
Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan berlalu tanpa terasa hubungan EL dan Olivia sudah berjalan berbulan-bulan, mereka bagaikan pengantin baru yang selalu menempel kecuali saat berada di kampus, atas permintaan dari Olivia El membiarkan Olivia menjalani pekerjaannya tanpa dirinya, Olivia masih takut akan pandangan orang lain mengenai hubungan mereka padahal EL sudah berkali kali berkata tidak peduli pendapat orang lain, namun untuk ketenangan batin Olivia El merelakan permintaan itu. Hubungan kedua orang itu masih rahasia padahal EL sengaja tidak mengambil kelas yang di ajar Olivia lagi, karena olivia takut jika hubungan mereka ketahuan El akan di cap buruk karena nilainya selalu bagus.
“EL, beberapa minggu ini apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Olivia. Sekarang adalah libur semester dan EL terus bermalas malasan di apartemen milik Olivia, dibanding pulang menikmati waktu bersama keluarganya.
“Hmmm, masih belum tau, apa kakak mau ikut aku pulang? Aku ingin memperkenalkan kakak pada kedua orang tuaku dan semua keluargaku” ujar EL, mereka berdua memang sedang menonton Film romantis berdua di apartemen milik Olivia.
“Maaf EL” tolak Olivia lagi.
El diam beberapa saat, sudah berkali-kali Olivia menolak permintaannya, EL sebenarnya ragu tentang hubungan mereka, Olivia tidak memberikan harapan masa depan buat dirinya, terlalu banyak ketakutan dan yang lainnya apa lagi bayang-bayang michel sampai sekarang masih sering menghantui hubungan mereka.
“EL kamu marah?” tanya Olivia pelan.
El menggelengkan kepala, “hanya kecewa, kakak mau sampai kapan hubungan kita seperti ini? Selamanya seperti ini atau kakak hanya memanfaatkanku? Kakak tidak benar-benar mencintaiku, aku memang tidak sehebat mantan tunangan kakak, aku masih mahasiswa yang tidak jelas pekerjaannya apa, dan bisa dipermainkan kapanpun” EL tertawa pahit sambil menatap mata Olivia.
Melihat EL seperti itu, Olivia yang tadinya bersandar pada bahu El langsung menegakkan badannya dan menghadap El, wanita itu memegang kedua pipi EL, “EL, ini sudah kelima kalinya kamu membandingkan dirimu dengan dia, jangan pernah membandingkan dirimu EL, karena kamulah pemenangnya sekarang, kamu pemilik hatiku”.
El diam menatap mata Olivia mencari kebohongan dari pernyataan Olivia barusan, El mulai mendekati wajah Olivia, ia meletakkan satu tangannya pada tengkuk Olivia, sementara tangan satunya menarik wanita itu lebih dekat. Dengan gerakan lembut, EL memiringkan wajahnya sebelum ia menyapu permukaan bibir Olivia dengan bibirnya dengan hati-hati.
Awalnya Olivia terkejut, karena dia tidak menyangka EL akan memberikan ciuman secara mendadak, tapi ia juga tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya, karena tanpa sadar, ia pun menantikan hal ini.
__ADS_1
Ciuman pria itu penuh dengan gairah namun sangat hati-hati, cumbuannya lembut namun menuntut dan cara pria itu merangkul Olivia semakin dekat telah membuat Olivia lupa akan batasan yang harus dijaga diantara mereka. Olivia menutup matanya dan membiarkan EL memperdalam ciuman mereka. Anehnya Olivia lebih menikmati ciuman kali ini, padahal mereka dulu juga sering berciuman panas.
‘Deg Deg Deg’ Olivia membiarkan saja debar jantungnya, yang semakin menggila seiring bertambah panasnya ******* EL pada bibirnya.
Persetan dengan semua akal sehat yang ada, wanita itu kini hanya ingin mengikuti naluri dan hatinya yang tidak keberatan dengan perlakuan EL padanya. Perlahan Olivia meletakkan telapak tangannya pada pipi EL, ia memiringkan kepalanya sendiri untuk mempermudah akses mereka dan tanpa ragu, ia membuka bibirnya—mengizinkan EL untuk menjelajah rongga mulutnya lebih dalam lagi.
