
“Maafkan aku, seharusnya aku tidak benar-benar tidak bisa sejauh itu. Aku hanya—ng…” Ia membanting punggung ke sandaran sofa di belakangnya sambil menutup wajahnya yang sama panas dengan wajah Olivia dengan kedua tangannya. “Aku—aku, maafkan aku EL”.
Olivia meraih bantal sofa di belakangnya utuk dipeluk, sebagai penawar dari keinginannya untuk memeluk EL.
EL memandang Olivia sekilas dari ekor matanya, “Ap akita akan tetap seperti ini terus tanpa ada kejelasan?” Tanyanya setengah berharap.
Olivia menatap mata El yang terlihat kecewa, “Maaf EL aku butuh waktu” lirih Olivia.
Pria itu menghela napas sebelum ia membalik posisi duduknya untuk kembali menatap Olivia “Berapa lama? Apa sampai aku dijodohkan dengan orang lain atau sampai kakak menemukan pengganti yang bisa menemani kakak seperti sekarang? Kita sudah lebih dari bulan untuk saling mengenal, waktu seperti apa lagi yang kakak inginkan? Setidaknya jawab apakah kakak mau menerimaku?”
Olivia menahan napasnya sambil memikirkan jawaban terbaik dari pertanyaan EL. Memang hatinya sudah hampir 80 persen dimiliki oleh El, tapi rasa bersalah pada michel masih ada, apakah dia berhak bahagia atas hidup yang diberikan Michel padanya, apa michel membolehkan dia memiliki orang lain dalam hidupnya? Tanpa sadar Olivia menggigit bibirnya sangking seriusnya berpikir.
“Kak, aku masih menunggu jawabanmu, dan kumohon berhentilah menggigit bibirmu. Aku bisa gila melihatnya.” Ujarnya lembut sambil menyelipkan rambut Olivia ke belakang telinganya.
“A—aku bingung, EL” Akhirnya Olivia mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya, tidak lagi mencoba terdengar pintar di depan pria ini.
“Ng?”
“Kau mahasiswaku, menurut kode etik, kita ini adalah mahasiswa dan dosen, tidak layak seorang dosen menikah dengan mahasiswanya, jika mahasiswa itu wanita dan dosennya pria mungkin itu wajar tapi kita kebalikannya, akan banyak pandangan negative atas hubungan kita belum lagi penolakan dari kedua orang tuamu, aku tidak sanggup menerima semua itu”
“Jika aku bukan mahasiswamu, apakah kau akan memberikan jawaban berdasarkan kata hatimu?” Tanya EL tanpa basa-basi.
“maksudnya?”
“Menjadi sepasang suami istri?” ulang EL.
Olivia tersenyum sambil mengalihkan pandangannya dari EL, dalam hati ia benar-benar berharap kalau ia bisa sesantai pria itu dalam menyikapi segala sesuatu. “Tidak mudah EL..”
“setidaknya berikan aku jawaban apakah kakak mau menikah denganku atau tidak hanya itu aku tidak meminta besok kita menikah atau lusa kita menikah aku hanya ingin memastikan bahwa hubungan ini bisa aku bawa sampai kita tua bersama, hilangkan semua kode etik umur atau apalah yang menahan perasaan kakak, tolong berikan aku jawaban, atau ini masih karena pria itu, pria yang sudah terkubur di dalam tanah dan masih menahanmu untuk menjawabku?” EL memberondong Olivia dengan banyak pertanyaan yang selama ini bertengger di kepalanya.
__ADS_1
Pandangan wanita itu kembali meredup, dengan Bahasa tubuh yang sudah dihafal EL, Olivia lagi-lagi memeluk dirinya sendiri. “Aku—maksudku pria itu…”
EL tersenyum kecut, “Sudah kuduga, memang aku tidak ada apa-apanya dibanding pria sempurna itu, bukan?”
Olivia tidak mampu berkata apapun, ia hanya menutup kedua matanya sambil mengalihkan tatapan dari EL, mengkonfirmasi dugaan pria itu dengan bahasa tubuhnya.
“EL, aku tidak mau menempatkanmu dalam posisi suliit.” Jelasnya, “Aku sendiri sedang bingung dengan seluruh kekacauan ini, aku—“
“Kau sudah menempatkanku di posisi itu, Kak.” Jawab EL tajam.
