
Jam menunjukkan pukul 11 siang namun 2 anak manusia yang tengah tertidur dalam keadaan tubuh yang polos hanya tertutup selimut- masih asik memejamkan matanya. Tak heran, aktifitas mereka belum berhenti meski malam telah usai. Bahkan sinar matahari yang telah menyapa tak mereka hiraukan.
Gin mengucek matanya dengan sedikit meregangkan tubuhnya, di rasa tenggorokannya kering ia baru terbangun. Diliriknya sekilas, istrinya masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya bahkan setengah wajahnya. Tanpa sadar senyum telah berhias di wajah ketua mafia yang di kenal dingin.
Istrinya yang begitu ia rindu, yang di carinya selama setahun silam kembali ke sisinya. Dalam hatinya ia berjanji takkan mengacuhkan istrinya lagi dan menjadi kuat agar istrinya tak pergi lagi dari sisinya. Setelah meminta computer menurunkan suhu kamarnya, Gin mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan beranjak dari kamarnya.
*
Tak lama setelah Gin beranjak dari kamarnya, henzie terbangun, dirasa suaminya tak ada di sisinya, ia melirik melihat kamar suaminya yang baru di lihatnya hari ini dan kemarin saat ia pingsan. Kamar suaminya yang semula rapi kini hancur berantakan dengan kain mini dress milik Henzie yang tercecer di lantai. Henzie menghela nafas kasar, masih lekat dalam ingatan pergulatan panas dirinya dan suaminya yang seolah tak pernah lelah. Badannya benar- benar lelah juga remuk sekarang.
Di rengangkan nya tubuhnya sebelum akhirnya berlalu kekamar mandi suaminya.
“ kau baru bangun?” tanya Gin melihat istrinya baru turun menggenakan kaos kebesaran milik Gin.
“ hem.” ucap Henzie berlalu meninggalkan Gin tanpa melihat apa yang di lakukan suaminya.
“ mau kamu bawa kemana selimut juga sprei itu?” heran Gin yang melihat istrinya membawa selimut juga sprei Gin.
“ di cuci, sprei juga selimutmu terkena darah dan itu harus segera di cuci.” ucap Henie terus berlalu menuju tempat di mana ada mesin cuci.
“ jangan!” ucap Gin hendak merebut sprei juga selimutnya.
“ kenapa?” heran Henzie.
“ ini bisa jadi kenang- kenangan darah pertamamu.” ucap Gin dengan senyum konyol.
“ oh, astaga Gin!” ucap Henzie dengan tatapan jengah. Yang hanya di jawab kekehan Gin.
“ aku baru tahu jika sifatmu yang aku kira cuek juga dingin ini ternyata sekonyol ini. kau sama saja dengan para saudaramu.” ucap Henzie tak percaya.
“ karena itu memang sifat aslinya.” ucap Riu tiba- tiba.
“ Riu?” ucap Gin dan Henzie bersamaan.
“ kapan kau kemari?” heran Gin. Baru Hendak mengambil Sprei juga selimut untuk di simpan namun di urungan Gin tatkala melihat tatatpan seram istri kecilnya.
__ADS_1
“ saat adikku mengatakan Henzie telah kembali, paginya aku bergegas kemari, namun saat itu kau masih bercumbu dengan istri kecilmu itu jadi aku menunggu di ruang keluarga sambil mengurus beberapa berkas, sampai ketiduran karena kalian ini lama sekali permainannya.” ucap Riu merenggangkan bahunya. Yang hanya di balas senyuman konyol dari suami istri ini.
“ ngomong- ngomong apa katamu tadi?” heran henzie.
“ itu tadi sifat aslinya.” ucap Riu.
“ maksudmu?” ucap Henzie.
“ dulu, aku dan Gin selalu bertingkah konyol dan suka mengoda para wanita di luar sana.” ungkap Riu.
“ benarkah?” ucap Henzie menyelidik wajah suaminya.
“ bukan hanya wanita tapi juga pria.” lanjut Riu ketika Gin menatap kesal sadara sepupunya itu.
