Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
36. Tertipu


__ADS_3

"Kamu gak kuliah?" tanya Olivia pada El.


"Kuliah?" El melirik jam yang bertengger di dinding Olivia. jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, El langsung tegak dari duduknya. "Waahhhh telat ni gara-gara kakak dosen kan" gerutu EL.


"Loh kok gara-gara aku?!" bentak Olivia tidak Terima disalahkan.


"Iya wajah kakak dosen menghentikan waktuku, aku jadi gak bisa berpikir dan lupa waktu, semua salah kakak" ujar El sambil mengulum senyumannya.


Sementara Olivia melongo mendengar ucapan remaja 18 tahun itu.


"Hei kau berani__" baru saja Olivia ingin memarahi El, El lebih dulu mencium pipi gadis itu.


"Makasih ya atas bantuannya, dan kakak jangan panggil kau namaku Daniel panggilan ku El" setelah itu El berlari keluar dari apartemen Olivia.


"Hah?!! tu anak kecil berani-beraninya mencium ku! gak tau aku ini dosen dia!" omel Olivia sambil memegang pipi nya yang tadi di cium El.


.


Diluar apartemen El memukul kepalanya sendiri dengan tangannya yang tidak sakit, "bodoh kok bisa-bisanya aku melakukan hal itu, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku sih, kok error gini" gumam el.


Pria itu menatap pintu apartemen Olivia yang tertutup. "Semoga dia gak mengusir ku nanti" doa El sebelum berlari masuk ke dalam apartemen nya sendiri.


...🙈🙈🙈🙈🙈...


"Al! cepatan dong! percuma pakai motor tapi jalannya lambat gini" gerutu Aurora di atas motor Al.


Al mengulum senyumannya dan mulai melajukan motor sesuai permintaan Aurora, karena terkejut Au langsung memeluk Al dengan kuat.


'plak' Aurora memukul punggung Al dengan sebelah tangannya, karena sebelah lagi digunakan untuk memeluk Al agar tidak jatuh dari motor.


"Al! jangan secepat ini juga!" panik Aurora.


Al mulai memelankan kembali laju motornya, pria itu terus menahan senyum karena tangan Aurora masih memeluk dirinya dari belakang.


"Gimana sih au, tadi minta cepat, sekalinya cepat minta lambat, ada-ada aja kamu au" kekeh Al.


“kamu tu nyebelin! Aku memang minta cepat karena kamu jalan seperti siput! Tapi tidak secepat tadi juga!” gerutu Aurora lagi.


“jadi maunya apa?” tanya Al sambil mengulum senyumnya.


“Sedang-sedang saja! Tapi jangan seperti siput” ucap aurora kesal.


“baiklah akan dilaksanakan tuan putri” teriak Al kencang.

__ADS_1


“AL! jangan bikin malu” pekik Aurora tapi bibir gadis itu menyunggingkan senyuman.


**


Sejak 5 menit sampai di kampus, al terlihat cemas karena Ay tidak juga datang, padahal tadi dia yang lebih dulu keluar dari apartemen.


“Tenanglah Al, ay pasti sedang dalam perjalanan” ucap Aurora berusaha menenangkan Al.


“Tenang apaan, aku merasa sedang di permainkan oleh ay” gerutu al. “apa keputusanku salah ya?” gumamnya pelan.


“membiarkan Ay untuk tinggal dengan kekasihnya?” tanya aurora.


El mengangguk cepat.


“hmmm salah sih, tapi karena kamu sudah memberikan izin kamu harus percaya dengan adikmu, dia tidak akan melakukan hal yang kamu takutkan” komentar aurora.


Al menekuk wajahnya murung, dia sebenarnya masih belum bisa melepaskan adik kembarnya untuk tinggal bersama brian, tapi adiknya yang keras kepala itu terlalu menyebalkan, Al tidak bisa membantah permintaan ay. Gadis itu jika di bantah maka akan memberontak lebih parah, makanya Al membiarkan saja.


"Ay!" panggil Aurora saat melihat gadis cantik itu memasuki pekarangan kampus.


Ay segera mendekati Aurora yang sedang berdiri bersama Al.


