
Gin yang sadar tak ada sosok Henzie mulai panik dan menyuruh Lucas mencari keberadaan istri kecilnya.
“ tuan, maaf sebentar lagi meeting akan di adakan.” ungkap Sherly, penanggung jawab meeting kali ini. Ia akhirnya memilih menyuruh Lucas tetap mencari little wife nya.
Dan dengan di iringi beberapa karyawan yang di tunjuk memimpin rapat, gin memasuki ruang meeting. Dan saat beberapa karyawan menunjukkan proposal mereka, gin sedikit merasa ada yang berbeda dengan proposal yang biasanya. Ide yang di berikan lebih segar dan menarik, wanita yang bernama Hikari yang mengetahui atasannya menyukai hasil proposal ini mengakui jika ini adalah buatannya, namun saat di minta menerangkan ke podium wanita yang rambutnya di ikat kebelakang ini terlihat bingung dan tak mengerti dengan proposal yang di akui adalah buatannya.
Melihatnya dengan sigap seseorang maju dan naik ke podium memberikan hasil design nya lalu menerangkan proposal nya, mata Gin membulat sempurna, itu adalah little wife nya. Akhirnya ia mengetahui bahwa hasil proposal yang ada di tangannya,sebenarnya adalah hasil kerja istri nya.
‘ that’s my girl.’ batin Gin bangga.
*
Merasa di permalukan, wanita bernama Hikari itu menarik Henzie dan memarahinya.
“ kau ini memang berniat mempermalukan aku ya?” ungkap Hikari marah.
“ tidak, Hikari, saya hanya membantumu.” ungkap Henzie membungkuk.
“kenapa kau hanya memanggilku namaku? Aku senior disini!”
“ aku bukan anak baru.” ungkap Henzie membuat Hikari meradang sekaligus malu, pasalnya, ia memang tidak akrab dengan karyawan lain apa lagi devisi lain.
“ Memang berapa umurmu hingga memanggilku nama? ” ucap Hikari merasa dirinya lebih tua dari Henzie.
“ 27.” ungkap Henzie jujur.
“ bohong! perlihatkan kartu identitasmu.” ungkap wanita yang masih berumur 23 tahun ini. Bahkan setelah Henzie memberi kartu indentitas pun wanita ini muda ini masih tak percaya dan malah seolah mengundang keributan.
“ ada apa ini?” ungkap sebuah suara.
__ADS_1
“ a…, ah, pak direktur…., anu…, anak baru ini…” ungkap Hikari mencoba mencari pembenaran di depan Gin.
“ ada apa dengan istriku?” ungkap Gin merangkul pinggang Henzie. Sontak membuat Hikari yang awalnya ingin menyalahkan Henzie membulatkan matanya sempurna.
“ ja…, jadi anda istri pak dirut? Ke…, kenapa anda tidak bilang sebelumnya.” ungkap Hikari terbata.
“ kau tidak bertanya.” ucap Henzie polos. Membuat Gin menahan tawanya.
*
Setelah beberapa kesalah pahaman diakhiri dengan permintaan maaf yang membuat Hikari malu sendiri dengan tingkahnya, kini Henzie kembali ke tempat duduknya di ruangan Gin.
“ kau lelah?” ungkap Gin yang sudah menaikkan suhu AC di ruangannya karena melihat Henzie mulai menggaruk tangannya lagi.
“ tidak, aku hanya bosan.” ungkap Henzie.
“ tidak, aku malu tidur disini. Bagaimana jika tiba- tiba ada tamu.” ungkap Henzie.
“ tidurlah di kamarku.” ungkap Gin.
“ kamar?” heran Henzie.
“ hem, kamar.” ungkap Gin mendorong lemari buku di belakangnya hingga berputar, ternyata ada ruangan rahasia di belakang rak buku itu.
“ wow.” ungkap Henzie.
“ apa ada ruangan rahasia lain? Atau jalan keluar rahasia jika tiba- tiba ada musuh.” ungkap Henzie dengan mata berbinar.
“ hem?belum, namun kurasa aku aku akan membuatnya untuk jaga- jaga.” ungkap Gin mendapatkan ide dari pertanyaan yang di lontarkan Henzie.
__ADS_1
*
Henzie lebih memilih asik dengan laptop tuanya meski memilih berbaring di kamar rahasia Gin. Hingga suara wanita membuat Henzie mengintip dari celah rak buku. Mulut Henzie terbuka lebar tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Seorang wanita dengan rambut pirang dan potongan bob sedang memeluk suami nya manja.
“ apa- apaan kau? Kau ini siapa?” ungkap Gin tidak suka pada wanita dengan baju yang tampak kekurangan bahan itu.
“ oh, ayolah, kau lupa malam panas kita, darly? Aku Claudia.” ungkap wanita itu.
‘ jadi wanita ini yang bernama Claudia? Aku bahkan tak ingat pernah bertemu dimana?’ batin Gin.
Tanpa di sadari air mata telah tumpah di mata indah Henzie, ia berusaha untuk tak terlalu mencintai pria yang kini menjadi suaminya. Namun perasaan ini tanpa permisi- masuk begitu saja ke hati Henzie. Membuat rasa sakit yang amat sangat dan menyesakkan.
Henzie tak memiliki riwayat penyakit jantung, namun saat ini jantungnya terasa sakit sekali. Tak ingin lagi melihat apa yang mereka lakukan membuat Henzie memilih kembali ke kasur tempat dimana ia meletakkan laptop tuanya dan berbaring sejenak. Lelah menangis tanpa disadari Henzie kini terlelap dengan air mata yang masing mengenang di sudut matanya.
Jam menunjukkan pukul 5 saat Gin membangunkan Henzie, lantas kemana sosok wanita bernama Claudia? Entah. Mungkin setelah menerima apa yang ia mau wanita itu segera pulang dari kantor suaminya. Atau mungkin juga sudah di usir security.
Lagi- lagi perjalanan dilalui dengan hening, jika tadi karena grogi atau malu, sekarang karena mulut Henzie begitu kelu untuk sekedar memecah keheningan. Tampak ekor mata Gin menatap Henzie yang sedari tadi diam. Tiba- tiba tangannya mengulur ke dahi Henzie.
“ kau sakit?” ucap Gin. Henzie menggeleng.
“ badanmu panas, kau mau periksa ke rumah sakit adikku?” ucap Gin yang di maksud adik adalah Rick, karena memang Rick di umurnya yang masih beranjak 17 tahun telah lulus S2 kedokteran dan kini tengah menjadi dokter di rumah sakit miliknya sendiri.
“ aku hanya ingin istirahat.” ungkap Henzie lesu. Akhirnya tanpa banyak kata lagi mobil milik Gin telah sampai ke Mansion mereka. Gin langsung masuk ke Mansionnya sementara Henzie mengikuti dari belakang. Karena Henzie tampak lelah, Gin memutuskan memesan makanan lewat daring sementara Henzie memilih langsung membersihkan badannya dan istirahat di kamarnya.
0o0
__ADS_1