
“Tapi mengantar 2 orang sekaligus bukannya menyusahkan? Lagian bu Alexa membawa mobilnya sendiri” Lana berusaha mencari cara agar hanya dia yang diantar oleh EL.
“aku tidak membawa mobil, aku kesini naik bus kota, kau mau ku antar naik bus?” ucap El ketus.
“Udah lana ikut ibu aja, biar diantarin sekalian” Olivia berusaha mengengahi pembicaraan keduanya, El yang memang tidak tertarik untuk berbicara dengan lana langsung berjalan cepat menuju pintu mobil Olivia.
“biar aku yang nyetir” El merebut kunci mobil yang baru dikeluarkan olivia dari dalam tasnya.
“bu, boleh gak aku duduk di kursi samping EL? Aku bisa pusing kalau duduk dibelakang” sebelum mengikuti El memasuki mobil, Lana menahan tangan Olivia dan membisikkan sesuatu pada dosen cantik itu.
Olivia diam, dia hendak menolak tapi dia adalah dosen, dia juga takut menyinggung perasaan orang lain, lagi-lagi olivia tidak padai dalam bersosialisasi makanya dia takut mengambil keputusan ini.
“Kak cepat!” teriak EL yang sudah masuk dan duduk di kursi supir.
“Iya EL” Lana berteriak kencang sambil berlari memasuki kursi penumpang, dia menganggap diamnya Olivia adalah jawaban persetujuan.
“Ngapain lo duduk disini! Ini mobil kak Alexa, dia yang berhak duduk di situ!” sindir EL.
“Udah gak apa EL, lana katanya bisa pusing kalau duduk di belakang” Olivia yang baru masuk dan duduk di kursi belakang berusaha mengontrol kemarahan EL.
‘Brak’ El keluar secara mendadak dari dalam mobil, setelah itu dia membuka kursi penumpang dan menarik Olivia dari sana.
“Tiba-tiba gue males nyetir kakak aja yang nyetir” ucap el acuh, dia memilih duduk di kursi belakang sambil memejamkan matanya.
“ya sudah kalau gitu, Lana rumah kamu dimana?” Olivia hanya bisa mengalah, dia tau El sedang marah saat ini.
.
Sepanjang perjalanan hanyaada keheningan karena EL terlihat sangat marah. Semua keheningan itu berakhir saat Lana sampai di depan pagar rumahnya, Lana masih mencoba peruntungannya dengan meminta EL mengantarnya hingga ke depan pintu pagarnya—yang ditolak mentah-mentah oleh lelaki itu. EL menggunakan Olivia sebagai alasannya harus segera pergi dari jalanan rumah Lana.
“Barusan tadi itu… intens!” Olivia membuka mulutnya Ketika EL mulai menjalankan mobilnya, kali ini EL yang menyetir dan Olivia pindah ke kursi sebelah EL.
__ADS_1
“Kakak, sepertinya kau sangat puas menikmati saat kakak meledekku habis-habisan tadi.” Ia menolehkan kepalanya ke arah Olivia untuk menatapnya tajam.
Olivia tertawa pelan, “Dia menyukaimu, EL. Aku bisa melihatnya, awalnya aku pikir dia hanya berusaha mendekatkan diri karena kau adalah rekannya, tapi setelah memperhatikannya lebih dalam aku tau tatapan mata Lana sedang tertarik padamu”.
“lalu?”
Olivia menolehkan kepalanya melihat kea rah EL, “dia sangat muda, cantik dan manis, kau tidak tertarik padanya?”
El menepikan mobilnya di pinggir jalan, dan menatap mata Olivia dengan intens, “kalau akum au, sudah lama aku mendapatkan Wanita seperti tadi, tidak susah buatku mendapatkan Wanita manapun, tapi hatiku tidak menginginkannya, yang aku inginkan hanya kakak memandangku dengan pandangan cinta, jangan menyodorkan ke kasihmu pada wanita lain, kali ini akan aku maafkan tapi tidak lain kali”.
El mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Olivia mencium gadis itu sedikit panas dari biasanya, “hukuman buat kakak, kita lanjutkan hukumannya di apartemen” setelah berkata begitu EL Kembali menyalakan mobilnya.
