
Selama perjalanan pulang EL dan Olivia masih tetap dalam keheningan tanpa suara apapun, dua orang yang pada dasarnya sama sama dingin itu masih tetap diam tanpa suara.
“Sampai jumpa kak” ucap El begitu sudah sampai di depan apartemen milik Olivia. Tanpa menunggu jawaban Olivia EL melangkah menuju apartemen milik pria itu.
Tiba-tiba tangan olivia muncul dan menahan pintu apartemen milik EL yang nyaris tertutup di hadapannya, sambil berusaha bicara pada EL, “Apa kamu masih marah el? Tidak bisakah menungguku berpikir sebentar saja, Paling tidak, izinkan aku bicara denganmu!” Nada bicaranya meninggi untuk menarik perhatian EL, ia sukses memperoleh perhatian pria itu karena sekarang EL kembali membuka daun pintunya.
“Apa yang mau kau bicarakan? Sejak tadi kakak hanya diam, dan hanya mau bicara saat aku benar benar menjauh dari kakak” Tubuh pria itu masih menghalangi sedikit celah pintu masuk.
Sekarang Olivia justru terdiam, kalau ditodong seperti ini, semua kata-kata yang disiapkannya menjadi kabur. “Aku—aku… aku tidak tahu, aku hanya ingin bertemu denganmu, berada di dekatmu dan tidak ingin berpisah darimu” Jelasnya sambil menghela napas panjang.
“Kenapa?”
Olivia mengangkat kedua bahunya, “Entahlah, aku—” Aish, Olivia tidak bisa mengungkapkan hal yang ingin diteriakkan pada El. “Aku—aish, sudahlah. Aku sudah mengganggumu. Maafkan kelancanganku yang tiba-tiba, menahan pintumu, dan tiba-tiba ingin bertemu”.
EL masih diam dia sendiri bingung mau bicara apa pada Olivia, tadi saat dia mengajak bicara Olivia terlihat tersiksa, jad rencananya El akan mebiarkan gadis itu untuk menenangkan dirinya.
“Well, kalau begitu aku pamit.” Olivia bisa merasakan matanya memanas, tapi ia memilih untuk menahan emosinya sekarang. Bagaimana pun ini adalah salahnya sendiri yang terlalu plin-plan.
Wanita itu baru saja mengambil beberapa langkah menjauh dari pintu EL ketika ia mendengar pria itu berkata pelan—nyaris berbisik—dari tempatnya berdiri.
“Memang tidak adakah yang ingin kakak katakan, tidak adakah perasaan itu sedikit saja, apa aku benar benar tidak bisa menggantikan posisi pria itu?” Bisik EL pelan.
Olivia menghentikan langkahnya dan segera berbalik untuk melihat EL, pria itu terlihat menyedihkan di mata Olivia.
__ADS_1
“Apa maksudmu EL? Apa aku pernah membandingkan dia denganmu?”
“Karena kami memang tidak pantas dibandingkan.” Sergah EL cepat.
“apa?”
“Tidak peduli apapun yang kulakukan, aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisi seorang pria yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya hingga detik-detik terakhirnya seperti dia, apakah aku egois berharap ada rasa sedikit saja untukku” Tanpa sadar, air mata EL kini sudah mengalir di kedua pipinya, rekaman CCTV yang ia saksikan kembali terngiang di kepalanya dan itu sedikit membuat dia shock dan berduka–ia tidak menyangka wanita yang dicintainya harus melalui kejadian kejam itu.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, EL?” Olivia menyapukan jemarinya lembut untuk menghapus air mata, “Sungguh, kau harus bicara lebih jelas karena aku tidak sepintar itu untuk mengartikan maksud pernyataanmu.”
“CCTV… Restoran Paris..”
Olivia akhirnya sadar dengan apa yang di maksud EL, Tadi El juga sempat menyinggung kenanangan itu dan itu membuat mereka menjadi canggung. Melihat air mata EL, olivia akhirnya menyerah. ia tidak lagi bisa berpura-pura kuat.
