Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
78. Pantai


__ADS_3

“Kakak, mengapa kau menangis?” EL segera mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di wajah Olivia.


 


“Bawa aku keluar dari sini, aku ingin keluar dari sini.”


 


Lelaki itu mengangguk patuh. Ia tidak paham duduk masalah yang baru saja terjadi di dalam ruang itu, dia akan melihat rekaman yang terjadi nanti, sekarang dia akan mengurus kekasihnya yang sedang hancur. Ia hanya bisa menyimpulkan bahwa Olivia baru saja kalah dari perdebatannya dan lelaki itu hanya ingin wanita ini berhenti menangis—dan ia bersyukur karena Olivia mengizinkan EL untuk mendampingi di saat-saat lemahnya.


.


Dua jam sudah berlalu sejak mereka meninggalkan Gedung pesta itu, kini Olivia dan EL berada di dalam mobil yang dibawa dengan kecepatan tinggi oleh EL. Keduanya duduk dalam diam sambil menikmati hempasan angin malam yang menyapu wajah mereka, EL mengambil inisiatif untuk menurunkan jendela mobilnya sehingga Olivia merasa lebih santai. Lelaki itu benar-benar dibuat kebingungan dengan sikap Olivia barusan di pesta tadi, ia tidak mengerti mengapa Olivia keluar dari ruangan itu dalam keadaan menangis dan marah—seharusnya wanita itu menyunggingkan senyum kemenangan karena telah berhasil menyudutkan professor Sebastian. Tapi EL memilih untuk bungkam terlebih dahulu sembari memberi waktu untuk wanita di sampingnya untuk menenangkan diri.


Olivia meminta EL untuk mengajaknya pergi jauh dari pesta itu, ia minta dibawa ke tempat yang tenang dan jauh dari pusat kota. Permintaan dadakan semacam ini tentu membuat lelaki itu serba salah—jika ia memilih tempat yang terlalu jauh, Olivia akan mengira EL memanfaatkan kesempatan; tapi tempat yang terlalu dekat juga tidak menjawab kebutuhan Olivia—namun akhirnya EL memutuskan memilih pantai sebagai tempat alternatif untuk menyendiri dan berteriak kencang.


EL memakirkan mobilnya di pinggir jalan. Melihat keadaan dosennya yang masih termenung, lelaki itu berinisiatif untuk membukakan pintu untuknya, tapi wanita itu justru langsung keluar dengan meninggalkan sepatunya di dalam mobil sambil membawa sebotol champagne yang tadi sempat EL beli dari restoran di pesta—atas permintaan Olivia. Sejujurnya apa yang akan dilakukan wanita itu di tempat ini dengan sebotol minuman keras yang belum dibuka masih menjadi misteri bagi EL, tapi ia memutuskan untuk menjadi bodyguard Olivia saja sampai malam berakhir—dan ia akan membiarkan Olivia melakukan apapun yang ia inginkan


Olivia melangkah mantap ke arah laut, ia membiarkan kaki jenjangnya merasakan tekstur halus pasir kecoklatan di bawahnya, bau asin segera menyambut indera penciumannya dan meskipun angin yang berhembus terasa dingin dan kencang saat malam tiba, wanita itu memilih untuk tidak mempedulikannya. Ia terus melangkah ke tempat di mana air dan pasir bertemu, memainkan ujung jemari kakinya sebentar sambil membiarkan deburan ombak menyapu mata kakinya.


 


Ia melangkah mundur hanya untuk memberi jarak antara dirinya dengan air laut yang akan segera pasang, dan tanpa berpikir lagi Olivia segera menyobek pembungkus alumunium dari botol minuman di tangannya. Olivia mencari spot yang cukup kering di dekatnya sebelum ia memutuskan untuk duduk di atas hamparan pasir. EL masih tetap mendampinginya dari dekat, tanpa menginvasi ruang pribadi Olivia, tanpa berusaha menciptakan pembicaraan atau pertanyaan. Dosennya sedang butuh melampiasakan emosinya dan lelaki itu cukup paham langkah-langkah yang harus dilakukannya.


