
Henzie memarkirkan mobil mewahnya di jalan yang sedikit jauh dari area pasar tradisional, selain takut mengotori mobil baru, jika Henzie datang menggunakan mobil mewah pasti orang akan menaikkan harga jauh dari harga normal. Menu lauk hari ini… mungkin makanan khas belanda. Sudah lebih dari setahun Henzie tidak pulang ke negara tempat ia dibesarkan, meski ia masih sering menghubung pastur Lionel dan saudara setampungan dengannya; Louis.
Ia mengarahkan kakinya mencari sayur- sayuran juga sosis besar, ia ingin membuat Stamppot. Setidaknya makanan itu bisa dibuat dengan bahan yang umum.
Saat bahan makanan yang ingin di buatnya sekaligus bahan- bahan pengisi kulkas lain dirasa telah di belinya, ia ingin segera pulang namun ekor matanya tertuju pada segerombolan pria yang hendak menjambret seorang ibu- ibu.
Dengan tenaga seorang wanita tentu saja ibu itu kalah ketika para pria berbadan dua kali dari ibu itu merebut tas ibu itu. Mirisnya tak ada yang bersedia membantu, mengingat para pria itu dikenal itu sebagai pembuat rusuh. Tepat pada segerombolan pria itu melewati Henzie- tas yang ada di tangan perampok itu telah berpindah tangan. Entah bagaimana tas itu telah berada di tangan Henzie dan pria yang di membawa tas ibu itu terpental tanpa sadar.
“ Haha daijoubu?” ibu baik- baik saja? Ungkap Henzie memberi tas milik ibu itu.
“ iye, arigatou.” tidak, terima kasih. Jawab ibu itu menunduk sebelum akhirnya berusaha pergi saat melihat para pria itu mengacungkan senjatanya.
Baru mau pria itu mengarahkan pisaunya, Riu menghadang pria itu dan seketika merebut pisau itu ketangannya.
“ Riu? Kau disini?” ungkap Henzie heran.
“ hem, aku dan adikku berusaha mengusir waktu luang kami sampai mata kami tersadar ada jajanan khas pasar yang membuat perut kami bergejolak.” gurau Riu memutar- mutar pisau yang di rebut di tangannya. Sementara pria yang tadi yang badannya terpental mengarah pada Rick yang membawa dua piring jajanan pasar di kedua tangannya.
Mengira jika Rick hanya anak kemarin sore membuat pria itu hendak menjadikan Rick tameng, hingga Rick menendang wajah pria itu hingga terjungkal.
“ tuan jangan mengincar makanan saya, saya harus mengantri ini selama setengah jam hanya untuk 2 piring ini.” ungkap Rick yang menganggap mereka hendak mengambil 2 piring yang di bawanya. melihatnya pria lain yang hendak membalasnya di injak kakinya dan sekejap mata kakinya telah di patahkan.
“ tuan, aku ingatkan saja adikku itu menguasai muay thai.” ucapan Riu membuat seketika para pria itu berwajah pias dan terpaksa meninggalkan pasar itu.
__ADS_1
“ kau sedang belanja?” ungkap Riu menyusul adiknya mengambil sepiring jajanan yang ada di tangan Rick.
“ hem, aku rindu masakan belanda jadi aku membeli beberapa bahan disini sekaligus mengisi kulkas kami.”
“ oh…” ungkap Riu ber o ria, sementara Rick memilih asik memakan jajanannya.
“ Aku pulang dulu, lanjutkan makan kalian.” ungkap Henzie hendak meninggalkan Riu dan Rick yang masih asik dengan makanannya.
“ oke hati- hati.” ungkap Rick dan Riu.
***
“ kau masak apa?” heran Gin yang melihat Henzie sedang sibuk di dapur.
“ masakan khas belanda?”
“ hem.” jawab Henzie masih sibuk dengan adonan kentangnya.
“apa kau yakin kau orang belanda? kau tidak penasaran tentang asal usulmu?” ungkap Gin.
“kenapa kau tiba- tiba bertanya seperti itu?” heran Henzie mulai menatap Gin.
“ kau memang di temukan dan di besarkan di salah satu gereja yang ada di belanda namun aku lihat kau bukan seorang keturunan belanda.” ucap Gin sambil menatap Henzie dari ujung kaki hingga ujung kepala. Selain memiliki tinggi badan yang mini, Henzie memiliki wajah asia dari pada eropa bahkan ia memiliki pigmen kulit cenderung kuning langsat ke coklat susu dari pada putih.
__ADS_1
‘ little.’ batin Gin.
“ mungkin aku penasaran. Aku sendiri selalu membandingkan diriku dengan anak- anak satu saudara sepenampungan denganku, tidak mungkin aku tidak sadar. Namun aku tahu orang tuaku pasti memiliki alasan sampai mereka membuangku. Dan aku berusaha memakluminya dan menjalaninya. Meski aku bukan orang Belanda aku tetap di besarkan di sana dan aku menyukai masakan khas mereka.” ungkap Henzie menyelesaikan masakannya.
Begitu masakan Henzie jadi Gin langsung menghabiskannya, bahkan di saat masakan itu masih mengepulkan embun panas. Tak heran masakan Henzie lumayan cukup cocok di lidah Gin lagi pula pria itu juga sudah lama tidak masak makanan khas tempat kelahiran ibunya tersebut.
*
“ kau bisa minum?” ungkap gin. Henzie hanya menggangguk, ia begitu penasaran akan salah satu alcohol yang jadi koleksi di bar mini Gin. Gin kembali dengan salah satu wine merah di tangannya dan dua gelas wine di tangan lainnya. Sementara Gin membuka wine dan menuangkannya ke gelas, Henzie menggoreng sisa sosis itu untuk teman minum wine.
Siapa yang menyangka jika wajah sepolos Henzie sangat pandai minum, sudah satu botol besar habis Henzie belum menunjukkan tanda mabuk, bahkan wajah nya belum berubah sedari awal ia minum. Henzie hanya terus menyesap wine yang di tuang Gin sambil menonton televisi. Sementara Gin sudah memerah wajahnya.
“ gin?” ucap Henzie menggoyangkan tubuh Gin yang tertidur di sofa ruang tamu. Dengan tubuh Henzie yang kecil tak mungkin menggangkat tubuh Gin yang tinggi dan besar ke lantai 2. akhirnya ia memilih mengambil selimut dan menyelimuti gin setelah sebelumnya membaringkannya di sofa dan kembali ke kamarnya untuk tidur. Bahkan Henzie masih dalam kesadaran penuh dan tak terlihat mabuk sama sekali saat kembali kekamarnya seolah alcohol yang di minumnya hanya lewat di lidahnya.
----0o0----
makasih untuk yang udah dukung author tak lelah author mengingatkan untuk like juga follow author juga kasih coment masukan boleh saran juga boleh nghina boleh asal jangan sadis biar agak rame dikit kek >_<
__ADS_1