Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
82. Panik


__ADS_3

Olivia dan EL masih berdansa Bersama, EL tau saat ini bukan dia yang ada dipikiran Olivia, mungkin tunangannya, tapi EL membiarkan saja Olivia melakukan itu, dia ingin Olivia mengucapkan salam perpisahan pada pria itu dengan benar.


Seperti yang dipikirkan oleh EL, Olivia saat ini sedang terkenang akan Michel dalam setiap langkah yang ia ambil bersama dengan pria yang saat ini mendekapnya erat. Michel dulu selalu berkata bahwa ia akan selamanya berada di sisi Olivia, kalau pun ia harus meninggalkannya maka pria itu akan melakukan salam perpisahan dengan cara paling romantis—dan sadis—yang pernah ada. Pria itu menjanjikan sekuntum mawar terakhir yang disertai dansa dan ciuman perpisahan. Michel tidak pernah melakukan ketiganya, karena takdir memutuskan untuk mengambil nyawanya hanya dalam hitungan detik.


 


Bagi Olivia, dansa ini adalah usahanya untuk menerima fakta bahwa Michel benar-benar telah pergi dari hidupnya—untuk selamanya. Seberapa besar usahanya untuk menjaga memori mereka untuk tetap hidup di hatinya, realita selalu mengalahkannya—dan hari ini Olivia benar-benar sudah di ambang lelahnya ketika satu-satunya persembahan yang tersisa untuk tunangannya dirampas dengan paksa dari tangannya.


 


Ia tahu bahwa metode yang digunakannya untuk menyampaikan kata perpisahannya pada Michel saat ini salah. Olivia telah memanfaatkan mahasiswanya yang tidak tahu apa-apa untuk mengambil alih posisi Michel, memaksa pria yang kini sedang berdansa dengannya untuk ikut serta menanggung kesedihannya. Tapi Olivia sudah cukup tipsy untuk bisa menganggap bahwa pria yang sekarang sedang mendekapnya bukanlah EL, melaikan Michel.


 


“Olivia-ya, jawablah teka-teki dariku,” EL menelusuri wajah Olivia dengan ibu jari kanannya untuk menghapus air mata di pipinya. “Mengapa aku merasa sesak dan kesakitan di sini,” ia menunjuk pada dadanya, “ketika aku melihatmu menangis sedih seperti ini?”


 


Olivia menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Perlahan, wanita itu mengangkat telapak kakinya untuk diletakkan di atas kedua telapak kaki EL, kedua lengannya dilingkarkan diseputar leher pria itu untuk membantu menahan tubuhnya yang kini berjinjit di atas kaki EL.


 


“Maaf kan aku” Bisiknya lirih sebelum ia menyapukan bibirnya tepat pada bibir EL. Ini adalah perpisahan terakhir untuk tunangan yang benar-benar dia cintai.


“Selamat tinggal Michel” batin Olivia, gadis itu memejamkan matanya menikmati ciuman panas yang dia lakukan dengan EL, dia berjanji akan melupakan Michel mulai sekarang dan akan berusaha menghadapi masa depan tanpa michel Bersama EL pria muda yang baru memasuki hatinya beberapa bulan ini.


 

__ADS_1


Kepala EL rasanya siap pecah ketika ia menerima gestur yang tidak terduga dari Olivia. Dalam dekapannya ia bisa merasakan getaran tubuh wanita yang sekarang memeluknya, ciumannya yang ragu-ragu terasa terlalu indah untuk menjadi nyata, cara Olivia menariknya lebih dekat dan tekanan pada tengkuknya saat ciuman mereka semakin dalam—serta hangatnya air mata wanita itu yang kini bisa dirasakan EL pada wajahnya sendiri.


 


Malam itu, Olivia akhirnya berbagi kepedihannya pada EL. Meskipun rasa bingung mendominasi pikiran pria itu sekarang, EL rela. Ia rela dimanfaatkan oleh wanita ini, ia rela menjadi siapa pun yang Olivia inginkan malam ini, ia rela berperan sebagai orang lain yang Olivia harapkan—asalkan ia bisa melindungi wanita di pelukannya dari kepedihannya sendiri.


...🙊🙊🙊🙊🙊...


