
Cherry membuka matanya dan menatap kesekeliling lalu menghembuskan nafasnya berat. Jam menunjukkan pukul 10 siang dan sudah dapat di pastikan jika Zen meninggalkannya sendirian. Cherry memilih beranjak menuju dapur setelah sebelumnya mengambil handuk kecil untuk mengompress dirinya.
Ini mengingatkannya waktu kecil dulu. Wanita itu selalu mengompres dirinya ketika sakit saat wanita itu kecil- dulu. Ayah dan ibunya lebih memperhatikan kesehatan Lexia kecil dan sering mengabaikan Cherry dulu. Mungkin itu sebabnya ketika ia di nyatakan sebatang kara karena kedua orang tuanya dan saudari nya kecelakaan- wanita itu tak merasa ada yang berbeda. Bahkan sedari dulu, meski memiliki keluarga- Cherry seolah hanya seorang yang sebatang kara. Kerap kali Cherry di tinggal sendiri di rumah karena tubuh Lexia yang lemah dan gampang sakit. Mungkin itu yang menyebakan Cherry sangat mandiri. Semua kata- katanya hanyalah untuk menutupi luka yang di sebabkan orang- orang.
Dalam tidur Cherry bermimpi. Mimpi saat wanita itu kehilangan kedua orangtuanya dan saudari nya. Saat itu Lexia merengek ingin menikmati taman hiburan sebelum melakukan operasi pencangkokkan ginjalnya. Awalnya Cherry juga ingin ikut, namun sekali lagi rengekan dari seorang Lexia berhasil membuat orang tuanya tak mengajak Cherry. Kebiasaan di manja membuat Lexia menjadi pribadi yag egois. Ia selalu beralasan jka ia juga iri akan kebebasan Cherry yang selalu sehat- tidak seperti dirinya yang selalu bolak- balik ke rumah sakit.
Entah bagaimana sore harinya Cherry hanya mendapat kabar jika ketiganya mengalami kecelakan tunggal karena tergelincir karena derasnya hujan. Dan semenjak itu hidup Cherry seolah berbanding terbalik 180 derjat, jika sebelumnya hidup Cherry seolah tak di pedulikan, kini hidupnya bagaikan pusat perhatian. Bukan simpati namun malah olokan.
πΈπΈπΈπΈ
Cherry terbangun dalam tangis, sebuah mimpi yang harusnya jadi buih dalam ingatan namun malah berbekas secara nyata di hati wanita itu. Cherry melirik jam di dinding kamarnya, jam menunjukkan pukul 6 dan keadan rumah dalam keadaan gelap gulita. Sudah selama itukah wanita itu tertidur?
Cherry memilih merapikan wajahnya sekarang dan memilih beranjak untuk memasakkan makan malam.
β kau sudah bangun?β tanya sebuah suara yang mengagetkan Cherry. Wanita itu menoleh dan mendapati jika Zen sudah berada di depan kamarnya.
β menyalakan lampu saja juga harus aku?β batin Cherry malas dan memilih berjalan hati- hati untuk menemukan saklar lampu. Setelah lampu menyala, Cherry memutuskan untuk langsung menuju dapur dan memasakkan makan malam untuk dirinya juga Zen- itu jika suaminya itu mau makan.
β apa kau tidak bisa sedikit saja tersenyum?β tanya Zen mengikuti Cherry dan duduk di depan meja makan. Malas menanggapi, Cherry memilih menatap suaminya sebentar kemudian tersenyum sebelum akhirnya meneruskan masak- memasakknya.
βHarusnya kau ini meniru saudari mu yang selalu tersenyum dengan tulus.β Cherry hanya terdiam namun memilih melanjutkan memasak. Sungguh ia ingin mengatakan.
β sayangnya saudariku telah tiada, apa kau mau selamanya mengenang orang yang telah tiada?β
β atau aku harus tiada dulu agar selalu kau kenang di hatimu?β batin Cherry membuat aktivitas memasaknya terhenti sesaat sebelum akhirnya melanjutkan memasaknya lagi.
β jangan memasak terlalu banyak, nanti aku masih harus pergi menemui tuan Gin.β ucap Zen.
β aku hanya pulang sebentar untuk berganti baju.β lanjut Zen meninggalkan Cherry yang terdiam menatap masakannya yang hampir matang.
__ADS_1
Cherry menatap ke jam dinding rumahnya, sudah terlalu malam untuk berjalan ke taman dan memberi pada tunawisma itu. Pada akhirnya Cherry memilih memasukkkanya ke tempat makan untuk di hangatkan esok paginya.
πππ
Cherry terbangun tengah malam saat mendengar ada yang menekan bel rumahnya. Jika suaminya, tak mungkn juga menekan bel rumah mereka.
β siapa?β ucap Cherry was- was.
β ini aku.β ucap sebuah suara yang di kenal Cherry. Wanita itu memilih membuka dengan sedikit celah, bagaimana pun ia seorang wanita yang telah menikah, tak mungkin membiarkan seorang pria yang bukan suaminya masuk di saat ia sedang sendirian di rumah.