Setiap inchi tubuhnya sekarang tergelitik seiring dengan sensasi ribuan kupu-kupu yang sedang berterbangan di dalam perutnya. Ciuman mereka kali ini berbeda, Olivia tidak bisa mengingat kapan terakhir seseorang mendekapnya dengan penuh gairah seperti yang EL lakukan padanya sekarang dan ia pun harus mengakui bahwa ia benar-benar menikmati setiap sentuhan kecil yang EL lakukan pada dirinya saat ini; cara pria itu menekan lembut tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka, cara pria itu menyibakkan rambut Olivia yang menghalangi aktivitasnya, serta sensasi lembut bibir EL yang mengunci bibirnya, setruman ringan yang Olivia rasakan pada titik-titik dimana tangan EL menyentuh kulitnya—Olivia saat ini benar-benar terbuai dengan cara EL memperlakukannya. Jantungnya serasa siap melompat keluar dari rongga dadanya kapan saja dan ia yakin wajahnya sekarang ini pasti sudah sangat memerah. El seperti seorang ahlinya, dan kalau boleh jujur, ia tidak ingin berhenti.
Ia memberanikan diri untuk menurunkan lengannya yang masih berada di kedua pipi EL ke arah bahu lebar pria itu, dengan sopan dan lembut ia mendorong EL lemah, tidak ingin EL tersinggung dengan tindakannya tapi ia juga harus menghentikan kegiatan mereka sebelum semakin menjadi runyam.
EL perlahan menarik bibirnya dari tautan bibir Olivia, ia mengecup ringan bibir wanita itu beberapa kali lagi sebelum benar-benar mengangkat wajahnya. Hidung mancungnya digesekkan pelan pada hidung Olivia seiring ia membawa kecupan hangatnya pada dahi wanita itu. Pria ini pun paham kalau ia harus berhenti menuruti gairahnya sekarang—tidak peduli seberapa panas ciuman mereka barusan, EL sadar bahwa ia menggunakan cara yang salah jika ia memanfaatkan keadaan sekarang untuk mengambil jalan pintas agar langsung mendapatkan Olivia.
__ADS_1
Keduanya sibuk mengatur detak jantung masing-masing, napas mereka menderu dan jelas sulit sekali bagi Olivia maupun EL untuk menahan keinginan mereka untuk kembali menyatukan bibir mereka. EL menempelkan dahinya pada dahi Olivia, bibirnya yang lembab masih menelusuri kulit halus pada pipi wanita itu, sambil ia meninggalkan beberapa kecupan kecil di setiap permukaan kulitnya. Olivia sendiri hanya bisa menutup matanya, menikmati cara lembut pria ini dalam mengungkapkan perasaannya.
Belum pernah dalam hidupnya, Olivia mendapatkan ciuman dengan sensasi yang ia peroleh dari EL. Ada kesan menuntut dalam ciuman pria itu, ada kelembutan juga di dalamnya, dan entahlah, pria itu seperti mampu mengungkapkan isi hatinya melalui setiap sentuhannya di kulit Olivia.
“EL…” Bisik Olivia masih terengah.
“Marry me, Alexa Olivia Jonshon” bisik EL, terpancar sebuah ketulusan dari mata EL. Melihat itu Olivia tau EL kali ini sangat serius.
Olivia menggigit bibirnya sambil menarik wajahnya dari EL, ia masih bisa merasakan jejak yang ditinggalkan bibir pria itu di bibirnya dan ia ingin lebih—ia ingin lebih tapi ia tidak boleh menginginkannya.
El menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Olivia yang terdiam, ia tidak kuat jika harus melihat kegugupan serta ekspresi polos yang muncul dari wanita itu sekarang, apalagi wajahnya wang merona kini justru membuatnya ingin ******* kembali bibir wanita itu—dan EL benar-benar harus menahan dirinya sekarang.
“Maafkan aku, seharusnya aku tidak benar-benar tidak bisa sejauh itu. Aku hanya—ng…” Ia membanting punggung ke sandaran sofa di belakangnya sambil menutup wajahnya yang sama panas dengan wajah Hani dengan kedua tangannya. “Aku—aku, maafkan aku EL”.
Olivia meraih bantal sofa di belakangnya utuk dipeluk, sebagai penawar dari keinginannya untuk memeluk EL.
__ADS_1
...🙊🙊🙊🙊🙊...