
EL meringis kecil saat nyeri terasa di lengan bagian atas kirinya ketika digerakkan, memang luka yang diperolehnya lumayan besar, tapi ia masih bisa cukup mentolerir rasa nyerinya, perlahan EL turun dari atas ranjang agar Olivia tidak terbangun. El memang sengaja tidak pulang ke apartemennya karena tidak mau meninggalkan Olivia sedikitpun, sekarang wanita itu sedang dalam kondisi syok dan trauma, padahal EL sudah susah payah mengobati wanita itu, tapi gara-gara ibu Michel Olivia kembali bermimpi buruk tadi malam, beberapa kali wanita itu terbangun dari tidurnya, untung ada El yang siap menjaga.
Mereka tidak banyak bicara semalam, topik tentang kejadian yang baru menimpa Olivia sepertinya menjadi tabu untuk dibicarakan, dan keduanya hanya duduk sambil sesekali mengomentari tentang acara pertandingan bola yang ada di televisi.
EL melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat pajangan kulkas Olivia, dimana ada foto dirinya dan EL sedang memegang piala kejuaraan.
“EL? Kamu sudah bangun? Bagaimana dengan tanganmu?” Suara olivia telah mengagetkan EL. Wanita itu mendekat pada El untuk memastikan luka pada tangan EL, ini sudah kedua kalinya EL terluka pada tangan, pertama karena gigitan Olivia dan kedua karena melindungi dirinya. “Aku sudah menelepon kampus dan bilang kalau hari ini aku ambil cuti. Ayo kita ke dokter, aku hanya memberikan pertolongan pertama kemarin, biarkan seorang professional memeriksanya agar tidak infeksi” sambung Olivia.
“Aku baik-baik saja, kak. Kau merawat lukaku dengan sangat baik semalam.” ujar EL tersenyum hangat. “Ini gambar siapa kak?” tanya EL pada gambar kekanakan yang dia temukan saat melihat-lihat kulkas Olivia. “Apa ini gambar kakak saat masih kecil?”
Olivia menggelengkan kepalanya, “bukan itu gambar ayahku”.
El sedikit mengernyitkan kepalanya bingung mendengar penuturan Olivia, pasalnya itu adalah gambar krayon dengan dua orang di depan sebuah rumah, dan gambarnya seperti anak kecil.
“Yang kau lihat barusan itu bukan gambarku. Justru aku tidak pernah menyimpan gambar-gambarku semasa kecil” ulang Olivia.
“pernyataanmu membuatku bingung, Kak”
“Kau benar-benar ingin tahu rupanya?” Olivia menarik napas dalam sambil mempertimbangkan opsinya.
Pria itu mengangguk semangat. “Semakin aku sering menghabiskan waktu denganmu, semakin aku sadar bahwa banyak sekali hal dari dirimu yang tidak ku ketahui—dan bisa dikatakan aku penasaran setengah mati.”
Olivia tersenyum tipis, “Baiklah aku sedang bermurah hati pagi ini.” Wanita itu mengangkat kedua bahunya sekilas sebelum ia beranjak dari posisinya, menuju credenza di ruang tengahnya untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari itu. EL mengikuti Olivia dari dekat, dan ia segera meraih pigura foto yang diberikan Olivia padanya.
“Ia adalah ayah pertamaku, namanya Budi.” Senyum bangga muncul di wajah wanita itu. “Beliau adalah pahlawanku dan juga cinta pertamaku, tidak peduli seperti apa tampilannya.”
EL mengalihkan pandangannya dari wajah Olivia ke pigura di tangannya untuk mempelajari foto itu dengan sungguh-sungguh, seorang pria muda berusia tiga puluh tahunan dengan seorang gadis kecil yang tersenyum bahagia di pangkuannya. Di foto itu nampak Olivia sebagai gadis kecil menggemaskan dengan rambut di kuncir dua sedang menggunakan sundress bermotif buah-buahan, dan ayahnya memang terlihat berbeda. EL bisa menyimpulkan hal itu hanya dengan sekali pandang.
__ADS_1
“Kak, kau menggemaskan sekali ketika kecil.” Pria itu tidak kuasa menahan senyumnya. “Kau sudah terlihat seperti miss sok tahu sejak kecil rupanya.”
Olivia memutar matanya sambil mendengus, “hah, pasti kalau waktu itu kita sekolah di tempat yang sama, aku juga akan menjadi korban bully-mu.”
“Apa aku terlihat seperti seorang anak yang suka mem-bully kawan-kawanku?” Tantang EL.
Olivia mengangguk mantap.
“Apa kau benar-benar menghadapai bullying dengan tingkat separah itu?” Tanyanya penasaran.
Pria itu menghela napas panjang, memang ada kejanggalan dalam foto yang dipegangnya. Meskipun Olivia terlihat seperti gadis manis yang cerdas, pria yang memangkunya tidak terlihat sama. Senyuman pria itu janggal, tatapan matanya seperti kosong dan ekspresi yang menyertainya sangat polos—layaknya seorang anak kecil yang sedang diminta berfoto bersama.
