The Mafia Is My Hubby

The Mafia Is My Hubby
hamil?


__ADS_3

“ kasihan Zen, karena hal yang bukan kesalahannya mengharuskan dirinya menikahi wanita cacat sepertimu.” ucap Lexia menyibakkan sulur rambutnya yang menutupi lehernya. Cherry begitu terkejut melihat tanda di leher saudarinya. Apakah itu.., kissmark? Batin Cherry.


“ kasihan Zen, padahal ia pemain yang handal, namun permainannya takkan cukup membuat mu memiliki anak.” ucap Lexia menunjukkan smirk smilenya. Seketika kemarahan memenuhi dada Cherry. Ia memang tahu jika suaminya mencintai saudarinya, namun apakah saudarinya harus memperlihatkan sejelas itu pada dirinya? Tampak Cherry yang hendak menghempaskan tangannya, namun belum sampai Cherry menampar saudarinya, Lexia telah berteriak.


“KYA!!” pekik Lexia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“ Lexia? Ada Apa? Cherry!” ucap Zen yang terkejut melihat istrinya hendak menampar Lexia. Sesungguhnya, saat Giant, Gin, Arie Lie A dan Zen sedang berbincang saat itu- secara nyata Lexia ikut mendengarkan perkataan mereka.


Lexia tahu jika Zen pasti tak akan mempercayai jika dirinya berbohong, namun ia tetap berjaga- jaga membuat keadaan tampak Cherry yang akan menampar dirinya jika pria itu tak lagi mempercayai Lexia. Dan soal tanda yang ada di leher Lexia- ia buat dari membubuhkan lipstik sehingga terlihat tanda kiss mark di lehernya. Ia terus berusaha meyakinkan Zen bahkan merayunya dan membuat pria itu mabuk, namun pria itu tak kunjung menyentuh Lexia, wanita itu juga baru tahu jika Zen ternyata peminum yang handal. Frustasi, namun tak menyurutkan akal Lexia dan menggunakan cara lain untuk membuat Cherry cemburu.


“ apa yang mau kau lakukan?” ucap Zen menangkup kedua lengan Cherry.


“ a.., aku..., aku tidak..” ucap Cherry menggantung.


“ TIDAK apa? Jelas- jelas aku melihat kau hendak menampar saudarimu!” ucap Zen menghempaskan tubuh Cherry ke dinding rumah mereka. Sekali lagi Lexia hanya tersenyum melihatnya.


“ sudah aku katakan jika wanita yang berdiri di hadapanmu itu sungguh- sungguh saudarimu, Cherry. Aku bahkan telah melakukan uji tes DNA dan ia benar- benar saudarimu! Lalu mengapa kau masih tak menunjukkan ketidak sukaanmu kepada saudarimu..?” geram Zen, Cherry hanya terdiam sambil memegangi perutnya.


Perutnya mengencang dan terasa sangat sakit seolah apa yang ada di dalam tubuh Cherry akan tertarik ke luar.


“ Cherry?” heran Zen melihat wajah pucat istrinya.


“ sister? Apakah kau mengompol?” ucap Lexia tertawa. Mendengarnya, Cherry lantas melihat ke bawah kakinya dan mendapati jika kakinya memang telah basah oleh cairan yang berasal dari dirinya, namun Cherry merasa jika itu bukanlah air seni nya.

__ADS_1


“ Cherry? Kau tidak apa?” ucap Zen yang melihat Cherry yang terus diam. Cherry tak menjawabnya hanya menatap suaminya dan seketika itu juga ketakutan dalam diri Cherry memenuhi diri wanita itu. Seketika itu juga keluar keringat dingin di wajah Cherry dan secara spontan ia meraih tubuh suaminya.


“ Cherry?” heran Zen.


“ Ze.., Zen..., aku mohon! Aku mohon antar aku kerumah sakit, Zen!” ucap Cherry panik.


“ apa? Rumah sakit? Apa kau sakit? Kenapa wajahmu sangat pucat?” heran Zen akan sikap istrinya.


“ aku mohon, Zen. Aku mohon!” ucap Cherry putus asa.


“Aku tahu.., aku tahu jika kau tak mencintaiku, Zen! Namun aku mohon selamatkan anakku!” ucap Cherry mulai berlinang air mata.


Ucapan Cherry sungguh membuat Zen membuat membulatkan matanya.“ Anak? Kau hamil?” ucap Zen menangkup lengan Cherry namun belum sempat Cherry menjawabnya, tampak tubuh istrinya melemas karena cairan yang terus keluar dari tubuhnya.


“ bawa istrimu kerumah sakit, son.” ucap sebuah suara mengangetkan mereka.


“ kau menunggu apa lagi, Zen? Kau tak melihat tubuh istrimu yang sudah melemas?” ucap Giant mengingatkan Zen.


“ i.., iya... ayo, Cherry!” ucap Zen langsung menggendong istrinya.


“ Zen! Biarkan aku ikut!” ucap Lexia hendak menyusul Zen dan Cherry. Namun belum sempat wanita itu mengejar Zen, Giant menangkap lengan Lexia dan berkata.


“ lebih baik kau ikut denganku!” ucap Giant menatap Lexia dengan tidak suka. Bahkan tatapan yang di tujukan untuk Lexia sangat tajam, seolah menunjukkan hal yang lebih dari ketidak sukaan.

__ADS_1


“ tidak! Zen!” ucap Lexia berontak dan berusaha memanggil Zen, namun pria itu keburu melajukan mobilnya dan tak mendengar Lexia.


“ kau lihat? Zen tak bisa mengantarmu.” ucap Giant pada Lexia. Wanita itu hanya terdiam dan membalas tatapan Giant dengan tatapan yang tak kalah tajam.


“ akhinya kau menunjukkan wajahmu sebenarnya? Hem!” ucap Giant menujukkan smirk smile nya.


“ tangkap wanita itu!” ucap Giant. Dan seketika itu juga Yakuza yang bersembunyi di balik bayangan muncul dan mengelilingi mereka.


*


Sementara itu, Zen mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat melihat wajah istrinya yang semakin pucat sambil terus memegangi perutnya.


“ kenapa kau tak mengatakan padaku jika kau hamil?” heran Zen masih fokus pada jalanan.


“ kenapa... aku... harus... mengatakannya padamu?” ucap Cherry lemah.


“ aku.., tentu karena aku sua..” ucap Zen terpotong karena Cherry menjawab;


“ kau..., bahkan.... tak... per...nah mem...per....cayai...ku, Zen.” ucapan Cherry membuat Zen terdiam. Tampak tangannya yang menggenggam erat setir kemudi.


Apa yang di katakan istrinya adalah kebenaran. Zen berjanji untuk mempercayai istrinya, namun lagi dan lagi tanpa bertanya, Zen selalu menyalahkan Cherry. Bahkan tangan Zen bukan lagi menampar istrinya- bahkan sudah mendorong tubuh istrinya yang menyebabkan Cherry mengalami kontraksi sebelum waktunya.


Sekali lagi Zen hanya bisa memegang setirnya erat. Ia takkan memaafkan dirinya jika seandainya anak dan istrinya tak bisa di selamatkan. Zen mengakui jika dirinya gagal menjadi suami, ia tak mengetahui istrinya sendiri hamil, bahkan hampir menyebabkan istrinya keguguran.

__ADS_1


😢😢😢


...mari berdoa biar cherry tidak author buat kenapa- napa😂...


__ADS_2