
El mulai berjalan di sekitar pesawat sambil melihat kiri kanan, wajah datar namun tampan dari el sedikit menarik perhatian. Ada beberapa wanita yang melihatnya langsung melayangkan senyuman dan kedipan mata ada beberapa yang langsung minta berkenalan.
Ingin rasanya El pindah pesawat, dia tidak suka naik pesawat komersil karena selalu mendapat godaan dari para wanita perihal wajah tampannya.
Langkah El berhenti saat matanya berhasil menangkap sosok Olivia, gadis itu tidak sadar El berjalan melewatinya dia sibuk menggunakan ponselnya yang berhasil dia charge sebentar, begitu dia menghidupkan ponsel banyak pesan masuk dari pekerjaannya dan beberapa hal lainnya masalah pekerjaan, jadi dia tidak sadar El telah melihatnya.
El sendiri sedikit kesal karena Olivia tidak menyadari kehadiran dirinya dan tadi dia sempat melihat sekilas yang mengirim pesan adalah salah satu dosen pria yang ada di kampusnya, memang tidak terlihat isi pesan itu karena EL hanya melintas dengan cepat.
El baru saja jalan tiga Langkah menjauhi kursi Olivia, tapi pria itu kembali beralih mendekati kursi Olivia, rasa penasaran kenapa Olivia bisa ada di pesawat itu dan hanya pergi beberapa jam membuat EL kalah dengan sikap cool yang biasa dia tunjukkan.
“Ehem” deham El yang sudah berdiri di samping olivia.
Olivia sudah menurunkan ponselnya, dia masih belum sadar dengan dehaman El.
“Ehem” deham El sekali lagi, kali ini Olivia mulai terpengaruh dengan suara seseorang yang berada disebelahnya, matanya sedikit melotot begitu melihat EL berdiri di sebelah kursinya.
“E-EL?” tanpa sadar gadis itu menggumamkan nama EL.
El melihat kursi ekonomi yang di duduki Olivia, tidak ada tempat untuk dia duduk, “ikut aku” tanpa menunggu jawaban Olivia El menarik tangan Olivia untuk mengikutinya, untung saja Olivia pergi hanya membawa sebuah tas, jadi dia tidak membawa koper atau tas besar apapun, dia saja mandi dan menggunakan baju yang sama dengan baju yang dia kenakan semalam.
El membawa Olivia ke kursi V.I.P dimana dia duduk. “Jack pindah ke kursi Olivia” perintah EL begitu sampai di kursinya.
Jack hanya bisa pasrah ketika kursi mewahnya harus digantikan dengan kursi ekonomi yang dipesan oleh Olivia.
Setelah Jack pergi baru olivia duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Jack.
.
__ADS_1
Olivia terlihat canggung setelah dia bertemu langsung dengan El, padahal semalah dia begitu gegabah untuk terbang menemui El, sekarang sudah ada dihadapan El nyali gadis itu langsung menciut.
El sendiri masih diam dengan wajah cool nya. Dia masih menunggu Olivia yang membuka Obrolan.
‘1 menit’ berlalu tanpa suara dan hanya keheningan.
‘2 menit’ berlalu masih dengan keheningan yang sama.
Pada menit yang ke-tiga El tidak dapat menahan diri lagi, Olivia mungkin akan tetap diam jika dia tidak mengeluarkan suara.
“Ada apa kakak ke kota tempat tinggalku?” El akhirnya mengalah untuk memulai pembicaraan duluan.
“Ahhh i-itu_” olivia diam dia kini mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan yang El kirimkan padanya. “katanya akan menunggu jawaban dariku, kenapa tiba-tiba mengirim ini?”
El membaca pesan yang berasal dari dirinya, tangan pria itu dengan cepat merampas ponsel milik Olivia dan membaca ulang pesan yang dia kirimkan.
