
“Aduhhh duhh sakit kak” rengek El, saat Olivia menempelkan obat merah pada tangannya, padahal tadi saat pertama di kompres dan diberi obat merah El masih bersikap biasa saja. Tapi setelah Olivia mengamuk El tiba-tiba mengatakan sakit.
Olivia berhenti dan menatap El dengan curiga, “ini benaran sakit atau Cuma acting?” selidik olivia.
“Ya ampun kak, coba lihat itu tangan El bengkak dan memerah, masih bilang acting?” bohong El dengan lancar, tangannya memang merah dan membengkak tapi sakit seperti itu mampu El tahan, dia sudah sering digebuki oleh anak buah daddy nya saat berlatih, el bahkan pernah pendarahan di perut karena anak buah daddy deon tidak pernah mengalah jika berlatih tanding.
Olivia akhirnya kembali mengobati luka pada tangan El.
“Kak, masih gak mau bilang?” tanya El lagi, tapi olivia tetap diam tidak menjawab. “aku sudah memotar otakku, apa kemarin aku telah menyinggung salah satu teman kakak yang ada di supermarket?” tebak el, karena olivia terus berdiam diri.
“Bukan” jawab singkat olivia.
“Kalau gitu aku salah buang sampah kakak ya? Aku Cuma ambil plastic yang mau kakak buang kok” ucap el pelan.
Olivia berusaha menahan senyum dan tawanya saat melihat wajah menyesal El yang menatapnya.
“Bukan” jawab olivia lagi, tapi kali ini dengan menunduk karena dia berusaha menahan senyumnya.
“Apa aku lupa mengucapkan terima kasih setelah kakak menolongku?” tebak El lagi.
Olivia masih menunduk menahan tawa, mulutnya tidak dapat berucap, karena dia yakin jika dia bersuara maka suara, maka akan ketahuan jika dia tertawa.
“Ahhh~ gak jawab lagi, emang el salah apa sih kak? El minta maaf jika ada perbuatan el yang membuat kakak marah”ujar el dengan lesu.
“hmm” lagi-lagi Olivia hanya menjawab dengan singkat. “Dah selesai” ucapnya setelah dia bisa mengontrol dirinya untuk tidak tertawa.
“Hari ini selesai, tapi besok gimana? Ini sakit loh kak, kakak harus tanggung jawab” ucap El sambil meringis.
“kan ini juga kesalahanmu, coba kalau kamu tidak menahanku, pasti aku tidak menggigit” bantah Olivia.
“Coba kakak kasih tau apa masalahnya aku pasti lepaskan, kakak sih senggol bacok, lagi kedatangan tamu bulanan ya kak?” tebak El.
Olivia tidak dapat menahan senyumnya lagi, dia tertawa pelan sambil membuang mukanya kearah lain.
“Benar ya?” El senang karena dia merasa benar.
“Bukan” ucap olivia tegas.
“Jadi apaan dong, kakak udah gak mau kasih tau masalahnya apa, dan ini” El mengangkat tangannya yang diperban, “masih sakit kak, harus tanggung jawab loh, sampai sembuh” ucap el.
“iya-iya, kalau udah sembuh kau harus menjauh dariku” ketus Olivia.
“Oke, akan aku cari tau sampai aku sembuh” ucap el semangat. “kak ada makanan gak?” kekeh El.
__ADS_1
“kenapa?”
“aku belum makan dari tadi siang, soalnya tangan sakit buat digerakkan” lirih El, sebenarnya El berbohong, dia hanya ingin lebih lama bersama dengan olivia, tapi mengenai dirinya yang lapar itu memang benar, dia belum ada makan sejak siang, karena sibuk memikirkan salah dirinya pada Olivia.
Olivia menatap tangan el yang memang membengkak, dia akhirnya menghela napas panjang, “ayo ikut” ajak olivia.
El segera mengekori wanita dewasa itu menuju dapur olivia.
“Duduk aja bentar aku akan memasak nasi goreng” ucap Olivia.
El segera duduk dan memperhatikan olivia yang sangat lincah mengiris bawang, memotong dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.