"kok bisa telat dek, padahal tadi kamu duluan yang keluar dari apartemen" tanya Al panik.


Ay terkekeh pelan, "makan dulu, terus nungguin om brian mandi" kekeh Ay.


Saat berjalan melewati Al, tidak sengaja rambut ay terkibas dan memperlihatkan leher jenjangnya, ay terlihat biasa saja, tapi Al melototkan matanya ketika melihat noda merah di leher Ay.


"Dek, leher kamu kenapa?" tanya Al sedikit sinis.


Aurora berhenti dan berbalik untuk melihat apa yang barusan dikatakan Al.


"Leher? emang kenapa leher Ay?" tanya balik Ay dengan wajah polos nya.


"Ya ampun Ay, ayo ikut aku dulu" aurora menarik Ay menuju kamar mandi, diikuti dengan Al yang mengikuti mereka secara spontan.


.


Di kamar mandi Aurora mengeluarkan bb cream kecil yang selalu dia bawa kemanapun.


"sebenarnya kenapa bisa merah gini sih ay?" tanya Aurora, dia berusaha menutupi bercak merah di leher Ay dengan bb cream yang tadi dia keluarkan.


"Gak tau, tadi aku cuma ngerasa gatal aja, tapi gak tau udah merah kayak gini" ujar ay polos.

__ADS_1


"ini seperti kissmark, makanya tadi Al langsung emosi melihatnya" ucap Aurora, dia sudah berhenti menempelkan foundation pada leher Ay.


"benarkah? jadi seperti itu tanda kissmark, apa aku bilang aja ya ini tanda kissmark pada abang al?" seru Ay dengan bersemangat.


"jangan dong! bahaya jika Al berpikir ini tanda kissmark, tadi kamu makan apa? atau ada ngerasa digigit sesuatu gak?" tanya Aurora cemas.


"Gak makan yang aneh-aneh kok tadi cuma makan nasi goreng, ahh iya aku ngerasa tadi ada yang gigit leher aku, tapi gak tau apa, emang bekasnya benar-benar seperti kissmark ya au?" tanya Ay dengan wajah yang benar-benar polos.


Aurora mengangguk pelan, "makanya kalau keluar itu pakai perlindungan dulu, nanti bisa kena gigit binatang yang aneh-aneh lagi, masih gatal?" cemas Aurora.


"sedikit" jawab Ay sambil tertawa pelan.


"ya udah yuk kita kembali, takutnya kita telat lagi" ajak Aurora.


.


Al yang diam-diam menguping segera berlari agak jauh dari pintu masuk kamar kecil tempat Ay dan Aurora sedang menutupi bekas merah di leher Ay.


"jadi kenapa leher kamu dek" tanya Al.


"kena kissmark bang" jawab Ay spontan.


'puk' Ay mendapatkan pukulan pelan dari Aurora, "bukan, kena gigit binatang tadi, jangan percaya ucapannya" ucap Aurora.


"ckck, au gak seru nih" decak Ay sedikit kesal.


"jangan asal ngomong dek, ingat peringatan abang, boleh pacaran dengan om brian tapi dalam konteks pacaran normal" ucap Al, lalu pria itu berlalu pergi.


"emang konteks normal seperti apa sih" gumam Ay pelan.


"pacaran tapi tidak melebihi batas seperti orang yang sudah menikah" Aurora menjawab gumaman pelan Ay.


"pelukan boleh?" tanya Ay lagi.


"emang kamu udah pelukan sama om brian?" tanya Aurora sedikit berbisik.


Ay mengangguk cepat.


"sebenarnya gak boleh sih, soalnya nanti dari sekedar pelukan lalu berubah jadi ciuman, dari ciuman lalu berubah jadi hal yang lebih intim" gumam Aurora pelan.


"tapi ciuman udah gak lanjut tuh" ucap Ay pelan.


"apa ay?" tanya Aurora karena tadi dia kurang fokus dalam mendengarkan ucapan ay.

__ADS_1


"bukan apa-apa" elak ay.


...🐯🐯🐯🐯🐯...


__ADS_2