
El dan olivia sama-sama membuka pintu apartemen mereka, kedua mata El dan Olivia saling bertatapan, Olivia yang pertama kali memutuskan pandangannya dari El, gadis itu berjalan menjauhi el menuju Lift.
“kak!” EL menahan tangan Olivia secara tiba-tiba, dan membuat gadis itu sedikit terkejut.
“A-Apa lagi EL! Bukankah aku sudah tidak perlu bertanggung jawab lagi dengan tanganmu” teriak Olivia kesal.
“kakak pucat, sebaiknya tidak usah mengajar di kampus hari ini” ucap El lembut.
Olivia dengan kuat menepis tangan El, “aku pucat aku sakit sekalipun itu tidak ada urusannya denganmu” bentak Olivia dan berlalu memasuki Lift.
“Kak sebaiknya panggil tunangan kakak, jangan membawa mobil sendirian” ujar El lagi, dia masih khawatir dengan wanita yang dia sukai itu.
Sekali lagi olivia menepis tangan EL, “aku sudah bilangkan, jika tanganmu sembuh, bersikap seperti orang asing saja” ujar Olivia.
EL menghela nafas panjang, “baiklah terserah kakak” ujar EL pasrah, dia akhirnya diam dan ikut memasuki lift, sesekali mata pria itu terarah melihat Olivia, takut-takut Olivia akan tumbang tiba- tiba.
‘Ting’ pintu lift sudah terbuka kedua orang itu keluar dari lift seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenal.
El berjalan melewati Olivia, karena dia tidak memiliki kendaraan disana, dia memang sengaja tidak membeli mobil atau meminta fasilitas seperti itu, dia masih mau merahasiakan jati dirinya dari orang-orang.
Olivia memandang nanar punggung El yang berlalu menjauhinya, mata gadis itu sedikit melotot saat melihat ada orang yang berlari kearah el dengan membawa potongan kayu.
“EL! Awas!” pekik Olivia.
Untung saja El sigap, begitu mendengar teriakan olivia dia langsung menghindari pukulan yang di arahkan padanya, dalam sekali tendang pria itu tersungkur dan bebarapa yang lainnya mulai muncul ternyata tidak hanya satu.
El berlari kearah olivia karena tidak mau gadis itu menjadi tawanan karena tadi Olivia memanggil namanya, bisa bahaya jika mereka menjadikan Olivia sandera.
“Tetap di belakangku” ucap El serius. “Dari mana kalian!” pekik El pada para pria bertopeng di depannya.
“Tidak perlu tau, kami hanya diperintah untuk menyakitimu” ucap salah satu pria berbadan besar.
“Kalian pikir bisa menyakitiku?” ucap El merekeh kan.
“Tentu saja, kami berdelapan sementara kau seorang diri” teriak pria itu dengan percaya diri.
__ADS_1
EL tersenyum sinis, “kau pikir aku mudah dikalahkan ayo maju semuanya” tantang el.
“Tuan muda! Biar kami bantu” teriak salah satu satpam pada EL.
Kening El sedikit mengernyit melihat satpam itu, dia tau dia di lindungi oleh anak buah Brian tapi apakah benar itu adalah bawahan brian atau bukan El sama sekali tidak tau.
“kalian semua diam saja, biar aku yang menghadapi sendiri” ujar El.
Dan dalam waktu singkat El menghabisi mereka semua. El menumpuk badan pria-pria yang sudah dia habisi dan duduk di atas tubuh mereka, tidak lupa tangan pria itu menarik Olivia untuk duduk di pangkuannya.
“EL! Apa-apaan ini!” pekik Olivia saat dirinya terduduk di pangkuan El.
“Diam saja kak, aku sedang tidak punya tenaga untuk melindungimu, jadi seperti ini kau bisa aku lindungi” ucap EL dingin, sebelah tangan pria itu dengan cepat mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Sementara Olivia masih diam setelah mendapat ucapan dingin dari El, pertama kali pria itu terlihat sangat serius dan mempesona.
“Telepon atasan kalian, aku ingin memastikan jika kalian memang pengawalku” ucap El pada para bawahan itu sambil melemparkan ponsel yang tadi dia keluarkan.
“ba-baik tuan muda” ucap satpam itu terbata.