‘Deg deg deg’ el memegangi jantungnya yang berdetak cepat, “ap aini yang namanya jatuh cinta?” batin El pada dirinya sendiri, dia belum pernah jatuh cinta sekalipun, dia bahkan belum pernah dekat dan berbicara banyak dengan wanita selain dengan Ay saudara kembarnya dan mommy ara.
“kamu alergi seafood?” Tanya Olivia.
El masih diam menatap Olivia, dia masih terbius dengan kecantikan wanita itu.
“Woiii!” pekik Olivia, karena dia belum tau nama el makanya hanya bisa berteriak seperti itu.
“ahh? Apa kak?” ucap el setelah sadar karena bentakan Olivia.
“Alergi seafood?” ulang olivia.
.
Hanya butuh waktu sekitar 15 menit nasi goreng seafood sudah jadi, dan El terlihat rakus ketika memakan nasi goreng itu.
“apadia benaran kelaparan gara-gara tangannya ya?” batin Olivia saat melihat el makan.
“Enak kak” puji el dengan senyuman mempesonanya.
‘deg deg deg’ kali ini bukan el yang terpesona, melainkan Olivia yang terpesona dengan remaja 18 tahun itu.
“kalau udah makan, sana pulang” usir Olivia.
“jahat banget main usir-usir, ini masih sakit loh kak” El kembali memperlihatkan senjata ampuhnya untuk membuat Olivia mengalah padanya.
“Terus mau apa lagi disini? Mau tidur disini?” ucap olivia asal.
“kalau boleh mau kak” jawab el cepat.
‘Tak’ Olivia menyentik kening El dengan kuat, “enak aja! Gak boleh!” gerutu olivia.
__ADS_1
“sakit kak, bisa kena pasal penganiayaan berlapis ini” keluh el sambil mengusap keningnya.
...🦁🦁🦁🦁🦁...
Pagi harinya, el manatap dirinya didepan cermin, tidak biasanya pria itu berdandan sangat tampan dan memakai parfume yang sangat wangi, tangan nya yang diperban sebenarnya sudah mulai sembuh tapi dia malah membenturkan tangan itu dengan sengaja pada dinding kamar, “hanya sekali aja, takut nanti diperiksa jika berbohong” kekeh El pada tangannya yang kembali membengkak setelah di bogem ke dinding.
.
El keluar dari apartemennya hendak menuju apartemen Olivia, entah kenapa pria itu suka melihat wajah olivia yang menggerutu sebal, baru saja dia mau mengetuk pintu, pintu itu terbuka dan tampak lah olivia di depan pintu.
“Ada apa?” gerutu olivia saat melihat El di depan pintunya.
“kakak ada hairdryer? Liat rambutku masih basah kak” el menunjuk rambutnya yang basah dan mengangkat tangannya yang terluka, lalu memperlihatkan wajah memelas.
Olivia menghela nafas panjang, “ya udah cepat masuk” perintahnya.
Diam-diam El bersorak gembira karena berhasil menipu Olivia sekali lagi.
“Kak ini mau kemana?” tanya el heran saat Olivia berjalan ke sebuah pintu.
“kamar” jawab singkat olivia tanpa menolehkan wajahnya pada El.
El melototkan matanya terkejut.
“kak, kok gak ada waspadanya sih, aku ini cowok loh” tegur El.
Olivia berjalan mengambil Hairdyer nya dan duduk di kasurnya, “emang kenapa, udah sini anak kecil” Olivia menepuk tempat tidur nya dengan sebelah tangan dan sebelah lagi memegang hairdryer.
“Aku udah 18 tahun kak, dan aku cowok” ujar El tapi dia masih duduk ditempat yang diperintah Olivia.
“aku 24 tahun dan kamu itu hanya mahasiswaku, sama seperti adikku” celetuk Olivia, dia mulai mengeringkan rambut el, dengan hairdryer yang dia punya.
“Kali ini aku kasih ampun kalau lain kali aku gak akan kasih ampun kak” ucap el.
“Emang siapa yang minta ampun, dasar anak kecil” ledek Olivia.
...🐻🐻🐻🐻🐻...
bonus pict
__ADS_1