Olivia bergerak-gerak dalam tidurnya, ia mengganti posisi sambil membenamkan wajah lebih dalam lagi ke dalam permukaan lembut yang ada di bawahnya—sambil menikmati aroma maskulin samar yang tersisa di atas permukaan bantalnya. Ia menyukai kehangatan yang sekarang menyelimutinya dan jelas ia juga merasa sangat nyaman berada di atas ranjang yang super lembut ini. Penerangan di ruangan itu redup, sehingga kornea matanya tidak tersakiti ketika ia membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali sambil mengumpulkan kesadaran dan seketika saja nyeri hebat di kepalanya langsung menyerang, rasanya seperti ada yang memukulkan palu gada terus-menerus di dekat lehernya dan ia perlu mengedip beberapa kali untuk mempelajari ruangan tempatnya bagun.


 


Matanya berjalan dari jendela besar di sisi kiri ruangan ke arah langit-langit yang terbuat dari kayu di atasnya, kemudian perhatiannya berpindah pada kamar yang agak berantakan ini, baru akhirnya ia tersentak sadar bahwa ia tidak sedang di dalam kamarnya sendiri. Dengan cepat Olivia mengangkat tubuhnya—yang berefek pada denyutan lebih hebat lagi pada kepalanya—dan wanita itu segera mengerang kesakitan.


 


“Kakak sudah benar-benar bangun?” tanya EL dengan wajah datarnya.


“Berhenti bicara keras-keras, kepalaku pusing.” Olivia menutup kedua telinganya, usianya tidak bisa lagi berbohong karena semakin bertambah tua, toleransi Olivia terhadap efek hang-over semakin payah.


 Walaupun ada raut marah dan kecewa tapi ada juga raut khawatir dari wajah EL, pria itu mendekat ke arah olivia, duduk disebelah wanita itu tidur, dan memegang kening wanita itu.


“Demam-mu sudah turun, syukurlah. Tubuhmu panas sekali semalam, nyaris saja aku bawa kau ke rumah sakit.” Sebuah senyuman lembut muncul dari wajah datar EL.


Meskipun saat ini Olivia sedang dalam transisi hang-over, perlahan ia bisa mencerna situasi yang terjadi saat ini. Ia ingat bahwa mereka pergi ke pantai kemarin dan ia juga ingat aksi minum-minum ceroboh yang memang kelewat batas, hanya saja sekarang Olivia kesulitan mengingat serpihan-serpihan kejadian malam kemarin yang masih samar-samar muncul di memorinya.


 

__ADS_1


“Tunggu, aku ada di mana?” Olivia menepis tangan EL yang masih di dahinya dengan pelan.


 


“Tempatku.”


Olivia bernafas lega saat EL mengatakan itu, dia takut el akan membawanya ke hotel atau penginapan, akan timbul masalah baru lagi jika mereka menginap di luar.


Baru saja Olivia bernafas lega, namun terjadi kepanikan berikutnya setelah ia ingat sesuatu, wanita itu menunduk dan melihat apa yang ia kenakan.


“Apa ini?” Olivia menarik sweater hijau tebal yang sekarang membungkus tubuhnya. Dengan segera, ia menyingkap selimut yang menutupinya untuk melihat kondisi tubuh bagian bawahnya dan segera meringis ketika ia sadar bahwa pakaian yang dikenakannya hanyalah sweater itu dan pakaian dalamnya saja.


 


“Gaunmu basah-kuyup, aku tidak mau kau semakin demam, jadi…”


 


Olivia memukul pipinya sendiri dengan kasar sebelum akhirnya ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan. “Apakah kau…” ia mencoba mencari kata-kata yang tepat, tapi tidak berhasil menemukannya. “Gaunku, apakah kau… ehm, kau…”


 


“Aku menggantikannya untukmu? Iya.” EL mengakui perbuatannya saat olivia tidak sadarkan diri. “Aku tidak bisa membiarkanmu tidur dalam gaun basah itu, kau sudah sangat kedinginan kemarin dan kau demam. Aku tidak bisa mengambil resiko yang mengakibatkan kondisimu menjadi lebih buruk, Kak.”


 


Olivia meremas selimut di genggamannya dan segera menarik benda itu untuk menutup seluruh wajahnya sambil ia menghempaskan tubuh kembali ke bantal, disusul dengan raungan dari balik selimutnya. “Apa kau melihat semuanya?” Ujarnya sambil masih bersembunyi untuk menutupi rasa malunya.

__ADS_1


...🙈🙈🙈🙈🙈...


__ADS_2