
Setelah menghubungi Zen, gin akhirnya mengajak ketemuan pria muda yang masih berumur 25 tahun itu untuk bertemu di sebuah restoran khas jepang.
“ jadi sebenarnya anda adalah suami sebenarnya Hen..zie?” ucap Zen membaca biodata diri Henzie dan berkas- berkas lain untuk membuktikan jika Zena itu Henzie.
“ ya, keluarga kami sudah mencari keseluruh penjuru jepang namun tidak pernah menemukannya.” jawab Gin.
“ begitu..” ucap Zen masih membaca berkas- berkas lain soal Henzie.
“ tapi anda bilang anda sudah membawanya ke rumah sakit di jepang, namun mengapa kami sama sekali tidak pernah mengetahui nya? Kami sudah menyelidiki hampir di seluruh negara jepang.” heran gin.
“ karena saat kami menemukannya kami tak tahu identitasnya sama sekali, sehingga yah.., kami dari awal menggunakan nama Zena untuk meminta pihak rumah sakit memeriksanya.” ungkap Zen.
“ sekarang bagaimana?” ucap Zen setelah yakin apa yang di katakan Gin itu benar adanya.
“ entahlah, saya juga bingung, pernikahan kami karena perjodohan dan sebelum menikah aku tidak pernah bertemu dengannya sehingga tidak begitu banyak kenangan antara kita berdua. Aku tidak yakin dia akan mengingat kembali soal kami dan keluarganya.” ucap Gin menggenggam tangannya sendiri.
__ADS_1
“ kau bisa membawa keluargamu atau membawanya ke gereja tempat ia di besarkan agar ingatannya kembali.” ungkan Zen.
“ tapi apa dengan begitu dia akan mengingatku?” ungkap Gin lirih. ia takut Henzie hanya akan mengenal keluarganya namun tak mengenali Gin.
“ anda…, mencintai Zena…, ah maksudku Henzie?” ucap Zen hati- hati.
“ ya.” ucap Gin lirih sampai hampir tak terdengar.
“ lalu apa yang membuat anda tidak yakin jika Henzie tidak akan mengingat anda?” heran Zen.
“ saat masa pernikahan aku terus menjaga jarak dengannya, karena pekerjaanku. Aku bahkan memberi kenangan buruk sesaat sebelum ia menghilang.” ungkap Gin lirih. Ia tak bisa sepenuhnya mengatakan alasannya sehingga Gin hanya beralasan tentang pekerjaannya. Tidak mungkin ia berkata kepada orang luar jika dirinya adalah seorang Mafia.
“ baiklah, tuan Gin. Saya bukan psycholog jadi tak tahu harus berbuat apa, tapi saya yakin Henzie pasti akan mengingat anda. Kebetulan kita juga ada kerjasama dan kita akan berada disini dalam waktu yang tidak sebentar, saya akan membantu anda agar bisa berdua dengan Zena…, maksud saya Henzie.” ungkap Zen.
“ tentu terimakasih.” ungkap Gin menjabat tangan Zen. Setidaknya dari mata Zen, Gin tahu jika pria didepannya ini tulus membantunya. Setidaknya dia bisa di percaya karena bagaimana pun karena Zen lah, Gin bisa bertemu kembali dengan Henzie.
__ADS_1
--
“ kau dari mana?” tanya Zena melihat Zen baru saja pulang ke apartement mereka.
“ melihat- lihat jepang.” ungkap Zen sebagai alasan.
“ dan kau tidak mengajak ku? Suami macam apa kamu?” ucap Zena bercanda sambil menyilangkan tangannya di dada besarnya.
“ suami macam begini.” ucap Zen membalas candaan Zena.
“ lagi pula kita juga tak pernah berperilaku selayaknya suami istri.” lanjut Zen mengambil camilan di pangkuan Zena karena Zena tengah menonton Televisi.
“ maaf Zen, aku tidak pernah ingat kita pernah menikah jadi aku…” ucap Zena mengantung.
‘ aku tidak pernah merasa nyaman mengakui kau suami ku, Zen.’ batin Zena.
__ADS_1
“ it’s okay, Zena. Aku tak pernah memaksamu.” ungkap Zen duduk di sisi Zena.
‘ karena kita memang bukan suami istri Zena. Aku sendiri entah mengapa tak bisa mencintai mu, tapi meski begitu aku berjanji akan melindungimu. Dan sekarang aku memiliki misi untuk membuatmu ingat kembali suami mu dan mengembalikanmu kepada suami mu sebenarnya.’ Batin Zen.