“kenapa Kau menelpon menggunakan telepon tuan muda El?” tanya orang yang ditelepon.
El memberi kode meminta ponselnya kembali. Dan dengan cepat ponsel langsung berpindah ke tangan El.
“Halo brian?” sapa El.
Olivia yang mendengar nama brian langsung mengepalkan tangannya marah, gadis itu semakin kaku duduk di pangkuan El.
“Saya bobby asisten tuan brian, ada apa tuan muda EL menelpon saya?” tanya bobby.
“Hanya mengkonfirmasi bahwa memang benar orang-orang ini kalian yang mengutusnya” ucap EL.
“Iya tuan muda, mereka kami yang sudah mengutus untuk melindungi tuan muda, apa yang terjadi? Apa mereka ketahuan? Tidak biasanya mereka ketahuan” ujar Bobby panik.
“Aku diserang, dan mereka berniat menolongku” jawab EL santai.
__ADS_1
“Apa?! Apa anda tidak apa-apa tuan muda? Apa saya perlu mengirim bantuan ke sana?” ucap Bobby khawatir.
“Tidak, tidak perlu lakukan apapun, kan sudah aku bilang, aku cuma mau mengkonfirmasi saja, seperti nya niat mereka hanya untuk mengalihkan perhatian padaku saja agar mereka menjalankan rencana utama” ujar EL, “kak, bisa bantu aku pegang ponsel sebentar?” tanya El pada Olivia.
Dengan spontan Olivia memegangi ponsel EL dia sengaja menloadspeaker ponsel itu. Sementara el yang sebelah tangannya sudah bebas segera mencari ponsel si pemimpin yang berniat mencelakainya.
“Apa maksudnya tuan muda?” suara Bobby terdengar, Olivia berusaha menahan tangannya agar tidak meremas ponsel EL.
“Tujuan utamanya adikku, bilang pada brian jika Ay dalam bahaya” ujar el saat dia membuka ponsel pimpinan penjahat itu.
“Baik tuan muda, apa tuan muda terluka?”
El melirik tangannya yang digigit olivia, tadi sudah mau sembuh karena berkelahi dan memukul orang tangan itu kembali bengkak. “Aku tidak apa, jaga saja adikku, aku tidak akan merestui Brian bersama Ay jika ay dalam bahaya” ucap El dingin.
“Baik tuan muda akan segera saya sampaikan, bagaimana dengan nasib penjaga bayangan itu tuan muda?” tanya Bobby.
“Biarkan saja, dia hanya menjaga di luar, jadi tidak masalah” ujar El.
Setelah itu panggilan mati.
Olivia memberikan kembai ponsel tu pada El tanpa berbicara dan gadis itu cepat-cepat berdiri menjauh dari El. “sudah tidak ada bahaya kan?” ucap Olivia ketus.
El hanya mengangguk menjawab olivia, kepala pria itu melihat beberapa satpam yang masih tertunduk, “urus mereka semua, cari tau siapa dalangnya dan jangan beri ampun” ucap El dingin.
“Mafia memang menyebalkan!” tanpa sadar olivia menggumamkan pikirannya keluar.
“aku bukan mafia kak” ucap el.
Olivia mendengus, “dasar pembohong, bagaimana kau bisa sehebat itu dalam bertarung dan kau terlihat seperti sudah biasa memerintah orang, apa lagi kalau bukan mafia” sindir olivia.
“Aku benar-benar bukan seorang mafia, aku hanya anak seorang pengusaha terkenal, dan harus bisa melindungi diriku sendiri, wajar jika aku bisa bela diri, itu semua agar aku bisa aman, bahkan adik cewekku juga diajarkan ilmu bela diri agar dia bisa melindungi dirinya sendiri, dan soal memerintah, sebagai penerus dari orang tuaku, aku sudah sewajarnya mampu memerintah banyak kepala dibawahku, suatu saat aku akan menjadi atasan mereka” jelas El.
Olivia tidak membalas ucapan El lagi, dia sengaja memalingkan muka dari El.
“Apa itu alasannya kakak langsung menjauhiku? Karena aku terlihat seperti mafia?” Selidik El.
__ADS_1
...🐻🐻🐻🐻🐻...