
“Kak? KAKAK?! Apa kau baik-baik saja?” EL segera berlutut dan menggeser seluruh tubuhnya untuk mesuk ke kolong meja bersama Olivia.
Wanita itu tidak menjawab, bahkan ia tidak terlihat seperti orang yang bisa diajak berbicara saat ini.
“KAKAK!” EL mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Olivia sambil perlahan meletakkan kedua tangannya di atas telapak tangan Olivia yang masih menutupi telinganya.
Wanita itu masih tetap tidak bereaksi bahkan ketika EL mencoba melepaskan kedua tangannya dari telinga.
EL mencoba peruntungannya lagi. Ia meletakkan telapak kanannya di atas pipi kiri Olivia dan dengan lembut ia menarik tangan Olivia untuk menjauh dari telinganya, kali ini ia berhasil, Olivia akhirnya membuka matanya dengan perlahan.
“Ho—ney.” Ujarnya bergetar diantara tangisan yang masih ketara. Pandangannya terlihat kosong dan tubuhnya masih tetap tremor.
Apa yang dikatakan wanita itu tidak terdengar masuk akal bagi EL, tapi ia memilih untuk mengabaikan kata-kata Olivia, karena pemandangan di hadapannya jauh lebih mengganggu dari pada gumamannya. Wanita yang beberapa saat lalu terlihat berani telah lenyap digantikan oleh seseorang yang terduduk pasrah dan terlihat sangat rapuh.
“Alexa Olivia, apa kau bisa mendengarku?” EL mencoba menggoyangkan bahu Olivia, berharap bisa menyadarkan wanita itu dari masa trans-nya. “KAKAK!” Ia menggoyangkan bahu Olivia lagi.
__ADS_1
Olivia mengerjap beberapa kali hingga air mata yang mengeruhkan pandangannya pudar. Kini ia bisa melihat dengan jelas bahwa pria yang ada di hadapannya bukanlah Michel—yang ia kira sebelumnya. Olivia menelan kenyataan pahit itu bulat-bulat dan setelah semua inderanya kembali berfungsi, wanita itu merasa dadanya sangat sesak. Dengan cepat Olivia menepuk-nepuk dadanya dengan kasar dengan harapan rasa sakit dalam hatinya bisa pergi.
“Kakak, apa kau bisa mendengarku? Kau baik-baik saja kak? tadi itu hanya suara petasan dan kembang api. Kau dapat bernapas lega sekarang, kan?” EL membingkai wajah Olivia dengan telapak tangannya, melakukan usaha terakhir agar Olivia mau memandangnya. “Lihat aku Kakak! Hey!”
Olivia menarik napas dalam-dalam kemudian ia menutup kedua matanya. Momen saat kegelapan menyelimuti pandangannya adalah momen di mana seluruh mimpi buruknya terulang kembali di dalam bayanganya. Senyum menawan Michel beberapa detik sebelum serangan terjadi, tubuh-tubuh tak bernyawa yang tersebar di lantai, tangan berlumuran darah pria itu yang mencoba membelai wajahnya, kata-kata terakhirnya serta teriakan histeris yang Olivia keluarkan saat Siwon menghembuskan napas terakhirnya. Semuanya terlalu menyakitkan bagi Olivia, ia melakukan semua usaha untuk melupakan kejadian tragis itu tapi dentuman keras tadi telah membangkitkan traumanya dan Olivia sekarang ingat lagi dengan kejadian kelam di malam itu.
Tanpa sadar, Olivia menggenggam erat pergelangan tangan El yang masih berada di kedua sisi wajahnya, seolah-olah kedua lengan kokoh itu adalah pasak yang menahannya untuk tetap sadar. Ia membuka mulutnya sambil terus-terusan menarik napas dalam-dalam, lalu ketika seluruh pertahanannya runtuh, tangis wanita itu pecah. Ia tidak lagi peduli akan fakta kalau ia sedang menangis histeris di depan mahasiswanya yang tidak ia kenal, yang ia butuhkan saat itu hanya menumpahkan seluruh kepedihannya.
