The Mafia Is My Hubby

The Mafia Is My Hubby
Masakan Cherry VS Zen


__ADS_3

 Jam menunjukkan pukul 7 pagi saat Zen terbangun. Sebenarnya ia masih lelah- apa lagi Zen baru selesai membereskan kekacauan yang di lakukannya dini hari tadi, namun tubuhnya terasa tidak enak- tidur di kasur single bed yang seharusnya di gunakan untuk satu orang malah harus menampung 2 orang. Ia kelelahan karena tak memiliki banyak ruang gerak- apa lagi dalam keadaan memeluk Cherry.


Di tatapnya wajah damai istrinya yang bahkan tak terusik dengan sinar mentari yang berusaha masuk melewati celah tirai Jendela. Tatapannya kembali tertuju pada bibir istrinya yang terluka- karena menahan sakit atas ulah Zen.


“ maafkan aku, aku berjanji akan menebus semua kesalahan yang kuperbuat.” ucap Zen sebelum mengecup bibir Cherry sekilas.


Zen memilih bangun setelah sebelumya menutup kembali selimut Cherry yang tersingkap. Ia kelaparan dan memutuskan untuk memasak sesuatu- hingga ia mendapati masakan istrinya di dalam kulkas. Ia membuka tutup makanan tersebut dan memindahkan ke panci untuk di hangatkan kembali. Mencium masakan istrinya membuat Zen merasa lapar. Sesungguhnya, tanpa di rasa pun dari baunya saja dapat di pastikan jika masakan Cherry sangatlah lezat karena baunya memang sudah menggugah selera pria itu namun sekali lagi ego lah yang memuat Zen mengingkari itu semua dan memilih untuk tidak memakan masakan istrinya bahkan memakan masakan di luar yang belum terbiasa di lidah Zen.


Srup!! suara seruputan dari Zen yang mencicipi masakan Chery begitu makanan itu telah matang.


Mata Zen terbuka sempurna kala merasakan masakan istrinya.


‘ astaga! Ini enak sekali! Mengapa aku harus melewatkan masakan Cherry hanya untuk masakan yang tak terbiasa di lidahku?’ batin Zen tanpa sadar terus menyendokkan masakan Cherry kemulutnya. Satu mangkok masakan buatan istrinya habis tandas tak tersisa ke perut Zen hingga pria itu lupa membangunkan wanita itu untuk sarapan bersama.


Zen menatap ke mangkok berisi masakan istrinya yang telah habis tak tersisa.


‘ astaga, aku lupa menyisakan untuk Cherry, dia pasti tak bisa memasak karena masih lemah karena sakitnya juga...., karena aku.’ batin Zen menyesali perbuatannya.


‘ apa boleh buat.’ batin Zen beranjak dari duduknya.


*


Cherry meregangkan tubuhnya yang terasa letih dan melihat kesamping kasurnya yang kosong.


‘ kemarin hanya mimpi ya? Benar! Tak mungkin Zen mau tidur denganku.’ batin Cherry beranjak dari kasurnya dan merasa Nyeri di seluruh tubuhnya terutama di bagian kewanitaanya.


‘ sakit sekali! jadi kemarin memang bukan mimpi?’ batin Cherry memegangi tubuhnya. Dengan tertatih- tatih beranjak pelan- pelan sebelum memasuki kekamar mandi untuk membasuh wajahnya.


‘ tapi mengapa tubuhku sudah bersih? Seingatku aku langsung tertidur, apa dia yang menggendongku kekamar dan membersihkan tubuhku?” batin Chery entah mengapa itu membuatnya tersenyum.


Wanita itu memilih beranjak dari kekamarnya untuk memasak sesuatu.


‘ jam menunjukkan pukul 8, pasti Zen sudah berangkat kekantor.’ batin Cherry keluar dari kamar, meski suaminya sudah ke kantor, perutnya maih perlu di isi. Namun Cherry mencium bau masakan begitu keluar dari kamarnya, ia begitu terkejut melihat seorang Zen memasak.


‘ Zen? Memasak? Apa ia tak ingin memakan masakan buatanku hingga memilih memasak sendiri? Seingatku aku masih menyimpan masakan di kulkas, seharusnya ia cukup memanaskannya.’batin Cherry entah mengapa hatinya terasa ngilu.

__ADS_1


“ kau sudah bangun?” tanya Zen melihat Cherry beranjak ke ruang makan.


“ iya.” ucap Cherry seadanya, ia memilih menuju ke arah kulkas karena ingin memanaskan masakannya.


