
Setelah Cherry selesai memakan buatan Zen, tampak jika wanita itu langsung membersihkan segala kekacauan yang di buat suaminya. Zen hanya terdiam menatap istrinya itu. Tampak jika Chery hanya menggenakan kemeja kebesaran yang di pakaikan Zen untuknya. Tampak jika Zen menelan Saliva nya dengan susah payah.
Bagaimaa tidak? Sekelebatan bayangan nakal antara dirinya dan istrinya entah mengapa terlintas di benaknya dan itu sukses membangunkan miliknya.
“ !” Cherry hampir saja memekik ketika merasakan ada tangan nakal memeluk pinggangnya.
“ Zen?” heran Cherry. Pria itu menyenderkan dagunya di bahu istrinya.
“ apa masih sakit?” tanya Zen. Namun tanpa menunggu persetujuan istrinya, Zen mengendong Cherry dan mendudukkannya di pinggiran meja dapur. Cherry yang binggung atas sikap Zen kepadanya hanya bisa pasrah ketika pria itu mulai menciumi bibirnya. Kali ini lebih lembut dan penuh kehati- hatian, membuat seorang Cherry terlena akan perlakuan Zen kepadanya. Namun sebuah suara ringtone handphone milik Zen membuyarkan aksi mereka.
“ hallo.” gerutu Zen karena ada yang mengganggu mereka.
“Zen? Kenapa kau tak masuk kekantor? kau ada di mana sekarang?” ternyata yang mengganggu mereka adalah Zena.
“ kakak?” ucap Zen menggerutu.
“ aku masih mabuk, kemarin papa dan suami mu mengajakku minum hingga tengah malam.” ucap Zen.
“ kau? Mabuk? Ayolah Zen! Kemampuan minum kita berasal dari papa, jika aku saja tidak mudah mabuk, bagaimana kau yang seorang pria bisa mabuk?” ucapan Zena terdengar jelas di telinga Cherry dan Zen menyadari jika istrinya dapat mendengar pembicaraan dirinya dengan kakak nya.
“Kak bisakah kau kecilkan suaramu?” ucap Zen berbisik- agar Zena juga mengecilkan suaranya.
“Apa di sebelahmu ada istrimu? Jadi yang aku dengar kau mau membuktikan perihal istrimu itu benar? Bagaimana malam pertamamu dengan istrimu?” Ucap Zena girang.
“Sudahlah! Ada apa!” Ucap Zen mengalihkan.
“ kau ingat papa Chan? Ia akan menikahi Yuan. Teman sepenampunanku di gereja Belanda.” ucap Zena dengan semangat.
“ kau tidak bercandakan? Yuan yang merupakan seketaris papa Chan itu?” heran Zen.
“Tentu saja aku tidak bercanda! Sebenarnya mereka sudah merencanakan akan menikah sudah sedari lama. Namun papa Chan mengalah karena kau akan menikahi cherry waktu itu.” jelas Zena.
“Begitu? Kapan pernikahannya akan di adakan?” tanya Zen.
“Hari ini juga, tepat di China. Kau ajaklah Cherry ke pernikahan Papa.” Ucap Zena.
__ADS_1
“Oke, aku akan langsung ke China bersama dengan Cherry.” Ucap Zen menutup telephone nya. Ia beralih ke Cherry namun pria itu begitu terkejut melihat wajah kesal istrinya yang seolah meminta jawaban dari apa yang ia dengar.
“Zena mengatakan jika papa Chan akan menikahi Yuan, Cherry.” ucap Zen mengusap tengkuk nya.
“ aku akan mengganti bajuku.” ucap Cherry meningglkan Zen.
‘ ia pasti kesal.’ ucap Zen mengusap tengkuknya. Ia tahu apa yang ia lakukan itu salah. Namun ia tak menyangka jika Cherry akan semarah itu padanya.
🌸🌸🌸 di China🌸🌸🌸🌸
Cherry hanya menatap kedua mempelai yang tengah berbahagia. Bahkan tampak jelas kebahagiaan tercetak di wajah mereka. Cherry jadi mengingat masa Zen menikahi Cherry.
Apakah saat itu wajah mereka sebahagia Yuan juga Chan? Sekali lagi hal itu menjadi momok tersendiri bagi Cherry- ia sedikit iri pada apa yang terjadi pada Yuan meski di dalam hatinya yang terdalam ia ikut merasakan kebahagiaan atas pernikahan yang terjadi antara Yuan juga Chan.
“ selamat atas pernikahannya, Yuan.” ucap Cherry tulus.
“ tentu, Cherry. Aku juga turut berbahagia untukmu.” ucap Yuan dengan senyum bahagia.
“ kuharap setelah ini kau kuat, kau tahukan?” ucap Cherry mengingatkan.
“ tentu saja, Yuan. Aku meminta maaf jika aku sering berkata kasar kepadamu.” ucap Cherry.
“ tak apa, Cherry. Aku tahu kau tak sepenuh hati mengatakan hal itu. Itu lebih baik dari pada berkata baik di depan namun menusuk di belakang.” ucap Yuan yang paham betul akan kelakuan karyawan di Shengly Group.
“ selamat atas pernikahanmu, Chan.” ucap Arie Lie A kepada mantan suami nya.
“ terimakasih, Arie. Aku senang karena kau mau datang ke pernikahanku. Padahal saat kau menikah aku tak sempat datang kepernikahanmu.” ucap Chan kepada Arie Lie A.
“ itu tak masalah, Chan. Kau berhak bahagia. Segera susul kami dan miliki anakmu sendiri.” ucap Arie Lie A.
“ aku tak yakin, Arie. Kau tahu sendiri jika Yuan masih muda. Aku tak ingin memaksanya.” ucap Chan mengelus tengkuknya.
“ takdir tak ada yang tahu, Chan. Setidaknya kau sudah berusaha. Jika di beri ya di terima, jika belum di beri ya terus berusaha.” ucap Arie.
“ semangatmu tak berubah, hem?” goda Chan.
__ADS_1
“ ehem.” suara deheman mengagetkan mereka.
“ kurasa ada yang cemburu.” ucap Chan kepada Arie Lie A.
“ baiklah, kurasa aku harus kembali. Kalian juga aku rasa harus istirahat, perayaan masih panjang.” ucap Arie Lie A yang tahu bagaimana panjangnya perayaan kelas atas di China.
“ ayo kita langsung pulang.” ucap Giant merangkul pinggang Arie Lie A.
“ apakah kau cemburu, sayang?” ucap Arie Lie A.
“ apakah aku terlihat cemburu?” tanya Giant.
“ tidak! Wajahmu selalu datar.” gerutu Arie Lie A. melihatnya Giant hanya tersenyum.
“ kau akan melihat mimik wajahku yang berbeda, Arie.” bisik Giant.
“ benarkah?” tanya Arie.
“ ya, wajahku selalu berubah di tempat tidur.” ucap Giant dengan smirk smile nya lalu menciumi leher Arie.
“ Kau!” ucap Arie menangkup wajah suaminya.
0o0
hai hai hai
😱
baru juga sembuh udah sakit lagi karena kehujanan nie😢
beruntung sebelum sakit author sempat buat beberapa halaman naskah
jangan lupa likenya ya
love love juga
__ADS_1
coment kalian sungguh membangun semangat autbor untuk selalu update lho