“Tadi katanya di maafkan, sekarang pakai hukuman” gerutu Olivia pelan, wajah gadis itu sudah memerah padam, dia tidak pernah menyangka bocah 18 tahun itu bisa bersikap se dewasa itu.
...🐻🐻🐻🐻🐻...
Beberapa hari setelah Al, EL dan aurora kembali ke negara mereka, Ay akhirnya kembali juga, semua mata kini menatap Ay yang baru saja pulang dari liburannya.
“Abang!”suara panggilan Ay menggema dan menjadi perhatian satu kantin karena suara gadis itu cukup besar.
Al sedikit mengernyitkan kening melihat kekasihnya menggelengkan kepala, “Ay gak mau makan” adu kekasihnya.
“Ihh Ay gak lapar au! Kalian aja yang makan” protes Ay.
“Dek mau makan bubur ayam gak? Enak loh kemarin abang coba sama aurora, rasanya sangat enak” Al berusaha membujuk adik kembarnya itu untuk makan.
.
Setelah rayuan yang cukup lama akhirnya Al berhasil membujuk Ay untuk mencoba pilihannya, dan sekarang di sinilah al sedang menunggu pesanan siap.
“Hai al” sapa salah satu gadis sambil menyentuk lengan Al dengan lembut.
__ADS_1
Tanpa sadar Al langsung menepis tangan itu dan tersenyum sini pada gadis yang berusaha mendekatinya.
“Bude bisa cepat gak? Banyak nyamuk di sini, saya jadi gerah” teriak Al pada ibu kantin yang sedang menyiapkan pesanannya.
Para gadis-gadis yang ada di sana, tidak peduli sedikitpun,mereka seolah menulikan telinganya saat Al dengan terang-terangan menghina dan menyindir mereka.
“Al aku gak nyangka ternyata kamu kuliah di sini juga, aku pikir kamu akan keluar negri” ucap salah satu Wanita yang berusaha mencari perhatian al.
“. . .” sekarang Al yang menulikan telinganya, dia tidak mau menjawab, dia akan mengikuti teori saudara kembarnya EL yang irit bicara, biasanya itu berhasil karena orang-orang akan bosan saat di cuekin.
“Al kok sombong banget sih, masih marah ya sama aku” ucap Wanita itu lagi.
“Bude bisa cepat gak?” kembali Al berteriak untuk bertanya pada petugas kantin.
“iya-iya ini udah siap” petugas kantin itu keluar dengan nampan berisi makanan dan minuman untuk AL.
“ini bude uang nya, kembaliannya untuk bude aja, atau untuk anak-anak yang gak ada uang buat makan” al mengeluarkan uang lembar 200 ribu dari kantongnya.
“AL! AL!” teriak para Wanita yang sejak tadi bergantian bertanya pada Al.
.
“hmm boleh gue gabung gak?” Saat sedang menyantap makanan, kembali seorang Wanita memberanikan diri untuk mendekat kea rah AL.
Ay menatap wanita itu dengan wajah penuh permusuhan, “abang gue gak bakal kembali balian sama lo!” umpat Ay.
“Jangan marah-marah gitu Ay, aku Cuma nyapa teman lama aja kok gak boleh?” ucap wanita itu lagi.
Al menatap wanita itudengan wajah datar, otaknya tiba-tiba berputar dengan pembicaraan mommy ara.
“Aduuhhh mommy ingat nama gadis itu mirip nama pengharum ruangan itu loh, tapi mommy lupa siapa, ahh pacar abang yang paling lama” ucapan mommy ara kembali terngiang di kepala Al.
__ADS_1
Senyum al sedikit mengembang, tapi bukan menampilkan senyum Bahagia tapi senyum meremehkan, sekarang dia tau alasan sebenarnya Stella memutuskan dirinya begitu saja, wanita itu lebih memilih uang, awalnya Al mengira gadis itu menyukai orang lain karena menganggap orang itu lebih kaya darinya tapi ternyata Stella tidak bisa menghadapi ujian dari mommy Ara.
...🐼🐼🐼🐼🐼...