Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
86. Amukan


__ADS_3

Setelah beberapa hari El pulang dengan membawa banyak hadiah untuk kekasihnya, Langkah kaki pria itu dipercepat begitu mendekati apartemen milik Olivia.


“DASAR KAU PELACUR TIDAK TAHU MALU! KAU SEHARUSNYA MATI!! KALAU BUKAN KARENA KAU!!” Seorang wanita berteriak kencang disusul dengan bunyi pecahan gelas terdengar dari dalam apartemen milik Olivia.


“Ma… maaf” suara tangisan Olivia terdengar begitu menyakitkan.


“HAL ITU TIDAK AKAN TERJADI KALAU DIA TIDAK MENGIKUTIMU KE PARIS! DAU KAU, KAU BERANI MENUJUKKAN WAJAHMU DI NEGARA INI SETELAH APA YANG TERJADI! DASAR TIDAK TAHU MALU!!”


 


Suara pecahan beling berikutnya kembali terdengar, EL mulai panik dia semakin mempercepat Langkah kakinya.


Mata EL tidak percaya melihat Olivia sedang berlutut pasrah di atas lantai apartemennya. Tatapan gadis itu mengarah pada kedua tangan yang terkepal di atas paha. Ia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun pada wanita paruh baya yang sekarang ada di hadapannya, Olivia juga tidak mampu menatap mata wanita itu, ia sadar bahwa semua yang terjadi memang kesalahannya—kesalahan yang menyebabkan ibu Michel sekarang sibuk memporak-porandakan rumahnya. Satu hal yang bisa dilakukan Olivia hanyalah menangis; menangis karena rasa bersalah, menangis karena ia tidak bisa berbuat apa-apa, menangis karena tidak ada penjelasan yang logis untuk diberikan pada wanita yang sedang murka di depannya—memang salahnya-lah Michel meninggal.


 


“KAU MASIH BERNAPAS SEKARANG KARENA DIA, DASAR WANITA ******!!” Wanita paruh baya itu tetap berteriak pada Olivia sambil membanting beberapa benda yang ada di dekatnya.


 


“Hukum aku, ma. Aku pantas mendapatkannya”.


Ibu Michel menunduk sedikit untuk mendekati wajah Olivia yang masih tertunduk, dengan seluruh emosinya ia melayangkan tamparan pertama ke wajah Olivia.


 

__ADS_1


“LALU APA EFEKNYA KALAU AKU MENGHUKUMMU?!! APA ITU BISA MENGHIDUPKANNYA KEMBALI?” Wanita itu menumpahkan rasa frustrasinya dengan memukulkan handbag di tangannya berkali-kali ke tubuh kurus Olivia. “KAU-MEMBUNUH-ANAKKU!”


 


Olivia menerima semua pukulan dari Ibu Michel tanpa perlawanan dan sejujurnya ia tidak berani untuk mengelak atau membela dirinya sama sekali, dalam pikiranya Olivia percaya bahwa dosanya pada wanita ini akan berkurang jika ia sudah habis disakiti secara fisik, hanya dengan cara ini Olivia berharap mendapat pengampunan dari wanita yang juga mengalami kehilangan yang sama dengan dirinya. Sayangnya, sikap Olivia yang terkesan pasif justru membuat Ibu Michel semakin murka. Wanita itu sudah sangat putus asa, dan Olivia adalah satu-satunya saksi hidup yang melewati detik-detik terakhir kehidupan anaknya—anaknya yang mati konyol saat melindungi kekasihnya. Ibu Michel tidak membutuhkan penjelasan maupun akal sehat, ia hanya perlu seseorang untuk disalahkan atas tragedi naas itu dan Olivia adalah sasaran empuk yang nyata baginya.


Level frustrasi Ibu Michel sudah mengapai ambangnya, apalagi melihat Olivia yang masih saja tertunduk diam di depannya. Wanita paruh baya itu berharap Olivia akan bersujud meminta maaf padanya, berharap Olivia berkata kalau ia menyesali tragedi yang menimpa putra semata wayangnya, berharap calon menantunya itu setidaknya punya sedikit rasa penyesalan atas kejadiaan naas itu. Tapi Olivia tak bergeming, dan Ibu Michel ingin melihat wanita muda itu memohon. Tadi saat tidak sengaja bertemu ibu michel langsung mengikuti Olivia hingga sampai di apartemen milik Olivia, pertemuan setelah 2 tahun tidak bertemu, ibu michel tinggal di Indonesia karena wanita itu sudah bercerai dengan suaminya dan Michel memilih bekerja di luar negri.


