
“Apa itu alasannya kakak langsung menjauhiku? Karena aku terlihat seperti mafia?” Selidik El.
Olivia diam dan berlalu meninggalkan el tanpa menjawab ucapan El.
“Kak! Kita belum selesai bicara!” teriak El sambil menahan tangan Olivia dengan tangannya yang pernah di gigit Olivia.
“Iya! Aku benci mafia dan aku sangat tidak suka berurusan dengan mafia” jawab Olivia dengan mata yang sudah berkaca-kaca, kenangan itukembali bermunculan di kepalanya dan kejadian hari ini mengingatkan dirinya yang kembai di lindungi oleh orang sekitarnya.
El tanpa bicara lagi langsung memeluk tubuh olivia, dia tau gadis itu seperti akan menangis, “Aku bukan mafia kak, aku hanya anak dari pengusaha terkenal” bisik EL lembut.
“Lepas El!” teriak Olivia tapi dia tidak mampu untuk mendorong tubuh el untuk menjauh.
“gak akan, kakak saat ini terlihat sangat rapuh, aku ingin menjadi sandaran kakak biarkan kita seperti ini sebentar kak” pinta El, dia berusaha mencium aroma tubuh Olivia mengingatnya dalam otak karena pelukan ini akan terlepas dan dia akan kesulitan untuk melakukannya lagi.
“Jangan sok tau! Aku membencimu el!” pekik Olivia, kini gadis itu terisak kecil.
El tertawa pelan, dia melepaskan pelukannya sambil mengelus puncak kepala Olivia. “kak, aku sepertinya akan terlambat, boleh nebeng?” kekeh El.
“Naik taxsi sana” usir olivia yang langsung berbalik menuju mobilnya.
El tidak putus semangat, dia tau Olivia punya tunangan tapi entah kenapa EL tidak ingin meninggalkan olivia seorang diri sekarang ini.
“janji aku akan turun di persimpangan jadi tidak akan ada yang tau kita saling kenal” ujar El sambil menunjukkan jari membentuk huruf v.
Olivia terdiam melihat El yang menghalanginya berjalan, tapi saat ini kepala gadis itu memang sangat sakit, malas membantah lagi olivia langsung melemparkan kunci mobil miliknya pada El, setelah itu dia berlalu menuju pintu penumpang. Mengenal el beberapa hari membuat olivia sadar El adalah anak yang keras kepala dan tidak bisa di bantah, mungkin kalau olivia mengenal kembarannya El, olivia tau sifat itu menurun dari orang tuanya, karena kedua saudara El juga sama keras kepala.
“oke deh” seru El Bahagia.
El memasuki mobil Olivia dan melihat kiri dan kanan untuk menelusuri mobil Olivia.
“apa yang kau cari?” tanya olivia.
“hmm aku penasaran bagaimana tampang tunangan kakak” ujar El.
“sangat tampan melebihi dirimu” jawab Olivia ketus, padahal sebenarnya Olivia mengakui pria disebelahnya itu sangat tampan dan mempesona apa lagi saat dia sedang menyetir.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju kampus keduaorang itu saling melirik tapi berpura-pura acuh saat sadar orang sebelahnya melihat juga.
El memberhentikan mobil Olivia di tempat yang sedikit kosong, “oke makasih kak” ujar El lalu berlari dari mobil olivia.
**
Para mahasiswa dan mahasiswi sudah berkumpul dikelas mereka masing-masing, ini adalah jam pertama yang akan mereka jalani, semuanya tidak tau bagaimana tampang dari dosen mereka hanya beberapa orang saja yang tau dan kebanyakan hanya menganggap para dosen adalah orang tua.
Karena jika menyangkut dosen, Hal pertama yang muncul di kepala mahasiswa saat mereka sadar kelasnya akan diajar oleh seorang profesor adalah seorang paruh baya, dengan postur jalan bungkuk, kaca mata tebal menggantung di hidungnya dan rambut yang mulai memutih karena uban. Jadi ketika Olivia melangkah ke dalam kelasnya, semua mahasiswa yang sudah duduk tertib di tempat masing-masing langsung menyimpulkan kalau ia adalah senior mereka yang belum lulus dari kelas ini.
Dari sudut matanya, Olivia memperhatikan bagaimana mahasiswanya saling menyikut satu sama lain saat mereka menyadari Olivia berjalan lurus ke arah meja dosen di depan kelas untuk mempersiapakan slide presentasi yang sudah diketiknya sejak minggu lalu. Ah, ini pun pemandangan yang sudah familiar baginya, tatapan para mahasiswa yang semi merendahkan seolah menantang Olivia untuk menunjukkan kebolehannya di depan kelas, seakan-akan mahasiswa ini merasa tersinggung karena diajarkan oleh seseorang yang usianya tidak terpaut jauh dengan mereka. Ini bukanlah kali pertama Olivia menjalani profesi sebagai dosen, maka ia pun sudah paham seluk-beluk untuk mengatasi masalah kesinisan dari mahasiswanya.