‘ mungkin jika ia tak mau memakan masakanku aku bisa memanaskannya dan memberinya ke tunawisma di taman didepan.’ batin Cherry sambil mencari masakannya yang ia simpan di kulkas.


‘ lho?’ batin Cherry masih sibuk mencari masakannya yang semalam ia taruh di kulkas.


‘ dimana masakanku?’ batin Cherry.


“ kau mencari apa?” tanya Zen melihat Cherry mengobak abrik kulkas.


“ erm.., masakanku yang aku taruh di sini.” ucap Cherry takut- takut.


“ sudah aku habiskan, makanya aku memasak untukmu, kau pasti masih lemas karena sakitmu juga...” ucap Zen menggantung.


“ karena aku.” lanjut Zen. Ucapan Zen memuat Cherry menatap dirinya.


“ kau habiskan?” tanya Cherry.


“ iya! Kenapa? Masalah!” ucap Zen dengan wajah memerah.


“ aku lapar! Kau ada masalah” ucap Zen dengan wajah merona.


“ lagi pula kenapa kau memasak begitu banyak?” heran Zen.


“ karena...,” ucap Cherry menggantung.


“ aku memberi sisanya untuk tunawisma.” bisik Cherry namun masih terdengar di telinga Zen.


“ memberi untuk tunawisma? Kenapa?” tanya Zen memelan.


“ ..., aku.., hanya kasihan pada mereka karena mereka belum tentu punya atap untuk berteduh, selimut untuk menutupi tubuh mereka dari hawa dingin. Setidaknya apa yang kulakukan bisa meringankan penderitaan mereka.” ucap Cherry takut. Takut dirinya dikira sombong, atau malah takut- takut jika Zen tak mempercayainya.


Zen hanya terdiam sebelum akhirnya berucap.

__ADS_1


“ kurasa masakanku sudah matang, makanlah.” ucap Zen menaruh masakannya kepiring Cherry. Cherry memperhatikan masakan Zen dan menatap suaminya, ia lalu duduk dan mengambil sendok untuk mencicipi nasi goreng buatan pria itu. Cherry sempat terdiam setelah mencicipi masakan suaminya.


“ kenapa? Apakah masakanku tak enak.” ucap Zen takut- takut.


Cherry hanya tersenyum dan melanjutkan makan.


“ ini enak Zen.” ucap Cherry tersenyum.


“ benarkah?” heran Zen lalu mengambil sendok dan mencicipi masakannya.


Namun dalam hitungan detik, pria itu langsung kembali memuntahkan masakannya.


“ ini asin sekali!” pekik Zen, kemudian ia melihat istrinya yang makan dengan lahapnya.


“ kenapa kau bisa makan masakan yang seperti racun itu dengan lahap?” tanya Zen.


“ kenapa?” tanya Cherry.


“ masakanku sangat asin!” ucap Zen membuat Cherry tersenyum.


“ kau mau makan masakan buatanku, Zen. Itu sebabnya aku juga menghargaimu dan memakan masakan buatanmu.” ucap Cherry tersenyum.


‘ dan menurutku kau mau memasak untukku adalah sebuah penghargaan untukku.’ bisik Cherry bermonoloq namun sekali lagi kata- kata itu dapat terdengar di telinga Zen. Pria itu terdiam, sesungguhnya ia sudah mengetahui sedari lama jika istrinya itu mencintainya jauh sebelum Zen menikahinya. Namun, rasa cintanya pada Lexia menutup mata Zen dari rasa cinta yang di berikan Cherry kepadanya.


Di sisi lain, Zen tak mempedulikan perasaan Cherry tak lain dan tak bukan juga karena pria itu ikut menyalahkan Cherry akan kematian kedua orang tua Cherry juga Lexia. Mungkin itulah salah satu alasan Zen tak bisa menyentuh Cherry. Sesunghnya Zen sadar, sebagaimana pria itu menyalahkan Cherry tak menutupi kenyataan jika Lexia yang telah tiada dan Cherry yang kini adalah istrinya. Sekarang, satu- satunya yang harus Zen lakukan adalah memaafkan Cherry dan berusaha mencintai istrinya sebagaimana wanita itu mencintai Zen.


0o0


Hiks >_<


 habis sembuh batuknya malah drop lagi nie author


tapi udah author banyakin upnya ya


jangan lupa like dan love nya biar author semangat upnya

__ADS_1


 


 


__ADS_2