 


Pukulan handbag yang bertubi-tubi nampaknya belum cukup menyakiti Olivia, maka Ibu Michel mulai mencari benda lain untuk menyakitinya. Mata ibu Michel menangkap perabotan beling yang masih ada di atas meja makan Olivia, bekas piring, gelas dan botol minuman kaca yang belum sempat dibereskannya tadi. Dengan kemarahan yang semakin menjadi, Ibu Michel meraih piring makan di meja itu kemudian langsung membantingnya tepat di samping tubuh Olivia, berharap hal ini bisa menambah rasa takut dalam diri tunangan anaknya itu. Beberapa pecahan beling menyentuh kulit Olivia, tapi wanita itu tetap saja tidak bergerak dari tempatnya.


 


 


Kesabaran ibu Michel sudah habis. Rasa sakit mendalam akan kehilangan anak lelakinya yang sempurna telah membutakan matanya. Ia tidak peduli jika ia harus mengotori tangannya sendiri untuk mendapatkan kata maaf dari Olivia, ia hanya ingin wanita muda di hadapannya menunjukkan sedikit saja rasa penyesalan dari tragedi sadis itu dan akhirnya wanita itu membiarkan setan dalam dirinya mengambil alih—ia tidak lagi peduli jika ia harus menghabisi nyawa Olivia sekarang.


 


Meskipun Olivia masih tertunduk pasrah, dari sudut matanya ia bisa melihat takdir yang akan segera menjemputnya. Ibu Michel mengambil botol minuman beling yang ada di meja makan, dengan segenap tenaga yang tersisa, wanita paruh baya itu mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan botol tersebut ke tubuh Olivia.


 


Olivia menutup matanya rapat, dalam hati ia mengkalkulasikan kekuatan yang akan muncul dari gaya sentrifugal botol yang akan dilayangkan pada dirinya—lebih tepatnya pada kepalanya. Wanita itu menarik napas dalam “maaf EL” batin Olivia, saat deru angin yang beririsan dengan permukaan botol terdengar samar dan detik berikutnya ia mendengar suara pecahan kaca yang keras dari arah kirinya. Anehnya, ia tidak merasa kesakitan dari benturan itu.

__ADS_1


 


Wanita muda itu membuka mata, mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya dan hatinya mencelos saat ia melihat EL yang saat ini sudah berlutut di sampingnya, pria itu tengah melindungi sisi kepala Olivia. Barusan saja, pria itu menangkis serangan botol itu dengan lengan kirinya.


 


Memukul satu kali belum cukup bagi Ibu Michel, apalagi setelah ia melihat kehadiaran seorang pria yang tiba-tiba datang untuk melindungi Olivia. Bagaimana mungkin wanita di hadapannya sudah memiliki kekasih, memang kematian putranya sudah 2 tahun berlalu tapi ibu michel masih berharap putranya masih dicintai oleh Olivia, bagaimana perasaan putranya melihat gadis itu sudah menghapus namanya dari hati Olivia. Anak kesayangannya tewas melindungi wanita tidak tahu terima kasih yang berlutut di depannya dan sekarang wanita itu justru sudah menemukan pria lain. Kehadiran EL di tengah ruang makan Olivia telah memperburuk suasana hati ibu Michel, dan sekarang ia memutuskan untuk melanjutkan aksinya pada target yang baru muncul.


 


Wanita paruh baya itu kembali melayangkan botol yang sudah pecah setengahnya kembali ke arah EL; sekali, dua kali, dan seterusnya. Pada pukulan kesekian akhirnya nyonya Choi berhasil melukai EL, pecahan gelas tajam pada ujung botol sukses menyobek kulit pria itu. Olivia tidak lagi bisa tinggal diam saat dilihatnya darah segar mulai menetes dari lengan bagian atas EL.


 


Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Olivia melempar dirinya ke arah Nyonya Choi. Kedua lengannya memeluk tubuh ibu Michel seerat mungkin sambil ia berusaha untuk melemaskan genggaman Nyonya Choi pada sisa-sisa botol kaca yang masih dipegangnya. Olivia tidak peduli jika ia harus terluka sekarang, asalkan EL selamat dari amukan wanita di pelukannya.


 


“Ma, kumohon berhentilah. Kumohon Ma jangan sakiti dia. Ini salahku! Aku yang harus kau hukum. Pria ini tidak tahu apa-apa, kumohon berhenti menyakitinya.” Tangisan Olivia pecah.


 


Ia sudah kehilangan satu pria hebat dalam hidupnya, pria itu tewas karena melindunginya. Jelas ia tidak membutuhkan volentir lain untuk membuat beban hidupnya semakin berat.


... 🦁🦁🦁🦁🦁...

__ADS_1


__ADS_2