
Ini kali pertama Gin mau makan di luar bersama. Bukan berdua melainkan berempat. Ya, berempat. Henzie, Gin, Riu dan Rick. Meski mereka orang kaya, mereka bukanlah orang sombong yang tidak mau makan di pinggir jalan. Jika kebanyakan orang yang mengaku kaya namun segan memberi kepada pengemis, Henzie selalu melihat keluarga mereka selalu ringan tangan dalam memberi. Bahkan kerap menolong orang. Ternyata pekerjaan dunia bawah tak semata- mata membutakan hati nurani mereka.
Henzie merasa jika mereka menggeluti dunia bawah semata- mata untuk menekan kejahatan dan mengendalikan dunia bawah untuk hal baik. Contohnya hari ini ketika mereka sedang makan dalam satu meja di rumah makan pinggir jalan ada seorang berandal atau preman yang menudingkan pisau kepada Riu setelah tiba- tiba duduk di sebelah Gin.
“harta atau nyawa.” ucap pria itu dengan seringai menjijikkan.
“ tidak pilih dua- duanya.” ucap Riu tenang, bahkan Rick terlihat makan dengan santai. Dengan marah pria itu hendak beranjak berdiri masih dengan menudingkan pisaunya menuju Riu dengan gerak cepat Riu merengkuh pisau itu dan menancapkan garpu yang di pegangnya ke tangan pria itu tembus hingga seperti terpaku ke sisi meja.
“ARGH!!” teriak pria itu saat melihat ada pisau menancap di tangannya.
__ADS_1
“ duduk!” ucap Riu menendang kaki pria itu hingga kehilangan kesimbangan.
“ ma.., maafkan saya, biarkan saya pergi.” ungkap pria itu dengan gemetar.
“ kau tidak dengar adikku bicara apa? Dia bilang.. du- duk.” ungkap Gin menunjukkan sebuah pistol yang tersembunyi di balik jaketnya, membuat orang yang menonton sedari tadi bergidik ngeri. Akhirnya dengan wajah yang berubah pucat pasi pria itu duduk kembali.
“bungkus kan satu porsi untuk pria ini.”ungkap Riu kepada pemilik kedai. Membuat pemilik kedai ikut bergetar ketakutan dan terpaksa mendahului permintaan Riu.
“ jangan kembali lagi!” ungkap Riu menarik garpu yang langsung membuat pria itu lari terbirit- birit dan menyisakan keheningan. Disaat semua yang berada di kedai itu ketakutan Gin mengeluarkan sebatang rokok dan menunjukkan pistol yang di bawanya dan;
__ADS_1
Ctek!
Ternyata pistol itu adalah pemantik api yang di bentuk menyerupai pistol asli, membuat orang yang tadi ketakutan bernafas lega dan ujungnya Riu dan Gin yang sedari tadi berwajah datar- tertawa.
“ orang begitu hanya modal gertak doang, jika kita ketakutan ia akan semakin berani, sebaliknya jika kita melawan juga ia akan ketakutan.” ungkap Riu memecah suasana.
“ ini benar- benar mirip pistol.” ungkap pemilik kedai melihat pemantik korek yang di letakkan di meja kedai.
“ hem banyak beredar koq salah satunya berbentuk handphone.” ungkap Riu yang memang supel diantara saudaranya yang lain. Henzie hanya terdiam saja, ia sudah tahu para tabiat bersaudara ini. Itu sebabnya ia tenang saja ada penjahat marak di mana- mana, ketiga pria ini sungguh bisa di andalkan, meski cuek layak gunung es, setidaknya ada satu yang asik di ajak bercanda.
__ADS_1
Selesai makan pemilik kedai memberi kami satu bungkus makanan gratis kepada kami, ungkapan terima kasih katanya. Tentu saja kami takkan menolak rejeki. Dan dapat ditebak apa yang akan terjadi, mereka akan memberi makanan yang telah di beri itu kepada pengemis agar bisa makan. Henzie tersenyum, itulah salah satu sebab meski ia tahu tentang dunia bawah keluarga itu Henzie masih mau berteman dengan mereka, setidaknya mereka masih memiliki hati nurani di banding orang- orang yang mengaku mereka bebas dari dunia bawah.