Melihat air mata Olivia EL kini terdiam, dia telah membuka luka gadisnya, tapi memang ini rencana pria itu agar gadisnya membuka semua luka yang sudah bernanah di hatinya setelah itu EL akan datang untuk menyembuhkan luka itu.
Pria itu menarik tubuh mungil Olivia ke dalam pelukan hangatnya—mencoba untuk menjaga agar wanita itu tidak semakin hancur dalam kepedihannya sendiri. El membawa masuk gadisnya perlahan menuju Apartemen miliknya, dia membiarkan Olivia menangis didadanya, setelah gadis itu tenang EL baru mengambil Minuman yang ada di dalam kulkas.
“Minumlah kak” tawar EL, “apa butuh the hangat akan aku buatkan” tambah pria itu lagi.
Olivia mengulum senyum sambil mengambil botol air yang di sodorkan padanya, “aku butuhnya bir atau minuman beralkohol” kekeh Olivia.
“Itu ada, tapi yakin dengan perut kakak tidak masalah menerima bir di siang hari ini?”
Olivia menganggukkan kepala, ia benar-benar butuh menenangkan diri sekarang—sebelum ia menuntaskan seluruh kesalah-pahaman di antara mereka.
__ADS_1
El pasrah, ia kembali ke dapurnya, mengambil seluruh persediaan bir yang ia miliki untuk diletakkan di atas coffee table di hadapan Olivia, pria itu segera membuka dua botol, memberikan satu kepada wanita itu dan ia segera mengangkat botol untuk bersulang dengannya.
“Untuk apa kita bersulang?” Tanya Olivia bingung.
“Farewell-mu.” EL menyeringai kecil lalu meneguk cairan pahit itu, “dan hari ini aku akan menemani kakak minum sampai mabuk” lanjut EL, “Apakah kita akan membahas tentang hal ini, atau kita akan berpura-pura drama barusan tidak pernah terjadi?”
“Boleh aku minta time-out?” Olivia mengangkat kedua tangannya untuk membentuk huruf T dengan telapak tangannya yang ditumpukan satu sama lain. “Aku akan menjelaskan segalanya padamu sekarang —sudah waktunya aku membicarakan itu dan tentang kita—tapi kumohon biarkan aku bernapas sebentar, karena sangat sulit bagiku untuk bicara tentang hal itu.”
El tersenyum, “Baiklah, aku akan menunggu, sementara itu bagaimana tentang kedatanganmu ke kota tempat tinggalku?”
Olivia menyunggingkan senyumnya, “gara-gara pesan prank itu aku berpikir kau akan benar benar meninggalkanku, aku ketakutan EL, makanya aku tanpa berpikir lagi mengambil tas dan langsung menyusulmu, aku mau mengatakan__” Olivia menghentikan ucapannya.
“Mengatakan apa?” tanya EL sambil mengulum senyum.
“hmm, Aku tidak ingin berpisah dari mu El” ucap olivia akhirnya.
“tapi kakak tidak mau menikah denganku, apa umur masih menjadi Batasan kita?”
“Sedikit” jawab Olivia jujur.
“Kenapa?” El berusaha mengajak berbicara santai agar Olivia mau terbuka padanya.
“Kita beda 6 tahun EL, Saat aku sudah tidak cantik lagi dan bertambah umur kamu masih terlihat muda, dan mungkin akan mencari orang lain, aku adalah cinta pertamamu, bisa saja aku bukan cinta terakhirmu, aku takut merasakan perasaan ditinggalkan lagi, aku tidak sanggup untuk merasakan itu” ungkap Olivia.
El terkekeh geli, “apa bila aku melakukan seperti apa yang kakak katakan, maka aku akan mati di tangan daddy deon dan mommy Ara”.
Olivia memandang EL dengan kening berkerut.
“Aku sudah menceritakan tentang kakak pada kedua orang tuaku, dan jangan ketakutan seperti itu” el kembali tertawa melihat wajah olivia yang langsung berubah pucat. “Kedua orang tuaku setuju aku berpacaran bahkan menikah denganmu” lanjut EL.
__ADS_1
...🦊🦊🦊🦊🦊...