
Plack!! suara tamparan keras terdengar dari perpaduan tangan Zen yang membentu ke kulit pipi Cherry yang tertampar tangan suaminya.
Seorang Zen lebih mempercayai orang luar dari pada istrinya sendiri? Cherry menyadari jika pernikahan mereka ada karena keterpaksaan, namun wanita itu tak menyangka jika suaminya akan lebih mempercayai orang luar dari pada istrinya sendiri.
Tangan Cherry di ganggam erat, ingin rasanya wanita itu meringis namun mulutnya terlalu kelu untuk mengeluh hingga tanpa sadar kini tubuh wanita itu tertarik menuju kamar mandi kamarnya.
Brugh!! suara benturan keras terdengar karena Zen menghempaskan tubuh wanita itu kedinding kamar mandi kamar Cherry. Dengan emosi pria itu langsung membuka kran shower untuk membasahi tubuh Cherry.
“ kau harus mendinginkan pikiranmu agar tak lagi memalukan namaku!” ucap Zen meninggalkan istrinya sendirian. Sebenarnya wanita itu bisa saja mematikan kran showernya- lagipula tak mungkin juga Zen akan bolak- balik mengawasi apakah kran air tetap membasahi tubuh Cherry, namun wanita itu memilih untuk membiarkan tubuhnya tetap terbasahi oleh air yang terus mengalir dari shower tersebut- menyembunyikan air mata yang ikut mengalir dari mata indah Cherry.
__ADS_1
‘ sudahlah Cherry! Apa yang kamu harapkan? Berharap suamimu akan percaya padamu? Pernikahan kalian bahkan bukan didasari rasa cinta!’ batin Cheri menertawakan nasib dirinya.
‘ sadarlah Cherry! Kau ini memang pecundang! Pecundang karena mencintai seorang pria yang membencimu.’ batin Cherry mulai menjatuhkan tubuhnya, meringkuk- berusaha untuk membuat sesak di dadanya ikut larut dalam air.
Suara gemericik air menutupi suara isak Cherry dan air yang mengalir menutupi air mata Cherry yang terus jatuh. Bahkan rasa dinginnya air tak dapat menutupi sakit di hati wanita itu sekarang.
*
Setelah berulang kali menggagalkan niatnya sendiri untuk membuka kunci kamar mandi Cherry akhirnya Zen membukakan kunci untuk wanita itu tanpa melihat jika kran air shower nya bahkan belum di matikan wanita itu atau kondisi tubuh Cherry yang melemah karena terus di guyur air dingin.
__ADS_1
“ kalau kau sudah mengerti salahmu keluarlah.” hanya sebuah suara tanpa ada bayangan orang- karena memang Zen tak melihat keadaan Cherry dan langsung meninggalkan kamar istrinya setelah membuka kamar mandi wanita itu.
*
Tampak Cherry yang tertatih- tahih keluar dari kamar mandi menuju lemari kamarnya untuk mengambil baju ganti dan kemudian mengganti bajunya yang telah basah. Diliriknya jam dinding di kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi- waktu yang terlambat baginya untuk menyiapkan sarapan untuk Zen dan dirinya.
Meski pria itu tak pernah sekalipun memakan masakan buatannya- Cherry tak ingin absen sekalipun untuk membuatkan sarapan bagi Zen. Jikalau Zen memang tak pernah memakannya, Cherry bisa membungkusnya dan membagikan kepada tunawisma di taman kota.
Setelah selesai memasakkan masakan untuk Zen- wanita itu lebih memilih untuk langsung istirahat karena kepalanya yang terasa sakit dan tubuhnya lemas.
__ADS_1
Dari dalam kamarnya tampak pria itu yang melihat Cherry langsung kekamarnya setelah memasakkan makanan untuknya, meski tak pernah makan buatan istrinya- Zen tahu jika istrinya itu akan masuk kekamar Zen sementara pria itu mandi dan menyiapkan pakaian untuknya, lalu setelah Zen pergi berangkat mengurus pekerjaannya di Jepang yang bekerja sama dengan perusahaan yang Gin kelola- Cherry biasanya akan masuk dan membereskan kamar yang di tempati Zen.
Sebenarnya pria itu mengakui jika wajah Cherry yang memucat- namun lagi- lagi ego menguasai pria itu hingga membuat Zen memilih untuk langsung mandi dan meninggalkan Cherry sendirian.