Sikap cool yang ingin diberikan EL mulai pudar ketika wanita itu memutar ikatan kawat di sekeliling mulut botol champangenya, menarik kasar gabus kecoklatan dengan tergesa-gesa dan tanpa basa-basi langsung meminum isi minuman berbuih itu langsung dari botolnya. Mungkin kalau Olivia hanya menyisip minumannya EL tidak akan terlalu khawatir, tapi wanita itu minum seperti orang yang baru selesai ikut lomba lari.


 


“Kakak, kumohon berhentilah bersikap konyol. Apa kau mau membicarakan tentang apa yang terjadi? Melihatmu menjadi kacau seperti ini justru membuatku frustrasi.” EL berjongkok di sampingnya sambil menarik botol di tangan Olivia.

__ADS_1


 


“Aish! Biarkan aku meminum ini.” Ia menyikut EL dengan kasar.


 


Wanita itu kembali menegak champagne banyak-banyak, dalam hati berharap efek memabukkan yang ditimbulkan akan datang secepatnya. Agar ia bisa menyembunyikan rasa perih di dalam hatinya melalui minuman di tangannya.


 


EL menghela napas panjang, ia berdiri untuk melepas Jas yang dia kenakan, menyelimuti tubuh Olivia dengan Jas nya sambil mempertimbangkan untuk duduk di samping dosennya.


 


“Beri tahu aku, El” Olivia menepuk bahu el dan menunjuk spot kosong di sampingnya agar EL duduk di situ, “Apa rencana masa depanmu?”


 


 


“Aku perlu tahu kalau kau punya mimpi untuk dirimu sendiri.”


 


“Tentu saja aku punya. Aku ingin membuat konsultanku sendiri tanpa bantuan daddy dan jika aku boleh sedikit ambisius, aku ingin mengembangkan wilayah yang masih kurang berkembang” EL menjawab dengan sigap meskipun ia bingung dengan topik dadakan yang dipilih Olivia.


Olivia tersenyum kecil sambil menyodorkan botol champagne untuk EL—yang langsung ditolaknya—kemudian wanita itu menegak cairan berbuih itu lagi.


 

__ADS_1


“Kakak, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sekarang kau berusaha keras untuk mabuk, hmm? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?” Tanya EL dengan lembut.


 


Olivia menyedot sisa-sisa ingusnya dan tertawa sinis, “Buruk? Tidak, buruk bahkan tidak cukup untuk mendeskripsikannya.” Ia memutar posisi duduknya untuk menghadap EL di sisi kanannya, menyilakan kedua kakinya agar ia bisa memandang El dengan nyaman. “Kau tau el, aku memang seorang yang sangat introvert, aku sangat sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain, tapi, aku mudah percaya pada orang lain, aku selalu percaya pada orang lain, aku punya keyakinan bahwa setiap orang yang kutemui tidak memiliki niat jahat—sampai mereka membuktikan bahwa aku ini terlalu naïf. Biasanya ketika aku menyadari bahwa aku telah dibodohi, aku akan menjadi orang yang tersakiti dan itu menjadi titik kejatuhanku.”


 


Wanita itu tidak pernah berceloteh panjang tentang dirinya sendiri sebelumnya, jadi EL menikmati momen saat Olivia masih cukup sadar untuk membicarakan hal-hal yang masuk akal. Lelaki itu sangat penasaran dengan apapun tentang Olivia, ia ingin mengetahui masa lalunya, kesulitannya, kesedihannya, dan ia ingin menjadi tempat wanita itu bisa bersandar.


 


“Tapi aku tidak menyangka pikiran naifku justru akan menjadi titik lemahku,” Olivia melanjutkan omongannya. “Pria busuk itu adalah satu-satunya orang yang tidak memandangku sinis di hari pertamaku masuk kerja, dan aku langsung mempercayainya begitu saja sebagai panutanku. Ini menyakitkan bagiku karena orang yang menikamku adalah orang yang tidak pernah kuduga akan melakukan hal itu.”


“Kakak, kukira kau berniat membawa kasus ini ke pengadilan. Hey, aku bisa membantumu, aku akan mencarika__”


 


“Sudahlah” Ia megibaskan tangannya di depan wajah pria itu. “Aku sudah memutuskan untuk merelakan masalah ini.”


 


“Tapi—”


 


“Dan setelah semester ini berakhir, aku akan resign!” Ia mengangkat kedua bahunya kemudian meneguk kembali minuman di tangannya.


...🐅🐅🐅🐅🐅...

__ADS_1


__ADS_2