
“Karena aku mencintaimu.” ucapan Zen sungguh membuat Cherry terkejut.
“Cinta?”
“Ya, sebuah perasaan yang terlambat ku sadari. Aku baru menyadari jika aku mencintaimu di saat aku begitu merasa kehilangan- ketika kau koma dulu.” ucap Zen masih menatap wajah istrinya.
“Bukankah itu hanya rasa bersalah?” ucap Cherry mengalihkan wajahnya.
“Aku juga berpikir jika perasaan ini hanya perasan bersalah karena aku- dirimu jadi koma. Namun papa Giant meyakinkan aku jika perasaan ini adalah cinta. Di saat papa Giant membuatku memilih merelakanmu atau menunggumu terbangun- dengan cepat aku memutuskan untuk menunggumu terbangun. Aku begitu marah saat papa kandungku sendiri menyarankan seperti itu. Di saat itulah aku menyadari rasa kehilanganku bukan karena rasa penyesalan namun karena aku yang sudah mencintaimu.” Ungkap Zen. Cherry hanya terdiam. Ia hanya bisa terus menangis mendengar Zen berkata seperti itu, selama ini ia selalu mengira jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia sudah ingin menyerah akan perasaannya, siapa yang menyangka jika setelah memutuskan untuk menyerah- ia malah mendengar pernyataan suaminya.
“ kurasa aku tak bisa bertahan selama sis Zena.” ucap Cherry menghapus air matanya.
“ oh, kau ingat sis Zena? Dia juga pernah mengalami hal sepertimu, hilang ingatan dan lupa pada suaminya karena Gin juga enggan menyentuhnya.” ucap Zen tertawa.
“ tapi berbeda denganmu, kakak ku itu tidak benar- benar lupa pada suaminya.” ucap Zen terhenti.
“ tunggu! Kapan kau bertemu dengan sis Zena? Ia bahkan belum mengunjungimu setelah kau terbangun dari koma.” ucap Zen menatap istrinya. Cherry hanya terdiam.
__ADS_1
“ a.., apa.. apa kau sudah mulai mengingat semuanya, sayang?” tanya Zen mulai bangun dari tidurnya dan bersandar di dudukan kasurnya.
“ apa kau akan marah padaku jika aku mengatakan kebenarannya?” tanya Cherry.
“ untuk apa marah?” heran Zen.
“ berjanjilah untuk tidak marah padaku.” ucap Cherry memilin tangannya sendiri.
“ katakanlah, sayang! jangan membuatku menunggu!” ucap Zen tak sabar. Melihatnya Cherry hanya bersandar di bahu suaminya.
“ apa kau akan marah jika ternyata aku tak benar- benar hilang ingatan?” ucap Cherry.
“ apa?” ucap Zen tak percaya.
“ aku ingin menyerah akan perasaanku padaku. Aku berharap jika saat terbangun nanti aku akan melupakanmu- melupakan perasaanku padamu. Namun saat terbangun aku bukan saja masih mengingatmu aku bahkan tak bisa membuang perasaanku padamu. Aku putus asa, itu sebabnya aku.., aku berpura- pura tak mengingatmu sambil berharap melupakan perasaanku padamu.” ucap Cherry menjauhkan tubuhnya dari suaminya.
“ padahal aku sudah berniat menyerah padamu, namun mengapa kau malah mengatakan jika kau mencintaiku?” lirih Cherry. Zen hanya terdiam, ia tak menyangka jika ia akan merasakan apa yang di rasakan kakak iparnya tersebut. Air mata mulai mengalir dari mata Zen.
__ADS_1
“ Zen? Kau marah padaku?” tanya Cherry melihat jika suaminya hanya terdiam saat ia menjelaskan. Zen menatap Cherry- membuat wanita itu terjenggit kaget melihat tatapan suaminya. Tanpa bisa menghindar, Cherry merasa jika suaminya menangkup tubuh Cherry dan memeluknya.
” Syukurlah, syukurlah. Aku mencintaimu,aku sangat mencintaimu, Cherry, istriku.” ucap Zen menciumi wajah Cherry.
“ apa itu tandanya kau tak marah padaku?” ucap Cherry menjauhkan tubuh suaminya.
“ aku memang tak marah padamu.” ucap Zen mulai menjatuhkan tubuh istrinya di kasur mereka.
“ tapi kau tetap harus di hukum karenanya.” ucap Zen dengan smirk smilenya. Cherry yang tahu maksud dari suaminya itu hanya tertawa kecil dan mengalungkan lengannya di leher Zen.
“ aku siap di hukum, suamiku.” ucap Cherry.
😊😊😊
Suka?
Atau malah ada yang berharap Cherry benar- benar lupa pada Zen nie?
__ADS_1