“Aku akan melakukan apapun dalam batas kemampuanku untuk menggambar ekspresi ini di wajahmu, untuk melihat senyum hangatmu yang indah serta berada di sisimu dan membuat hidup kita bermakna. Tapi aku terlalu congkak bukan, setelah seminggu berfikir aku akhirnya sadar, aku tidak akan pernah bisa menjadi pria yang pantas mendampingimu. Jadi biar kuucapkan perpisahanku dengan cara ini. Selamat tinggal, Olivia, aku mendoakan yang terbaik dalam hidupmu. Sebuah kehormatan bagiku untuk pernah dibimbing oleh orang seperti dirimu-wanita paling hebat yang pernah kukenal.”
“Ini prank kan?” akhirnya El bertanya pada Olivia.
“Prank apa?” tanya balik Olivia. “justru aku datang kesini karena mau meminta kamu menjelaskan isi pesan itu padaku, tapi setelah aku sampai di sini aku tidak tau alamat rumahmu, saat aku mau melelpon ponselku mati, aku baru bisa menghidupkan ponsel saat tadi meminjam cas dari orang lain walau hanya untuk sebentar ponsel itu akhirnya hidup, tapi karena sudah waktunya keberangkatan, aku jadi memilih tidak menghubungimu” ungkap olivia panjang lebar.
El memiringkan kepalanya dan kembali mengernyitkan kening. “jadi kakak datang ke sini hanya untuk konfirmasi kenapa aku mengatakan itu?”
Dengn polosnya Olivia menganggukkan kepala.
Senyum El langsung merekah dari bibirnya, “bukan aku yang mengirim pesan itu, mungkin Al” ucap EL.
__ADS_1
“apa?! Bagaimana bisa dia membuka ponselmu? Dia tau password ponsel milikmu?”
“mudah baginya untuk membuka tanpa password, lagi pula wajah kami sama, aku terlalu malas menggunakan scan sidik jari jadi aku menggunakan kode wajah untuk membuka ponsel, aku yakin dia bisa dengan mudah membukanya” jelas EL.
“A-apa?! Jadi Al lagi?” pekik Olivia tidak percaya, sudah dua kali Al membuat dirinya salah sangka dengan El.
Sementara itu El hanya mengedikkan bahu dan kembali menyandarkan tubuhnya, “hmmm mungkiin, tapi pastinya bukan aku, jadi kakak ke sini hanya bertanya itu?” tanya El tanpa menatap wajah Olivia.
“iya” jawab olivia singkat, dia sudah terlalu malu untuk mengatakan niat sebenarnya, apakah dia terlihat seperti wanita murahan karena mengejar El sampai datang ke kota tempat El tinggal.
Kembali keheningan terjadi di kursi El dan olivia.
“aku melihatnya” gumam El tiba-tiba.
Kepala Olivia menoleh untuk mencerna ucapan El, “melihat apa?”
“aku meretas cctv yang ada di restoran tempat kalian makan malam untuk yang terakhir kali, dia betul betul pahlawan ya” El tersenyum sedih.
El tidak sengaja iseng untuk menggali sisi tergelap dari internet dan ia menyaksikan footage tragedi mengenaskan yang benar-benar disesalinya. Dari video yang baru ia akses dengan skillhacking-nya yang tinggi, El telah menyaksikan rekaman CCTV dari restoran tempat Olivia dan MIchel makan malam saat pembunuhan masal itu terjadi.
Saat itu Al ada di sebelahnya dan El mulai menceritakan masalah dirinya dengan Olivia, itu pertama kalinya dalam hidup El untuk bercerita masalah percintaan pada Al, dan yang terjadi Al malah mengerjai dirinya dengan mengirimkan pesan pada Olivia.
Olivia terdiam, kini tangannya meremas baju yang dia kenakan, kenangan pahit itu kembali muncul dalam ingatannya, mata olivia terpejam dan dia semakin mengeratkan genggaman pada bajunya.
Tiba-tiba ketakutan yang tadi muncul langsung sirna begitu Olivia merasakan tangan seseorang menyentuh tangannya, mata gadis itu terbuka dan kini Olivia melihat tangan besar El sedang menggenggam tangan olivia yang bergetar.
... 🦁🦁🦁🦁🦁...
__ADS_1
bonus pict