Olivia tersenyum pahit melihat reaksi EL yang sekarang diam, pastilah pria itu tidak berani menanyakan hal-hal yang menurutnya akan menyinggung Olivia. Tapi kerutan di dahinya, serta pertanyaan yang terlihat jelas di sorot matanya cukup sebagai indikasi rasa penasarannya.
“Kuharap kau tidak memandang ayahku seperti kawan-kawanku dulu memandangnya.” Sambung Olivia.
“Maksudmu?”
“Kau pasti bisa melihat ada kejanggalan di foto itu bukan?”
__ADS_1
EL mengangguk ragu, “tapi apa kau di-bully karena ini?”
“Ibuku pergi setelah ia melahirkanku dan pria ini membesarkanku sendirian, bahkan dengan seluruh keterbatasan yang ia miliki, sebenarnya aku bukan putri kandungnya, tapi dia membesarkanku seperti putrinya sendiri” Mata Olivia mulai terasa panas saat membicarakan ayahnya, “Ayahku menderita developmental disability, jadi ia terlihat seperti seorang pria dewasa namun kapasitas mental dan pikirannya terjebak dalam perkembangan anak usia sembilan tahun” Jelasnya.
EL membeku di tempatnya, bingung harus berkata apa pada Olivia. Ia memang sering menerka latar belakang Olivia, tapi ia tidak pernah menduga bahwa wanita ini dibesarkan oleh seseorang yang memiliki kecacatan mental—karena wanita itu tumbuh menjadi seseorang yang sangat mengagumkan.
“Ayahku adalah sahabatku sejak aku kecil dan aku tidak pernah mempermasalahkan kekurangannya. Jelas kawan-kawan sekelasku dulu sering meledek dan menghinaku, karena ayahku selalu terlihat lucu dan berbeda dari orang tua lain saat ia menjemputku di gerbang sekolah. Dulu ia selalu melompat kegirangan setiap kali aku muncul, sementara orang tua anak-anak lain tetap terlihat cool—tentu saja ini menarik perhatian banyak orang.” Olivia perlahan mulai melingkarkan kedua lengannya untuk memeluk dirinya sendiri. “Tapi beliau sadar akan ketidaknyamanan ku, sehingga suatu hari ia menghabiskan uang makan siangnya untuk membelikan ku buku—buku Tiga Babi Kecil, itu adalah buku pertama yang kumiliki—dan juga buku favorit ayahku—ia mencoba mencari jalan keluar agar aku tidak merasa tertekan dengan ledekan kawan-kawanku.”
El merasa ia harus segera mengalihkan topik pembicaraan, bukan karena ia tidak peduli dengan kisah masa lalu Olivia, tapi karena wanita di hadapannya kini terlihat sedih. Tapi ia pun paham bahwa tidak mudah bagi Olivia untuk berbagi, jadi ia memutuskan untuk diam dan tetap mendengar.
“Bagiku, ayah adalah orang yang mencoba melewati batasan dirinya untuk bisa menyeimbangi perkembanganku. Meskipun beliau memiliki keterbatasan, tapi ialah orang yang mengajariku untuk membaca—apa jadinya diriku sekarang kalau aku tidak pernah diajari membaca olehnya.” Olivia menelan gumpalan dalam kerongkongannya, mencoba menahan tangis haru yang sudah ditahannya.
“Ayahmu terdengar hebat sekali Kak, beliau membesarkan mu seorang diri dan sukses membuatmu menjadi wanita yang sangat hebat.” El mengusap bahu Olivia pelan.
Olivia menggelengkan kepalanya pelan, “Dia belum sempat merasakan kesuksesan diriku, karena meninggal pada sebuah kecelakaan, setelah itu aku dirawat oleh orang tua angkatku, mereka adalah orang yang pernah ayahku tolong dan mereka tidak mempunyai anak, karena itu begitu tau ayah meninggal mereka langsung membawaku ke amerika untuk tinggal bersama mereka, dan di sana aku mulai bisa mandiri” ujar olivia pelan.
Hati EL terasa nyeri membayangkan perpisahan yang harus dihadapi Olivia saat usianya masih sangat kecil. Pantas saja sikap wanita ini sangat dewasa, jika EL harus menghadapi kesulitan yang sama seperti Olivia pasti ia pun perlahan akan tertempa menjadi seseorang yang lebih tangguh dibandingkan orang kebanyakan.
Olivia mulai terisak mengingat kenangannya bersama ayahnya, dan itu membuat EL menyesal telah bertanya, pria itu langsung mendekap tubuh Olivia, “Menangislah, aku akan ada disini untukmu kak”
...🐱🐱🐱🐱🐱...
bonus pict
__ADS_1