β tuan Gin? Ada apa anda kerumah saya?β tanya Cherry. Gin yang melihat jika wanita itu hanya membuka sedikit pintu rumahnya- tersenyum. Ia jadi benar- benar yakin jika apa yang di bicarakan orang soal wanita ini tidaklah benar adanya.
β aku membawa suamimu.β ucap Gin membuat Cherry membuka lebar pintu rumahnya. Wanita itu begitu terkejut melihat Gin membawa suaminya yang dalam keadaan mabuk.
βAda apa dengannya?β tanya Cherry.
βDia mabuk.β Ucap Gin menggendong Zen ke sofa rumah Zen juga Cherry. Setelah meletakkan Zen ke sofa- Gin melihat secara keseluruhan rumah Zen juga Cherry dan menyadari sesuatu saat melihat lampu ruang tidur untuk tamu yang menyala.
βKalau begitu aku tnggal dia disini, apa kau baik- baik saja?β tanya Gin.
β ya, tuan, setelah mengelap tubuhnya saya akan membaringkannya di kamar.β ucap Cherry. Gin hanya tersenyum, Cherry mengingatkannya akan sifat Zena dulu yang menerimanya apa adanya meski Gin selalu bersikap dingin padanya. Entah mengapa ia jadi merindukan istrinya yang kini tengah berbadan nulat karena mengandung kedua buah hati mereka.
*
Setelah kepergian Gin, Cherry mengambil air dalam ember dan lap kecil untuk mengelap tubuh Zen yang penuh dengan bau alcohol, baru mau membuka kancing kemeja suaminya- tangan Cherry di cekal Zen.
β apa yang mau kau lakukan?β rancu Zen.
β aku mau membersihkan tubuhmu, Zen.β ucap Cherry.
__ADS_1
β kau pikir aku bodoh! Kau mau merayuku?β rancu Zen menarik pinggul Cherry.
β lepas, Zen!β ucap Cherry memberontak.
β kenapa? Aku ini suamimu! Aku berhak atas tubuhmu! Bukan para tetua genit itu!β ucap Zen tanpa permisi ******* bibir Cherry. Wanita itu ingin berontak, namun tenaga wanita Cherry takkan bisa mengalahkan tenaga pria Zen- apa lagi wanita itu kini tengah lemah karena sakitnya.
Tanpa bisa melakukan banyak perlawanan, kini Cherry tengah berada di bawah kukungan Zen di sofa ruang TV dengan semua pakaian Cherry yang telah robek tercecer di lantai, sebagian terlempar hingga menggantung di salah satu hiasan di rak pemisah antara ruang TV dan dapur serta ruang makan.
Zen begitu terkejut melihat reaksi kesakitan Cherry, lebih terkejut lagi melihat darah pertama yang menetes di sela paha wanita itu yang mengotori sofa ruang TV mereka.
Entah bagaimana kesadaran Zen kembali sepenuhnya dan efek dari alcohol seolah menguap karena rasa keterkejutan Zen. Ia tak menyangka jika apa yang di katakan kakak ipar dan ayah kandungnya tadi adalah kebenaran dan apa yang di duga selama ini salah.
Zen menatap wajah Cherry yang memejamkan mata menahan sakit, di tambah bibirnya yang robek karena menjadi sasaran kesakitan wanita itu. Zen memilih untuk mencium Cherry melakukan apa yang seharusnya di awal sebelum ia memasuki wanita itu, merangsang wanita itu dengan sentuhan tangan juga bibirnya dan membuat wanita itu tenang dan terangsang karenanya.
Entah karena milik Cherry yang masih pertama atau karena suhu tubuh wanita itu yang menghangat karena sakitnya- Zen mengakui nikmatnya milik Cherry yang seolah mencengkram erat miliknya seolah di pijat di tambah suhu yang hangat membuat nikmat tersendiri bagi Zen.
*
Ruangan yang awalnya hanya ada lenguhan dan desahan kini menjadi sepi seolah tak pernah terjadi apa- apa sebelumnya- setelah lenguhan panjang pengakhir segalanya, Cherry merasa tubuhnya lelah dan tak bertulang.
Tubuhnya telah penuh oleh peluh keringat dan juga beberapa tanda pemberian Zen, sebagian luka karena wanita itu memberontak. Cherry menengok bajunya yang tercecer di lantai. Baju itu sudah tak pantas di sebut baju karena telah menjadi serpihan kain tak berbentuk. Wanita ingin meraih kain- kain itu sampai ia merasa tubuhnya melayang.
Di sisa kesadaran yang ada Cherry melihat Zen yang tengah menggendongnya kekamar wanita itu. Entah apa yang terjadi selanjutnya- karena Cherry tertidur akibat kelelahan, yang wanita itu rasakan hanya tubuhnya merasa dingin seolah tubuhnya merasakan dinginnya air menusuk kulitnya namun tiba- tia tubuhnya kembali menghangat karena tertutupi oleh kain yang membungkus tubuhnya dan sebelum wanita itu menemui alam mimpinya ia masih dapat merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya namun membuat dirinya merasa nyaman.
Untuk kali pertama, Cherry bisa tertidur nyenyak tanpa bayang- bayang mimpi masa lalu.
0o0
maaaf telat upnya ya
__ADS_1
sebagai gantinya author sekali up tapi katanya agk author buat banyakdindinh