
Di sebuah kota di Belanda, lebih tepatnya kota dimana gereja tempat Henzie di temukan dan besar. Di gereja tersebut ada wanita berbalut baju putih lengkap dengan bunga di atas kepalanya bak mahkota yang seragam dengan sekuntum bunga di tangannya.
“ mama, kau sungguh cantik.” ungkap Zena pada Arie Lie A yang menggunakan baju pengantin. Sungguh, meski sudah memasuki kepala 5 sungguh Arie sangat cantik dan mempesona dengan riasan sederhana dan rambut yang tertata rapi. Riasan sederhana yang mampu membuat pesona wanita itu tampak keluar dengan senum yang seolah tak pernah surut dari bibirnya yang teroleh warna merah maron, membuat wajahnya tampak terlihat lebih muda.
“ kau juga, sayang.” ungkap Arie Lie A kepada anak perempuannya, Zena yang sama- sama menggunakan baju pengantin. Sama- sama bewarna white born sama- sama melekat di tubuh rampingnya. Seolah membuat ibu dan anak ini tak tampak seperti ibu dan anak, seperti seolah kakak dan adik.
Sebenarnya Zena juga Gin memang telah menikah secara resmi, namun entah bagaimana Gin kembali melangsungkan pernikahan di waktu yang sama dengan kedua orang tua Zena.
Karena memang, pada awalnya pernikahan mereka di dasari oleh rasa ke engganan. Dengan menikahi kembali Zena- Gin mengakui jika Ia akan selalu mencintai Zena dan melawan rasa takutnya.
“ pendeta sudah siap.” ungkap Zen memanggil mama sekaligus kakak kandungnya tersebut.
Arie juga Zena saling berpegangan menuju suami masing- masing. Di depan Altar sudah menunggu kedua pria yang merupakan calon suami dari para pengantin wanita.
Ini kali pertama Arie melihat Giant memakai pakaian lain selain Yukata. Pria dewasa itu kini menggunakan tuxedo bewarna silver dan rambutnya juga telah tertata rapi. Meski tampak jika mata kanannya memiliki bekas luka akibat sayatan pedang namun hal itu tak melurutkan ketampanan pria itu. Di sebelahnya ada Gin yang menggunakan tuxedo putih- menampilkan pesona sang ketua Mafia yang dulunya dingin. Sekarang, bahkan senyum tak juga surut dari wajah ketua mafia itu.
__ADS_1
“ apakah kalian bersedia, menerima pasangan kalian- dalam suka ataupun duka dan susah maupun senang?” tanya pastur Lionel- pastur yang menemukan Zena sekaligus yang merawat sewaktu Zena di ketemukan di depan biara mereka.
“ kami bersedia.” ungkap ke empat yang berbahagia tersebut- menandakan bahwa para pasangan suami dan istri yang telah sah di dalam nama Tuhan.
Suara riuh tepuk tangan menggiring acara pernikahan tersebut. Ada Riu, Rick, Erick juga istri dan ke tiga anak kembar mereka, Zie- Zie, Lucky, Arabella, Ben, Lee juga Nana ada juga Zen. Dan...., jangan lupakan para Yakuza yang turut berbahagia melihat kedua ketua mereka berbahagia dan menikah.
Lalu bagaimana dengan Chan? Atau mungkin para petinggi China lainnya?
Meski Zie- Zie juga telah menikah dengan warga Jepang, kata tak setuju tetap keluar dari mulut para petinggi di China tersebut, sehingga Arie Lie A merelakan kewarganegaraannya dan memilih untuk menikah dan tinggal dengan Giant.
Sementara Zen, pria itu memilih untuk tetap tinggal dan menemani Chan sambil sesekali berjanji akan menemui Giant- ayah kandungnya.
“ hoek!” Zena merasa mual begitu sesi pemberkatan selesai.
“ kau kenapa sayang?” tanya Gin.
__ADS_1
“ tidak tahu! entah mengapa tiba- tiba aku merasa mual.” ungkap Zena.
“ apa karena AC?” tanya Gin.
“ tidak mungkin! Udara di Biara ini cukup dingin sehingga tak pernah menggunakan pendingin itu.” ungkap Zena. Giant yang menerka- nerka alasan Zena hamil lalu mendekati Zena dan berkata;
“ apa kau hamil, Zena?” tanya Giant.
Ucapan Giant seketika membuat Zena sekaligus Gin saling bertatap.
END
meski judulnya Happy Ending tapi ini belum benar- benar berakhir ya.
masih ada cerita soal Chan dan juga sudut pandang Giant- bagaimana Giant bisa bertemu dengan Arie Lie A
__ADS_1