“ kau tahukan keluarga kami memiliki peraturan yang ketat juga keras dalam menentukan pasangan kami,tak jarang kami tak dekat dengan para wanita sehingga kami di kira guy.” lanjut Riu.
“ bukan kami ,itu hanya kau! Apa lagi dulu rambutnya sangat panjang layaknya wanita.” ucap Gin berusaha menjelaskan pada istrinya yang terus menatap tajam pada Gin.
“ benarkah?” heran Henzie menatap pada Riu.
“ ap…, apa kau berkencan juga dengan para pria?” ucap Henzie sedikit merinding.
“ tidak. Hanya kadang para pria itu suka memberiku bunga atau coklat kadang makanan, aku tak menolaknya. Aku suka apapun yang gratis.” ucap Riu.
“ tapi saat aku bertemu denganmu rambutmu itu pendek.” ucap Henzie tak percaya.
“ karena setahun setelah grandma ku pensiun dari dunia kedokteran hewannya- ia kembali dari amerika dan mengetahui aku berambut panjang. Beliau sangat marah dan mencukur habis rambut panjangku.” ucap Riu memainkan rambutnya.
“ ah.., sayang sekali padahal butuh waktu lama untuk rambutku sepanjang itu.” ucap Riu mengenang. Membuat bulu kuduk Henzie merinding seluruhnya.
“ iuh.., jadi katakan apa maksudmu tentang menggoda wanita.” ucap Henzie mengelus kedua lengannya sementara sprei juga selimut telah di letakkan Gin di mesin cuci.
“ setelah grandma ku mencukur habis rambutku aku benar- benar melatih tubuhku sehingga membentuk otot enam kotak di perutku. Dan merubah penampilanku menjadi bad guy kau tahukan?” ucap Riu mengingatkan.
“ hem.” ucap Henzie mengenang.
__ADS_1
“ nah setiap aku pergi aku, Gin dan Rick selalu menggunakan pakaian yang terlintas seperti seragam atau paling ga kembar antara warna atau mungkin fashionnya meski masih sedikit berbeda, dan yang awalnya di dekati menjadi suka menggoda.” ucap Riu.
“ lebih tepatnya untuk taruhan.” ucap Gin datang dari arah tempat khusus mencuci.
“ taruhan?” heran henzie.
“ yap, aku bertaruh apa aku bisa membuat para wanita itu mengatakan aku tampan.” ucap Riu.
“ dan dari sana ia mendapat julukan seorang casanova.” ucap Gin ikut duduk di pinggiran kolam.
“ oh? Makanya aku heran kau bisa mendapatkan julukan seorang casanova karena aku bahkan melihat kau ini lebih seperti menghindari para wanita dan tak menyukai para wanita yang mendekatimu dengan memamerkan tubuh mereka.” ucap Henzie. Dan tak segan- segan menghempaskan tubuh para wanita yang mendekati nya. Batin Henzie.
“ ya, karena keluarga kami selalu menanamkan sifat keras kepada kami dan aku berpendapat wanita itu seharusnya berperilaku selayaknya dirinya permata yang berharga yang layaknya di lindungi bukannya memamerkan tubuhnya kepada orang lain.” ungkap Riu.
“ dan aku beserta suami mu itu dulu sama- sama suka berperilaku konyol sebelum ia menjadi seorang mafia.” ungkap Riu.
“ benarkah?” ucap Henzie.
“ hem, dan kita, aku, Riu dan Rick sangat suka menggoda Yu- chan dan mengerjainya.” ucap Gin.
“ siapa yu- chan?” heran Henzie mendengar nama yang asing di telinganya.
“ wanita yang di sukai Riu.” ucap Gin.
0o0
hai! hai! hai!
karena kendala teknis atau mungkin kendala keliaran dalam bercerita sehingga author terpaksa memotong satu episode agar bisa melewatie review nie
maaf krn lama ya
tapi author tak lelah untuk mengingatkan jangan lupa meninggalkan jejak ya ^_^
__ADS_1
saran dan koment kalian sungguh berharga