“Selamat pagi semuanya.” Olivia melangkah ke tengah muka kelas, “Aku akan memperkenalkan diri, namaku Olivia dan aku akan menjadi dosen kalian dalam satu semester ke depan.” Ucapnya, Olivia cenderung menggunakan Bahasa yang tidak terlalu formal jika mengajar di depan kelas, dengan tujuan agar ia dan mahasiswanya sama-sama merasa nyaman tanpa ada gap yang kentara.
“Apakah anda tidak berada di kelas yang salah? Kelas foundation ada di gedung sebelah.” Seorang siswa dengan figur gempal menjawab dengan berani.
Seorang mahasiswa yang terlihat paling culun di kelas mengagguk pelan kepada Olivia.
“Well, kurasa aku berada di kelas yang tepat.” Ia berjalan menuju mejanya untuk mengambil pointer dan memulai perkenalan di kuliahnya. “Karena kelas ini adalah kelas studio wajib dengan beban kredit 6 SKS, maka kita akan lebih sering bertemu dibandingkan dengan kelas-kelas minor lainnya, jadi kuharap kita dapat bekerja sama dengan baik.”
Mahasiswa di hadapannya mulai membetulkan posisi duduk mereka dan satu per satu mengeluarkan buku catatan untuk menulis apa yang akan Olivia katakan.
__ADS_1
“Karena beban tugas yang berat di kelas ini, maka aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat orang, kelompok ini akan berlaku sepanjang semester karena tugas yang kuberikan akan terus berkorelasi dengan tugas berikutnya.” Lanjutnya.
“Jumlah mahasiswa di kelas ini empat-puluh-dua orang bu” Si anak gempal mengingatkan Olivia, “Pasti ada yang tidak kebagian kelompok berempat.”
“Jika itu masalahnya, maka dua orang terakhir yang tidak mendapatkan kelompok akan bekerja berdua. Aku tidak bisa menambahkan jumlah mahasiswa di dalam masing-masing kelompok, karena aku pun pernah menjadi mahasiswa sebelumnya—empat kepala sudah terlalu banyak untuk saling adu ego dan ide.” Jelasnya tegas, “Jadi kalian mau membagi kelompok sendiri, atau lebih baik aku yang membagi kalian?”
Kelas itu memutuskan untuk membagi diri mereka kedalam kelompok-kelompok sendiri, agar mereka bisa bekerja dengan orang-orang yang mereka saling kenal dan nyaman. Sepuluh menit kemudian Olivia sudah mengumpulkan daftar nama-nama yang ada di kesembilan grup di kelasnya. Olivia memanggil nama mereka satu per satu untuk lebih mengenal wajah mahasiswanya sekaligus menandai presensi kehadiran.
“Baiklah, di kertas terakhir ini hanya ada satu nama—Ladhianto?” Ia menoleh untuk mencari mahasiswa mana yang belum mendapat seorang pun untuk berada di dalam kelompoknya. Mahasiswa berpenampilan culun yang tadi mengangkat tangannya, Olivia tersenyum kecil padanya untuk memberi sedikit semangat.
“Biar kuperiksa daftar presensi dulu, ladhianto.” Matanya kemudian mencari nama yang belum ditandainya, “Daniel? Apa ia hadir?” Tanyanya ketika menemukan satu-satu nama yang belum ditandai.
Olivia tau nama sia yang dia sebutkan tapi diaberpura-pura tidak tau, seingatnya tadi pria itu berlari menuju kelas, apa terjadi sesuatu di jalan hingga membuat dia tidak bisa masuk tepat waktu?
“Daniel!” panggil Olivia sekali lagi.
Semua orang mulai riuh karena mereka tau itu adalah nama pria yang berani melawan kakak kelas mereka kemarin. Dan sekarang sepertinya pria itu kembali mencari masalah kali ini dengan seorang dosen.
“Dani_”
“Hadir!” jawab El sambil membuka pintu dengan cepat, nafas pria itu terlihat tersengal karena berlari kencang.
__ADS_1
Olivia semakin berkerut melihat El, kenapa pria itu bisa terlambat, ‘apa ada orang yang ingin mencelakainya lagi?’ Pikir olivia
...🐻🐻🐻🐻🐻...