Dalam hidupnya, El tidak akan pernah melupakan ekspresi pada wajah Olivia disaat wanita itu memutuskan untuk berbagi kepedihannya. Banyak gadis yang mengurai air mata di hadapannya sebelumnya—gadis yang memohon untuk dirinya mau menerima gadis itu untuk berpacaran— gadis yang menangis karena cintanya ditolak oleh el tapi hati El tidak pernah bergetar karena merasakan kepedihan untuk orang lain sebelumnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Daniel merasa ingin melindungi seseorang.
.
Olivia duduk dalam diam di sofanya kembali, mata gadis itu terlihat kosong memandang layar televisi yang masih menyala menampilkan acara komedi tapi olivia masih diam, gadis itu mencoba membiarkan dirinya Kembali lupa dengan kejadian teror itu. Berharap dengan diam dia mampu melupakan semuanya.
El baru saja memapah dirinya menuju sofa, wanita itu hanya pasrah saja mengikuti kemana El membawanya, pikirannya terlalu kacau untuk berpikir dan ada perasaan nyaman yang ditularkan lelaki itu pada Olivia Setelah meletakkan olivia di Sofa, el melangkah mencari kotak p3k yang biasa Olivia gunakan untuk mengobatinya.
El berlutut di hadapan Olivia, berniat untuk mengobati bibir wanita itu yang berdarah. Karena kejadian sebelumnya, Olivia tidak sadar menggigit bibirnya terlalu keras dan mengakibatkan sedikit pendarahan.
El membersihkan dulu telapak tangannya dengan guyuran alkohol, kemudian ia mencelupkan kapas ke dalam botol.
__ADS_1
“kak ini akan terasa sedikit perih” ujar El sambil mengoleskan kapas tadi dengan hati-hati pada bibir bawah Olivia.
Olivia mengencangkan rahangnya ketika sensasi panas dan perih mulai terasa di permukaan kulitnya, rasa perih yang dirasakannya jelas lebih menyakitkan dari yang ia perkirakan sebelumnya.
“kak, berhentilah mengalihkan wajah kakak, aku akan selesai mengobati jika kakak tidak bergarak untuk menghindar” EL menggunakan tangan kirinya untuk menahan wajah Olivia yang terus terusan menghindar dari sekaan kapas tangan EL.
Olivia melotot kesal pada EL dan langsung mengambil kapas dari tangan lelaki itu, “biar ku kerjakan sendiri saja”. Olivia mengambil kaca yang ada di dekatnya untuk mengobati lukanya sendiri. Sedangkan EL hanya berlutut di hadapannya, tidak tau pa yang harus dilakukan lagi.
El memilih kembali duduk di sofa yang sama dengan Olivia, melihat setiap kegiatan olivia yang mengobati lukanya sendiri. Setelah selesai ia kembali meletakkan semua perlengkapan p3k di meja, gadis itu menarik nafas panjang, menahan napasnya selama yang ia mampu sebelum akhirnya menghembuskan dengan perlahan. Ia berharap cara ini bisa membantu membuat luka di hatinya lebih kebas. Matanya kembali digenangi air mata ketika pikirannya mulai kembali pada kejadian di Paris beberapa tahun yang lalu.
“kak~” ujar El ragu.
“El! Bicaralah padaku” sahut Olivia.
“Apa?” el menolehkan kepalanya untuk melihat wajah olivia.
“Bicaralah, tentang apapun yang kau mau, bantu aku untuk mengalihkan pikiranku.” Ia menundukkan kepalanya, “Kumohon, bicaralah.” Lirih olivia.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” ujar EL.
“Apapun. Cuaca, makanan, sekolah, hobi, pacar, apapun—kumohon bicaralah.” Tanpa sadar Olivia meninggikan nada bicaranya.
EL mengernyitkan dahinya, “kakak, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti orang yang ketakutan.”
__ADS_1
“Aku akan baik-baik saja begitu pikiranku teralihkan.” Balasnya ketus, “Aku punya ide, bicaralah tentang dirimu” sambungnya lagi.
...🐻🐻🐻🐻🐻🐻...