“Aku tahu.” Lagi-lagi pria itu rasanya ingin menyobek jantungnya sendiri hanya untuk menghapus rasa sakit di hatinya.
“EL…” Olivia mengulurkan tangannya.
“Jangan-sentuh-aku.” Pinta EL, ia memandang Olivia dengan tatapan menusuk yang sinis.
__ADS_1
Wanita itu langsung tertunduk, merasa serba salah dengan situasi mereka sekarang. “Maafkan aku.”
EL bangkit dari duduknya lengkap dengan ekspresi marah yang gagal disembunyikan. “Ya, aku juga minta maaf Kak. Seharusnya aku lebih tahu diri, kau hanya ingin memanfaatkanku, sebenarnya aku tidak peduli kakak menganggapku adalah dirinya, tapi mendengar jawaban kakak sekarang aku tau hubungan kit aini seperti apa”
Pria itu tidak memberi Olivia kesempatan untuk membalasnya, dengan cepat EL langsung meraih tas dan beberapa barangnya yang bisa dia ambil, setelah itu pergi dari apartemen milik Olivia. Ia tahu bahwa hatinya akan semakin terluka jika ia berdiam diri lebih lama lagi. EL tidak bisa egois dan menuntut Olivia untuk menerima dirinya, sedangkan nama michel masih bertengger di dalam hati Olivia. El belum mampu menghapus sepenuhnya, EL tau Olivia membutuhkan waktu lebih lama untuk menghapus nama itu dari hati Olivia, sementara El terus didesak oleh mommy nya untuk mencari pendamping hidup, Mommy ara sudah berkali kali menelpon El untuk pulang dan berkenalan dengan beberapa anak temannya, EL pusing dengan desakkan itu makanya dia memaksa olivia, dan ternyata carap ria itu salah, EL akan memberikan waktu sebanyak yang wanita itu mau, bukan berarti EL menyerah dia akan membuat wanita itu tidak bisa jauh darinya.
...🦈🦈🦈🦈🦈...
“Pulang sekarang EL, Ay sudah melahirkan” Ucap Al pada El dari seberang telepon.
“Iya aku akan pulang” jawab EL, suara pria itu terdengar tidak bersemangat.
“Ada apa? Kau sedang ada masalah?” tanya Al khawatir.
“tidak apa, aku tutup ya, aku akan bersiap siap sekarang” EL langsung menutup telepon tanpa menunggu Al menjawab pernyataannya, karena memang itu sekedar peringatan bukan pertanyaan.
EL menghela nafas panjang menatap koper yang sudah dia persiapkan, dia tau adik kembarnya akan melahirkan dan pasti dia harus pulang saat Adiknya melahirkan maka dari itu El sudah menyiapkan segala keperluannya, awalnya El ingin mengajak Olivia biar sekalian mau menemani dirinya dan juga berkenalan dengan kedua orang tuanya, El sudah siap dengan segala resiko penolakan, dia akan berusaha untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
‘Tok tok tok’ Ketukan di pintu membuyarkan lamunan EL, dia segera berjalan membuka pintu berharap Olivia yang berada di depan pintunya.
“Tuan muda, sudah waktunya berangkat, apa ada yang bisa saya bantu?” ujar asisten El.
EL menggeleng dan menunjuk koper besar yang sudah dia persiapkan, “bawa saja itu untuk turun, aku akan menyusul sebentar lagi” ujar EL.
Pria itu memperhatikan asistennya yang menghilang dari balik lift setelah tu El berjalan mendekati pintu apartemen olivia.
Tangan EL hendak mengetuk pintu apartemen milik Olivia, namun terhenti, El ingin gadis itu merenungi kesalahannya hingga membuat El marah padanya.
“Maafkan aku, pergi tanpa memberitahumu, semoga kamu tidak mimpi buruk” gumam EL pelan, ia menyelipkan sebuah note dan menyelipkannya pada bawah pintu apartemen Olivia, setelah itu El benar-benar pergi meninggalkan Olivia sendirian, EL ingin gadis itu kembali merenungi perbuatannya.
__ADS_1
...🐺🐺🐺🐺🐺...