
Tepat saat Henzie menyelesaikan masak untuk makan malam Gin pulang dari kantornya dan menuju meja makan.
“ kau sudah pulang?” sapa Henzie.
“ mandilah dulu baru makan.” lanjut Henzie, namun tidak ada jawaban dari Gin yang langsung menyampirkan jas dan dasinya ke sandaran kursinya. Dan menyinsing lengannya. Menyendokkan nasi ke mangkuknya dan mengambil lauk untuknya sendiri.
Lagi- lagi Henzie hanya mengambil nafas berat dan memilih ikut makan dalam diam.
“ kenapa tanganmu? Allergic?” tanya Gin melihat Henzie yang terus menggaruk tangannya.
“ e..ehm.” Henzie terkejut saat mendengar Gin berbicara padanya.
“ makanan?” heran Gin.
__ADS_1
“ bu.., bukan aku hanya.., tak kuat dinginnya AC.” ungkap Henzie. Gin hanya menatap Henzie sejenak sebelum akhirnya bersuara kembali.
“ Computer, naikkan suhunya.” ucap Gin sambil menengadahkan kepalanya. Tampak tiba- tiba suhu udara di Mansion ini sedikit lebih hangat meski masih terasa sejuk di kulit.
‘ jadi Mansion ini juga otomatis?’ batin Henzie berdecak kagum. Kalau begitu buat apa tadi ia susah- susah mencari remote jika hanya dengan suara bisa merubah suhu ruangannya? Sia- sia.
“ te…, terimakasih.” ungkap henzie terbata.
“ tidak perlu, aku hanya tak ingin kau merepotkanku jika tiba- tiba kau sakit.” ungkap Gin masih terus menyendokkan nasinya ke mulutnya.
Akhirnya keputusan berakhir pada action. Beruntung film sedang menampilkan kungfu china, kesukaan Henzie- apa lagi jika di selingi comedy. Baru mau tertawa riang, sosok Gin melewati Henzie begitu saja.
“ mau kemana?” tanya Henzie.
__ADS_1
“ bukan urusanmu.” ucap Gin dingin lalu meninggalkan Henzie lagi.
Henzie ingin mengikuti Gin, sayangnya ia tak memiliki kendaraan. Tampak Gin yang telah berganti baju masih dengan setelan jas namun dengan baju yang lebih santai bukan lagi kemeja kerjanya namun kaos putih.
‘ mungkin besok aku akan meminjam mobil pada Riu. Atau aku meminta langsung pada Gin? Ya, jika ia mau bicara padaku.’ batin Henzie memilih melanjutkan menonton TV.
----0o0----
Henzie melirik pada jam dinding kamarnya, jam menunjukkan pukul 2 pagi saat Henzie mendengar suara mobil. Di lihatnya sekilas dari balik pintu kamarnya Gin telah pulang. Entah berapa banyaknya minuman yang telah ia teguk, hingga bau alcohol menyeruak sampai kamar Henzie ketika Gin lewat kekamarnya.
__ADS_1
‘ dia mabuk? Kenapa untuk minum saja harus pergi keluar? Bahkan di rumah ini memiliki bar mini didalamnya.’ batin Henzie. Sampai terlihat ada bekas kissmark bertebaran di leher Gin.
Hati Henzie tersakiti lagi dan lagi. Ia memilih menutup pintu kamarnya pelan dan terduduk di balik pintunya. Ia ingin menangis namun ia sadar ia tak memiliki hak apapun untuk bersedih. Ia memang seorang istri dari Gin. Namun kenyataanya mereka menikah bukan berdasar cinta namun berdasar perjodohan semata. Ia berdiri dan menuju kasur nya menutupi tubuhnya dengan selimut dan meringkuk bagaikan bayi. Menangis dalam diam, satu- satunya cara agar hatinya tak terlalu sakit adalah tak terlalu mencintai Gin dalam- dalam. Setidaknya itu akan mengurangi rasa sakit yang dirasakannya saat ini.