habis.


Setelah makan bubur, Henzie tertidur melupakan obat yang harus di minumnya.


“ Henzie.” ucap Gin lembut. Ia mengelus rambut istrinya dan tersenyum hangat melihat wajah istrinya yang mulai kembali cerah setelah sebelumnya wajahnya sangat pucat, yang bahkan untuk membuka mata saja ia tak kuat. Namun wanita yang di kira lemah dan tak di anggap oleh Gin ini tetap menjalankan tugasnya memasak untuk Gin meski sakit, dan di akhiri dengan pingsan saat menuju kamar mandi.


Gin mengambil obat yang harus di minum Henzie, meminumnya dengan air yang memenuhi mulutnya dan menautkan bibirnya di bibir Henzie agar Henzie meminum obat melalui mulut Gin.


Gluk! Obat telah tertelan oleh Henzie, namun bibir Gin seolah enggan menjauh dari bibir istrinya yang terasa manis, meski tanpa pemoles sekalipun. Di basahi bibir istrinya yang mengering juga pecah- pecah karena sakit nya. Menyesapnya pelan. Setelah pria itu merasakan bibir Henzie pertama kali, bibir tipis milik istrinya itu seolah candu bagi Gin untuk meminta lagi dan lagi.


‘ ini manis sekali.’ ungkap Gin dengan senyum manis di bibirnya, ia mengusap bibir istrinya yang masih tertidur pulas, atau mungkin ia terbangun namun enggan membuka mata seperti sebelumnya?


Setelah menekan tombol otomatis di mesin cuci piring, Gin kembali ke lantai dua, namun yang di tuju bukan kamarnya melainkan kamar istrinya. Dia kembali tersenyum melihat istrinya yang masih tertidur, ada yang bilang sepandainya orang menutupi image di depan pria- akan terlihat kepribadian orang itu saat tidur.


Yang di lihatnya sekarang adalah Henzie yang tertidur dengan wajah tenang dan juga mulut tertutup bahkan suara berisik tak keluar dari mulutnya. Padahal wanita ini terlihat begitu kikkuk, orang akan mengira jika wanita kikkuk identik dengan suara dengkuran juga air liur yang menetes. Memikirkannya membuat Gin tertawa kecil. Semua yang di bayangkan ternyata berbanding terbalik, Henzie tertidur dengan damainya, hanya saja ia terkadang bergerak kecil kekanan dan kekiri.


“ bersama mu mengembalikan diriku kembali menjadi aku yang dulu.” ungkap Gin mulai berbaring di sisi istrinya yang memunggunginya. Gin memeluk Henzie dan mendekatkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Menghirup dalam- dalam bau istrinya seolah merekam bau ini di memori otaknya agar nanti saat berjauhan ia tidak merindu kepada sosok istrinya yang belakangan mengisi hati dan pikirannya ini.


***

__ADS_1


Henzie mengerjapkan matanya. Di rasa kepalanya tidak terasa sakit, wanita itu hendak berdiri dari tidurnya menuju kamar mandi. Namun perutnya terasa berat seolah ada yang menindih perutnya. Di bukanya matanya untuk melihat apa yang ada di depannya. Sebuah dada bidang manusia? Henzie mendongak siapa gerangan orang yang di depannya. Nyawanya belum sepenuhnya kembali ke raganya. Sampai ia mendapati orang yang sedang tidur di sampingnya adalah suaminya.


Entah Henzie yang sedikit lola atau nyawanya belum sepenuhnya kembali. Ia tak mempedulikannya dan beranjak duduk untuk menuju kamar mandi di kamarnya karena ingin buang air. Dengan hati- hati Henzie berjalan menuju kekamar mandi di kamarnya.


“ kau mau kemana?” ucap sebuah suara. Henzie menengok ke sumber suara yang berasal dari kasurnya.


“ kamar mandi.” ucap Henzie.


“ butuh bantuan?” ungkap Gin. Henzie mengibaskan tangannya menandakan tidak.


Setelah menuntaskan panggilan alam nya, perlahan Henzie sadar jika yang sedari tadi tidur bersamanya adalah suami nya, Gin.


“ hem?” ucap Gin menjadikan tangannya bantal.


“ ke…, kenapa tidur di kamarku?”


“ hem? Aku takut jika kau jatuh lagi jadi aku tidur disini.” ungkap Gin. Henzie berjalan menuju tempat ia tidur semula.


“ kepala mu masih sakit?” ungkap Gin setelah Henzie terduduk di posisi nya semula.

__ADS_1


“ sedikit, cuma masih berat di kepala bagian belakang.” ungkap Henzie memegang tengkuknya.


“ badanmu masih panas?” ungkap Gin mengulurkan tangannya menyentuh dahi Henzie.


“ hem…, sudah mendingan.” ungkap Gin membandingkan dengan suhu dirinya.


“ tidurlah lagi, nanti minum obat lagi.” ungkap Gin ikut berbaring di sisi Henzie.


“ kau tidak kekantor?” ungkap Henzie mulai berbaring dan membenarkan selimutnya.


“ mana mungkin aku meninggalkan orang sakit sendirian?” ungkap Gin memejamkan mata.


“ maaf.” ucap Henzie.


“ tidak apa- apa, kau istriku dan sebagai suami aku masih memiliki kewajiban merawatmu.” ungkap Gin. Namun tidak mendapat jawaban dari Henzie, di liriknya sekilas dan mendapati jika Henzie telah tertidur. Tak heran tensi darahnya sangat rendah hanya dengan memejamkan mata pasti sudah jatuh ke alam mimpi.


Gin mengulurkan tangannya, membelai rambut Henzie yang berantakan karena beberapa hari ini tidak bangun dari tempat tidur karena lemah, ia hanya bangun untuk memasak dan membantu Gin bersiap kekantor. Di tatapnya sebentar wajah istrinya yang tengah tertidur dalam damai dan mengecup dahi istrinya sekilas sebelum akhirnya menarik istrinya kedalam pelukannya. Memberi rasa damai untuk istri kecilnya.


---0o0--

__ADS_1


__ADS_2